Jakarta, The Stance – Ada momen tak biasa dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, Jakarta, Jumat, 1 Mei 2026. Presiden Prabowo Subianto ikut melantunkan lagu legendaris gerakan buruh dunia, Internasionale, bersama ribuan massa pekerja.
Usai menyampaikan pidato, Prabowo tetap berdiri di depan mimbar didampingi pimpinan serikat buruh saat lagu diputar. Dari gerak bibirnya, ia tampak mengikuti bait pembuka: “Bangunlah kaum yang terhina, bangunlah kaum yang lapar...”.
Massa buruh yang hadir pun menyanyikan lagu yang selama lebih dari satu abad menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap penindasan. Di tengah suasana itu, Prabowo beberapa kali mengepalkan tangan kanan dan meneriakkan “Hidup Buruh” serta “Hidup Indonesia” masing-masing tiga kali.
Ini menjadi kali kedua Prabowo menyanyikan Internasionale dalam peringatan May Day, setelah sebelumnya juga melakukannya pada 2025. Lagu ini sendiri pernah dilarang pada masa Orde Baru karena identik dengan komunisme.
Umbar Janji di Hari Buruh

Kehadiran Prabowo dalam peringatan May Day 2026 sebelumnya sudah disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. Ia menyebut Presiden akan berpidato sekaligus menyanyikan lagu perjuangan bersama pimpinan serikat buruh.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyampaikan sejumlah janji terkait peningkatan kesejahteraan pekerja. Di antaranya, peningkatan pembagian pendapatan bagi pengemudi ojek online menjadi minimal 92%, program rumah subsidi bagi buruh di dekat kawasan industri, kredit rakyat dengan bunga rendah 5% serta target penyelesaian RUU Ketenagakerjaan tahun ini.
“Pembagian pendapatan dari 80% menjadi minimal 92% untuk pengemudi [ojol],” ujar Prabowo.
Sejarah Lagu Internationale

Internasionale bukan sekadar lagu, melainkan himne gerakan buruh, sosialisme, dan perlawanan anti-penindasan yang dikenal secara global. Liriknya pertama kali ditulis oleh pekerja asal Prancis, Eugène Pottier, pada 30 Juni 1871, setelah runtuhnya Komune Paris.
Awalnya dia menulis puisi berjudul L’Internationale, yangkemudian digubah menjadi lagu oleh Pierre De Geyter, seorang sosialis Belgia.
Dengan irama mars yang terinspirasi dari lagu revolusi Prancis La Marseillaise, Internasionale cepat menyebar dan dinyanyikan dalam berbagai pertemuan gerakan buruh dan sosialis di seluruh dunia.
Lagu ini pertama kali diperdengarkan secara publik pada Kongres Partai Buruh Prancis di Lille pada 1896. Popularitasnya terus meningkat, terutama setelah Revolusi Rusia 1917, ketika Internasionale dijadikan lagu kebangsaan Uni Soviet. Organisasi Komunis Internasional (Komintern) juga mengadopsinya sebagai lagu resmi.
Seiring waktu, lagu ini diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi simbol perjuangan di banyak negara, termasuk di Asia seperti Tiongkok, Korea, Vietnam, dan Indonesia.
Masuk Indonesia lewat Ki Hajar Dewantara

Di Indonesia, Internasionale memiliki sejarah yang terkait dengan tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara.
Saat masih bernama Suwardi Suryaningrat, ia menerjemahkan lagu tersebut ke dalam bahasa Melayu pada masa kolonial Hindia-Belanda.
Terjemahan itu dipublikasikan dalam tiga bait di surat kabar Sinar Hindia pada 5 Mei 1920, yang saat itu berafiliasi dengan Sarekat Islam Semarang—organisasi yang memiliki kecenderungan sosialis.
Meski menerjemahkan lagu yang identik dengan gerakan kiri, uniknya Ki Hadjar Dewantara bukan anggota organisasi komunis seperti Sarekat Islam Merah, ISDV, maupun PKI.
Penerjemahannya lebih didorong semangat anti-imperialisme, anti-kapitalisme, serta keinginan membangkitkan kesadaran nasional rakyat Hindia-Belanda.
Versi terjemahan ini kemudian banyak dinyanyikan oleh aktivis pergerakan, baik dari kalangan sosialis maupun komunis, dalam perjuangan melawan kolonialisme hingga setelah kemerdekaan.
Salah satu momen historis terjadi pada 19 Desember 1948, ketika mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin menyanyikan Internasionale sebelum dieksekusi TNI, setelah sebelumnya menyanyikan “Indonesia Raya” --Amir Sjarifoeddin didakwa membantu Pemberontakan PKI di Madiun 1948.
Berikut adalah lirik Internasionale versi saduran Ki Hadjar Dewantara yang dimuat di Sinar Hindia pada 1920:
Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar
Lenyapkan adat dan faham tua
Kita rakyat sadar! Sadar!
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita
Perjuangan penghabisan
Kumpulah melawan
Internasionale
Pasti di dunia
Dilarang di Era Orde Baru

Pada 1960, PKI merilis versi resmi terjemahan Internasionale. Namun setelah peristiwa 1965 dan naiknya Orde Baru, lagu ini dilarang karena dianggap berbau komunisme.
Selama puluhan tahun, Internasionale nyaris hilang dari ruang publik dan kurang dikenal generasi muda. Hal ini berbeda dengan era Presiden Soekarno, ketika lagu tersebut masih kerap dinyanyikan.
Soekarno sendiri pernah menegaskan bahwa Internasionale adalah lagu universal bagi kaum buruh, tanpa memandang ideologi. “Komunis atau bukan, kanan atau kiri, semuanya menyanyikan Internasionale,” katanya pada 1966.
Sejumlah analis bahkan menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang secara resmi melarang lagu ini dalam konteks politik Orde Baru.
Meski demikian, Internasionale tidak sepenuhnya hilang. Lagu ini tetap hidup di ruang-ruang terbatas seperti kampus, diskusi sejarah, dan lingkaran aktivis buruh.
Sejak era reformasi, Internasionale kembali terdengar dalam berbagai aksi mahasiswa, buruh, petani, dan kelompok marjinal lainnya. Lagu ini juga mengiringi pemakaman sastrawan Pramoedya Ananta Toer pada 2006 di TPU Karet Bivak, Jakarta, yang dihadiri ratusan pelayat.
Kini, Internasionale tetap menjadi bagian dari peringatan May Day dan aksi-aksi serikat buruh di Indonesia. Kehadirannya dalam perayaan resmi yang dihadiri Presiden menunjukkan bagaimana lagu tersebut telah melintasi batas negara, ideologi, dan zaman. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance