
Oleh Komaruddin Hidayat yang saat ini mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pers dan Zezen Zaenal Mutaqin yang saat ini menjadi pengajar di Universitas Islam International Indonesia (UIII).
Iran yang sekarang menganut Syiah Imamiyah juga tumbuh dalam tradisi minoritas yang terpinggirkan dan bahkan tertindas.
Perlu dicatat bahwa wilayah yang kini menjadi negara Iran modern baru menjadi pusat penganut Syiah pada abad ke 15, tepatnya pada Dinasti Safawiyah.
Sebelum itu tidak ada kekuatan Syiah yang terkonsentrasi karena penganut Syiah senantiasa hidup di bawah kekuasaan Arab Sunni, dari masa dinasti Umayyah hingga dinasti Abasiyah.
Sama seperti Bangsa Yahudi yang mendirikan Israel karena trauma penindasan dan Holocaust, Safawiyah juga berdiri di atas trauma peminggiran penindasan penganut Syi'ah yang terjadi sejak masa awal Islam.
Trauma tragedi Karbala pada 680 Masehi adalah fondasi penting yang membentuk kesadaran kolektif penganut Islam Syiah.
Peristiwa yang diwarnai kegagalan penduduk Kuffah untuk menolong Imam Husain (putra Imam Ali bin Abi Thalib) dari penguasa Umayyah ini adalah momen paling sentral yang mendefinisikan sejarah Islam Syiah.
Tragedi Karbala mewariskan perasaan duka, pengkhianatan, rasa malu, dan rasa bersalah yang sangat pekat dari generasi ke generasi. Ada tiga pengaruh utama tragedi Karbala ini dalam membentuk kesadaran kaum Syiah di Iran.
Pertama, masyarakat Syiah secara historis memandang diri mereka sebagai kelompok yang dikhianati, dirampas haknya, dan dipersekusi.
Peringatan Asyura

Memori tentang ketidakadilan, pengkhianatan dan kekerasan di Karbala yang terus dihidupkan lewat peringatan Asyura melahirkan simpati yang mendalam serta kecenderungan untuk selalu membela kaum yang tertindas.
Kedua, Tragedi Karbala menciptakan model budaya politik yang secara tegas mempertentangkan penguasa duniawi yang korup dan arogan dengan nilai-nilai kesalehan.
Hal ini menumbuhkan keyakinan yang mengakar bahwa otoritas sekuler pada dasarnya tidak sah, yang pada akhirnya menjadi "resep" bagi meletusnya revolusi Islam pada 1979.
Ketiga, tragedi Karbala menanamkan keyakinan bahwa berkorban nyawa (syahid) demi melawan penindasan adalah kewajiban dan kemenangan moral.
Pola pikir ini paling nyata terlihat pada Perang Iran-Irak yang secara resmi dibingkai oleh negara sebagai "Pertahanan Suci" dan pengulangan sejarah Karbala. Saddam Hussein diibaratkan sebagai tiran Yazid bin Muawiyah, raja Dinasti Umayyah saat itu.
Narasi ini berhasil memicu gelombang ratusan ribu relawan yang bertekad untuk bertempur mempertaruhkan nyawa, dengan keyakinan bahwa bertahan membela kebenaran layaknya pasukan Imam Husein adalah tujuan yang paling mulia.
Pelajaran dari Iran

Secara ekonomi dan keamanan, akan lebih menguntungkan bagi Iran untuk bersekutu dan tunduk pada Amerika. Sikap itu juga yang diambil negara-negara Arab Teluk (GCC).
Tapi orang yang mengharapkan Iran akan melakukan itu hanyalah orang yang tidak membaca sejarah bagaimana Iran tumbuh dan bertahan selama ribuan tahun sebagai bangsa sejak masa Persia.
Kekuatan Iran bertahan dan bahkan menang melawan Irak meski dikeroyok banyak pihak; kemampuannya untuk bangkit meski pemimpin tertinggi dan jenderalnya terbunuh oleh Amerika-Israel hanya bisa dijelaskan dengan pendekatan spiritual-historis.
Mati dalam perlawanan adalah kemuliaan, bukan sesuatu yang ditakuti. Moralitas dan spiritualitas menjadi sumbu utama kebijakan.
Dari Iran, Indonesia harus belajar bahwa bangsa harus dibangun di atas fondasi moral dan karakter yang menyejarah dan mengakar pada tradisi.
Kebijakan negara, karena itu, tidak mudah terombang-ambing kepentingan pragmatis yang sering dibungkus dengan dalih bebas-aktif. Agresi Amerika-Israel terhadap Iran telah meruntuhkan tembok dikotomis Sunni-Syiah.
Palestina yang dibela oleh Iran adalah masyarakat Sunni.
Baca Juga: Perang antara Dua Bangsa yang Terluka (Bagian 1): Luka Eksistensial Israel
Bagi Iran maslahannya bukan teologis, melainkan penindasan dan ketidakadilan yang dipertontonkan Amerika-Israel yang juga telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina yang tak bersalah.
Terbayang, ketika nantinya perang sudah berakhir, mungkin sekali Iran akan menjadi kiblat baru bagi dunia Islam untuk belajar filsafat, sains dan teknologi.
Iran akan menyambung benang sejarah pendidikan Islam yang pernah berjaya di abad pertengahan, mengibarkan bendera peradaban. (Selesai)***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance