
Oleh Didik J. Rachbini, tokoh Partai Amanat Nasional (PAN) yang pernah menjabat sebagai anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masa bakti 2004-2009. Kini menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina dan aktif sebagai ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Pasar modal terjungkal habis dan sudah mendekati krisis 2008. Dari indeks 9200 turun drastis menjadi 5900.
Ini terjadi berbulan-bulan dan sekarang masih dianggap biasa saja dan kuang ada sense of crisis terhadap keadaan. Yang jatuh parah juga saham perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) turun nilainya lebih 50% karena investor asing kabur.
Ini menandakan adanya masalah yang sangat mendalam, yakni kepercayaan investor (trust) yang jatuh ke jurang tidak mau hadir lagi di pasar kita. Substansi penting di balik angka-angka tadi adalah masalah trust, yang belum hadir di pasar.
Bank Indonesia yang bertanggung jawab pada sektor moneter sudah mengguyur pasar dan menguras devisa tapi pasar dan investor tidak bergeming. Tetap saja pasar saham jatuh dan nilai tukar tetap melemah.
Sekarang kita menyaksikan bahwa trust sudah jauh lebih penting dan lebih mendasar daripada angka.
Angka-angka pertumbuhan kita tidak terlalu buruk, begitu juga angka indikator perdagangan, tetapi karena kepercayaan jatuh, maka investor pergi.
Sebaliknya, banyak negara memiliki defisit anggaran atau utang yang tinggi, tetapi mata uangnya tetap kuat karena investor percaya pada kredibilitas pemerintah dan institusinya.
Jadi, kepercayaan harus dibangun dan harus ada sikap “sense of crisis” terhadap keadaan.
Menanti Kebijakan Konsistensi Ekonomi

Sekarang pasar menunggu, apakah kebijakan ekonomi konsisten dan bisa dipercaya tidak akan berubah-ubah serta tidak dipengaruhi kelompok-kelompok interest politik? Pasar juga berhadap fiskal mutlak dan wajib dikelola secara hati-hati.
“Getting institution right”, apakah ini dijalankan dengan benar?
Juga pasar berhadap lembaga negara yang independen bekerja dengan baik dan hadir sebagai lembaga kredibel. Yang juga dipersoalkan pasar apakah ada kepastian hukum di negeri ini dimana investasi dan hak privat dilindungi.
Jika semua masalah dari pertanyaan tadi bisa dijawab, maka kepercayaan akan hadir, pasar akan pulih, investor datang kembali, seperti era Presiden B.J. Habibie menjalankannya pada masa krisis hebat dahulu.
Namun, ketika muncul keraguan terhadap aspek-aspek tersebut, premi risiko Indonesia naik dan investor meminta kompensasi yang lebih tinggi atau memilih keluar.
Sebagai pelajaran ketika saya menjadi anggota Tim Nasional Reformasi Presiden Habibie di bidang ekonomi (SK Presiden), demokrasi yang sehat mulai dibangun, tahanan politik dilepas, bank sentral yang independen dihadirkan, undang-undang monopoli dibuat untuk melawan monopoli dan oligarkhi.
Hasilnya, nilai tukar menjadi kuat dari 16.800 menjadi 6.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
SBY "Turun Gunung"

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama ini dan bertahun-tahun tidak pernah mau untuk mengutik-utik kebijakan pemerintah karena itu merupakan etika sebagai mantan presiden. Biarkan pemerintah menyelesaikan sendiri persoalan yang dihadapinya.
Tapi kali ini mantan presiden ke-6 itu hadir demi bangsa dan memberikan saran yang lunak, yakni pulihkan kepercayaan (trust) pasar. SBY selalu menekankan bahwa ekonomi tidak hanya soal angka fiskal dan moneter, tetapi utamanya soal kepercayaan.
Jika pasar melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih.
Jika tidak, kita akan melihat sebaliknya, trust menurun, modal cenderung keluar dari pasar keuangan, permintaan valas meningkat, dan tekanan terhadap rupiah membesar. Itulah yang terjadi saat ini, rupiah tergerus, indeks saham jatuh.
Pasar juga akan melihat secara detil, yakni bagaimana kebijakan fiskal. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah dokumen kepercayaan dan pengelolaannya akan membentuk persepsi pasar.
Baca Juga: Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi, dan Penerimaan Pajak
Jika APBN dikelola tidak hati-hati, belanja negara meningkat tanpa kendali, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya yesmen, banyak program baru dengan kebutuhan dana besar tidak dievaluasi, maka pasar tidak akan percaya dan cenderung menjauh dari Indonesia.
Pasar akan percaya jika pengelolaan APBN terukur, terkendali dan prosesnya dijalankan dengn baik dan sahih di parlemen, penerimaan kredibel dan defisit terukur.
Yang terjadi sekarang, sudah sangat terang benderang terlihat. Masalah trust menjadi titik pangkal masalah walaupun dipicu oleh krisis global sebelumnya.
Karena masalah kepercayaahn, investor asing bereaksi spontan mengurangi eksposur. Inilah yang menyebabkan indeks terjungkal.
Mereka sudah untung selama ini, daripada berat risikonya ke depan maka lebih baik keluar. Permintaan dolar naik dan otomatis rupiah melemah. Untuk mengatasi hal ini, kepercayaan harus dibangun kembali.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.