Bogor, The Stance – Di sebuah sudut bengkel sederhana di Gang H. Oding, Desa Sirnagalih, Bogor, waktu memiliki makna yang berbeda. Kreativitas Muhammad Sena Nurdiansyah menyulapnya menjadi karya seni bernilai tinggi.

Bagi seniman ini, waktu bukan sekadar angka yang bergerak, melainkan pengalaman yang dipahat, dirangkai, dan dihidupkan kembali melalui kayu, benang, dan resin.

Bersama sang istri yang mendukungnya selama ini, Fhuji Haristine, Sena menemukan bentuk kebebasannya yang tidak datang dari sistem kerja yang mapan, melainkan dari keberanian untuk keluar darinya.

Ia melalui proses panjang yang berlapis: pencarian, kegagalan, eksperimen, hingga akhirnya menemukan dunia artistiknya sendiri yang kini menjadi jalan hidupnya.

Masa 2017–2018 adalah periode yang ia gambarkan sebagai fase pencarian sebuah ruang liminal antara kepastian dan kemungkinan. Ia mencoba berbagai bidang, dari budidaya lele hingga hidroponik, sebelum akhirnya berlabuh pada kayu.

“Saya sempat melihat berbagai bidang seperti lele, hidroponik, sampai akhirnya kayu jadi pilihan terakhir. Dari situ baru mulai serius,” kenangnya saat dikunjungi The Stance, akhir Maret 2026.

Dari semua perjalanan hidupnya, dia menjatuhkan sauh dengan membentuk DariKai pada tahun 2020, awalnya untuk membuat produk fungsional: lemari, kitchen set, dan pagar besi.

Namun, seperti banyak pengrajin yang perlahan berubah menjadi seniman, ada kegelisahan yang tak bisa dipenuhi hanya dengan menciptakan produk fungsional. Ia ingin menciptakan sesuatu yang lebih berbicara.

Melahirkan Arborea

DariKai

Jawaban atas kegelisahan itu hadir dalam bentuk Arborea. Sebuah jam dinding yang, pada pandangan pertama, mungkin tampak seperti objek dekoratif.

Bagi Sena, Arborea adalah representasi dunia yang dipadatkan. “Secara visual, karya ini menggambarkan elemen alam dari sudut pandang atas. Kayu melambangkan tanah, benang wol sebagai pepohonan, dan resin sebagai laut.”

Di sinilah letak kekuatan Arborea: ia bukan sekadar benda, melainkan narasi visual. Kayu jati yang digunakan bukan hanya material kokoh, tetapi simbol bumi stabil, hangat, dan hidup.

Benang wol yang dibentuk menyerupai moss menghadirkan gradasi hijau yang tidak kaku, melainkan organik. Sementara resin, dengan efek ombaknya yang rumit, menjadi metafora laut dinamis, reflektif, dan tak pernah benar-benar diam.

Di tengah kehidupan urban yang padat dan serba cepat, Arborea menawarkan sesuatu yang jarang disadari, yaitu kehadiran alam dalam ruang domestik.

“Di balik keramaian kota, sebenarnya ada keindahan alam yang bisa kita jaga. Saya lebih suka yang alami, yang hijau, yang natural,” tuturnya.

Arborea menjembatani kerinduan manusia akan suasana laut dan hutan ke ruang tamu, ruang kerja, ruang hidup sehari-hari. Ia menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas dan tekanan hidup, ada lanskap kehidiupan yang lebih luas dan harus kita jaga.

Sena mengakui Arborea lahir dari rasa suka dan proses belajar sederhana: “Awalnya dari suka saja, melihat karya-karya dari luar negeri yang menurut saya lebih keren dan lebih natural. Dari situ, amati, tiru, modifikasi.”

Melawan Pandangan Arus Utama Soal Modal

arborea

Keberanian Sena tidak hanya terlihat dari karyanya, tetapi juga dari cara berpikirnya tentang hidup dan usaha. Ia menolak narasi umum yang menempatkan keamanan finansial sebagai satu-satunya pijakan.

“Semua orang pasti punya rasa takut, apalagi soal uang. Tapi harus dimulai dari suka dan cinta dulu terhadap apa yang dikerjakan,” sambungnya.

Lebih jauh, ia bahkan merelatifkan konsep kerugian. Bahwa jika rugi satu sampai sepuluh juta, jangan terlalu dipikirkan. “Anggap saja belum jalan,” paparnya.

Sikap demikian menandakan pemahaman bahwa dalam proses kreatif dan kewirausahaan, kegagalan adalah bagian inheren dari perjalanan. Ia bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang harus dilewati.

Sena juga menegaskan satu prinsip yang terdengar sederhana namun radikal: “Apa pun yang dijual pasti ada yang membeli. Tinggal prosesnya saja.”

Di balik kalimat ini, ada keyakinan terhadap keberagaman selera manusia bahwa setiap karya memiliki pasarnya sendiri, selama ia jujur dan konsisten.

Visi Sena ke depan tidak berhenti pada produksi. Ia ingin membangun sesuatu yang lebih permanen: galeri seni. Sebuah ruang di mana karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami.

“Orang cukup lihat bentuknya saja sudah tahu, ‘ini karya DariKai’,” ujarnya. Ini adalah ambisi yang melampaui merek menuju identitas di mana ketika sebuah karya bisa dikenali tanpa label, di situlah ia benar-benar hidup.

Tegangan Antara Permintaan Pasar & Keunikan Karya

arborea

Sebagai art-preneur, Sena menghadapi dilema klasik: bagaimana menilai sesuatu yang secara inheren subjektif. Ia menegaskan bahwa dalam menentukan harga, khususnya di bidang seni, tidak ada patokan yang pasti.

Ia menyadari bahwa pasar lokal dan internasional memiliki cara pandang yang berbeda. Di luar negeri, nilai seni dan kualitas lebih dihargai, sementara di dalam negeri, sering kali penilaian masih bertumpu pada bahan baku.

Namun alih-alih menyerah pada kondisi tersebut, Sena memilih bertahan pada kualitas. Baginya, tantangan bukan alasan untuk menurunkan standar, melainkan kesempatan untuk membangun kesadaran pasar.

Dalam perjalanan ini, ia tidak berjalan sendiri. Ia menyebut sang istri sebagai pilar utama sebuah pengingat bahwa di balik banyak perjalanan individu, selalu ada dukungan yang tak terlihat.

Baca Juga: Usia Mengiringi Perjalanan Waktu

Arborea, sebagai karyanya, bukan hanya jam dinding. Ia adalah metafora tentang bagaimana manusia bisa “memahat waktu” menjadi sesuatu yang bermakna.

Ia mengajak kita untuk tidak sekadar melihat waktu sebagai sesuatu yang berjalan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa diisi dengan keindahan, dengan alam, dengan makna.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, justru karya-karya seperti inilah yang kita butuhkan: pengingat yang diam, bahwa hidup tidak selalu harus cepat kadang, tapi cukup dalam. (par)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance