Jakarta, TheStance – Balita berusia 1,5 tahun mengalami gejala hipotermia akibat cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi ekstrem di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memicu kehebohan di publik.
Dalam video yang diunggah melalui Youtube @basarnasofficial pada Minggu 12 April 2026, tim evakuasi melaporkan bahwa suhu tubuh bayi saat ditemukan dalam keadaan drastis dan kritis.
Dia menunjukkan gejala hipotermia, yakni kondisi gawat darurat ketika suhu badan turun drastis akibat kehilangan panas tubuh yang memicu kegagalan fungsi jantung, saraf, dan organ vital lainnya.
Bayi terus menangis dan menunjukkan tanda kedinginan yang parah. Beruntung, setelah dievakuasi dan mendapatkan penanganan dari tim Search and Rescue (SAR), kondisi bayi tersebut kembali normal secara perlahan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun mengingatkan orang tua agar tidak membawa anak-anak usia balita ke lokasi berisiko terjadi cuaca ekstrem.
Namun sejumlah penggiat alam bebas menilai kejadian itu dipicu persiapan orang tua yang tidak matang. Semestinya, orang tua yang ingin naik gunung bersama anak mengetahui aturan dan etika demi keselamatan buah hati.
Peristiwa tersebut memantik pertanyaan tentang: usia berapa seorang anak boleh diajak naik gunung?
Usia Anak Sekurang-kurangnya Tiga Tahun

Pada dasarnya tidak ada aturan pasti mengenai usia minimal anak yang boleh diajak naik gunung. Jika ingin mengenalkan alam bebas pada anak-anak dengan cara berkemah di kaki gunung, anak usia berapa pun boleh melakukannya.
Bahkan, bayi berusia 3 bulan sudah bisa diajak berkemah. Tentunya dengan syarat orang tua melakukan persiapan secara maksimal dan bisa memastikan keamanan bayinya selama di alam bebas.
Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Rahman Mukhlis mengatakan rata-rata usia anak yang boleh dibawa mendaki gunung yaitu mulai dari 10 tahun, atau sekurang-kurangnya usia tiga tahun.
"Rata-rata aturan usia anak yang boleh mendaki gunung itu mulai dari 10 tahun, dan sekurang-kurangnya usia 3 tahun," kata Rahman, dikutip dari Kompas.
Parameter usia ini penting sebab pada usia tersebut anak umumnya sudah bisa menyampaikan keluhan terkait panas, dingin, atau lelah saat mendaki. Bagi balita yang sudah bisa berjalan, pengenalan aktivitas mendaki disarankan cukup di kaki gunung.
Selain batasan usia, Rahman mengingatkan para orang tua yang ingin mengajak anak mendaki untuk mengetahui ketinggian gunung yang cocok untuk anak.
Batas maksimal ketinggian gunung yang boleh didaki anak usia 3-5 tahun adalah 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) karena dinilai terlalu ekstrem. Meski demikian, ia menyarankan pendakian dilakukan anak berusia minimal tujuh tahun.
Selain itu, orangtua juga disarankan lebih bijaksana sebelum memutuskan untuk membawa anak mendaki dan menyarankan menggunakan jasa tur operator untuk alasan keselamatan.
Pentingnya Faktor Persiapan dan Keselamatan

Pendaki gunung senior, Imam Subekti, menilai insiden balita yang mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya mendaki gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dipicu oleh persiapan orang tua yang tidak matang.
Menurut dia, membawa balita sebenarnya tidak menjadi masalah selama dilakukan dengan persiapan matang dan bertahap. la mengaku merupakan pendaki gunung, yang sering membawa ketiga buah hatinya mendaki sedari usia dini.
"Sebenarnya sih enggak masalah mendaki gunung membawa anak balita. Saya pun sering melakukannya dan alhamdulillah sudah berpengalaman, bahkan nggak cuma bawa 1 anak, 3 anak saya sudah saya kenalkan ke gunung sejak masih usia 1-2 bulan," kata Imam, Senin 13 April 2026.
Namun, proses tersebut tidak instan, melainkan melalui proses adaptasi. Pertama, dengan mengenalkan anak pada udara dingin pegunungan semisal melalui kegiatan camping dengan perlengkapan aman seperti jaket, tenda, dan selimut khusus.
Baca Juga: Selamat Jalan Ir. Arief Mahmud, Sang Penjaga "Gunung Sejuta Umat"
Jika anak sudah terbiasa, tahap kedua adalah trekking ringan di lokasi seperti bukit atau air terjun dengan jalur yang tidak terlalu sulit.
Setelah itu, barulah anak dapat diajak ke gunung dengan medan yang lebih menantang, dengan catatan tetap dalam pengawasan dan kesiapan penuh.
Menurut Imam, kunci keselamatan saat membawa anak mendaki adalah pengalaman dan kemampuan orang tua dalam mendaki gunung. Orang tua harus benar-benar memahami teknik pendakian dan mitigasi risiko di lapangan.
Selain itu, Imam menekankan pentingnya kepekaan orang tua terhadap kondisi anak. Jika anak belum siap, maka agenda mendaki gunung sebaiknya ditunda dan diganti dengan camping atau trekking ringan.
IDAI: Jangan Bawa Balita ke Lokasi Berisiko Cuaca Ekstrem

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengungkapkan secara medis tak ada patokan mengenai batas usia yang benar-benar aman untuk aktivitas mendaki.
Meski begitu, ada rentang usia yang perlu menjadi perhatian orangtua sebelum membawa buah hatinya pergi mendaki. Dia menekankan bahwa di alam bebas, keamanan anak harus menjadi prioritas.
Piprim mengingatkan bahwa anak-anak, apalagi bayi, memiliki fisik yang berbeda dengan orang dewasa sehingga tidak seharusnya diperlakukan seperti orang dewasa.
"Anak-anak umur 1,5 tahun sangat mudah kehilangan panas dibandingkan dewasa. Jadi jaraknya jauh, belum lagi potensi hujan, lama, itu hal-hal yang harus dipikirkan sebelumnya," ujarnya dalam keterangannya, Senin 13 April 2026.
Piprim pun mengingatkan orang tua agar tidak membawa anak-anak usia balita ke lokasi berisiko terjadi cuaca ekstrem. "Tidak direkomendasikan membawa batita ke lokasi dengan potensi kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan," imbuhnya.
Jangan Paksa Anak Jadi Anak Gunung

Senada, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Yogi Prawita menyoroti kecenderungan orang tua mengajak anak-anak melakukan hobinya. Banyak orang tua menilai anaknya akan otomatis kuat jika diajak mendaki sejak dini.
"Secara prinsip, jangan orang tua berasumsi kalau ortunya naik gunung, anaknya jadi anak gunung," ujarnya.
Yogi mengingatkan untuk tak memaksakan aktivitas fisik berat bagi anak, terutama hanya untuk tujuan rekreasi. Secara biologis, anak-anak lebih rentan karena intensitas napas mereka lebih sering, sehingga lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh.
Namun, sebagai alternatif, jika orang tua ingin memberikan edukasi tentang alam kepada anak, dia menyarankan agar orang tua menerapkan prinsip mulai dari yang ringan-ringan dulu.
Pendakian pun tidak boleh dilakukan secara mendadak meskipun anak dinilai sudah cukup umur. Orang tua tetap harus mempertimbangkan kesiapan dan kemampuan anak secara bertahap.
"Kalau mau mulai memperkenalkan dengan alam, start low go slow. Jangan mulai dari naik gunung yang tinggi. Pelan-pelan, lihat kemampuan si anak," jelasnya.
dr Yogi juga mengingatkan bahwa di gunung tidak ada akses cepat ke rumah sakit, sehingga risiko hipotermia bisa berakibat fatal jika orang tua tidak siap melakukan penanganan darurat.
Selain itu, anak juga berpotensi mengalami dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga hipoglikemia jika aktivitas mendaki dilakukan tanpa persiapan yang matang. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance