TheStance - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Pada Jumat, 26 Desember 2025, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP) kehilangan nakhodanya.

Ir. Arief Mahmud, M.Si., sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk hijaunya rimba Jawa Barat, telah berpulang setelah terkena serangan jantung ketika dalam perjalanan menuju Jakarta melalui tol layang MBZ.

Kepergiannya meninggalkan jejak pemikiran mendalam, terutama sebuah pesan wasiat yang ia titipkan: bahwa alam harus tetap dijaga meski raganya tak lagi ada.

Kenangan akan sosok Arief membawa kami kembali pada Jumat, 21 November 2025. Kala itu, redaksi TheStance mengunjungi kantor BB TNGGP di Cianjur, Jawa Barat.

Suasana hangat langsung terasa saat Arief menyambut kami, didampingi dua staf setianya, Agus Deni (Ketua Tim Kerja Data Pelaporan Kehumasan) dan Ade Bagja (Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan).

Pertemuan ini bermula dari jalinan komunikasi dengan Asep Suganda, Kepala Resor Pos Taman Nasional (PTN) Situgunung, yang sebelumnya menjadi narasumber kami terkait Jembatan Situ Gunung.

Arief, yang tertarik dengan kedalaman pemberitaan tersebut, membuka pintu diskusi lebih lebar untuk membedah filosofi di balik kemegahan Gede Pangrango.

Baru menjabat sebagai Kepala Balai Besar TNGGP sejak 21 April 2025, dia merasa seolah sudah menyatu dengan setiap jengkal tanah di sana. Ia memberikan julukan khusus bagi Gede Pangrango: “Gunung Sejuta Umat”.

Baginya, gunung ini bukan sekadar tumpukan batu dan pepohonan, melainkan ruang perjumpaan antara peradaban dan kemurnian alam.

Laboratorium Alam Dekat Megapolitan

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Mendiang Arief memandang Gede Pangrango sebagai sebuah "laboratorium alam yang sangat ramah".

Di sana, integritas ekosistem hadir begitu lengkap, mulai dari hujan tropis yang lebat hingga hamparan edelweis di Surya Kencana, semuanya berada dalam jangkauan masyarakat megapolitan seperti Jakarta dan Bandung.

“Lebih mendalam, magnet utamanya adalah aspek humanis dan spiritualnya. Gunung ini menawarkan ruang healing dan kontemplasi yang autentik,” ujar Arief.

Selain memberikan tantangan fisik, bagi pencinta hiking atau trail run, TNGGP juga menjadi tempat bagi semua umat untuk merenung, mencari ketenangan, dan menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan.

Arief tajam mengamati adanya pergeseran paradigma pendakian dari era 80-90an yang penuh romantisme dan kemandirian, menuju era milenial dan Gen-Z yang sangat dipengaruhi oleh teknologi digital.

Alih-alih bersikap sinis terhadap fenomena "pendaki konten" yang identik dengan kebutuhan menunggah dokumentasi mereka di media sosial, Arief justru melihatnya sebagai peluang emas untuk konservasi.

“Kadang motivasinya bukan hanya menikmati alam, tapi juga berbagi pengalaman visual di ruang digital. Hal ini bukan sesuatu yang harus dilihat secara negatif. Justru, ini adalah peluang. Generasi muda bisa menjadi influencer konservasi yang sangat kuat,” kata Arief.

Bagi mendiang, jika seorang pendaki muda membagikan foto keindahan alam dibarengi pesan bijak, dampaknya akan jauh lebih masif daripada sekadar imbauan formal. Ia percaya bahwa setiap generasi memiliki cara mencintai alamnya sendiri.

Keseimbangan Ekosistem dan Ketegasan Aturan

SukabumiDi bawah kepemimpinannya, BB TNGGP fokus pada keseimbangan antara tingginya angka kunjungan wisata dan kelestarian spesies endemik.

Arief sangat memperhatikan nasib Anaphalis javanica (Edelweiss Jawa) dan sang predator puncak, Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Ia bangga melihat tumbuhnya prinsip leave no trace di kalangan pendaki muda, namun ia juga tetap realistis terhadap tantangan sampah yang masih menghantui.

“Sistem blacklist memang telah kami terapkan, namun kami akui penerapannya belum sepenuhnya maksimal dalam memberikan efek jera. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena sebagian besar pelanggaran bersifat sporadis dan sulit terpantau di lapangan,” paparnya.

Sebelum wafat, ia tengah merancang standard operating procedure (SOP) baru yang lebih ketat terkait larangan kemasan sekali pakai, demi memastikan pendaki memiliki tanggung jawab moral yang tumbuh dari hati, bukan sekadar takut pada sanksi.

Baca Juga: Ketakutan & Harapan Arief Mahmud di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Pertemuan terakhir redaksi TheStance terjadi secara virtual pada 24 Desember 2025, hanya dua hari sebelum Arief tiada.

Dalam wawancara singkat terkait Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia, Arief menitipkan pesan yang kini terasa seperti wasiat: deforestasi memiliki konsekuensi yang sangat kejam yakni bencana alam jika manusia lalai.

Arief Mahmud seharusnya memulai babak baru dalam karirnya sebagai Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pada 5 Januari 2026. Namun, Sang Pencipta memiliki rencana lain.

Selamat jalan, Pak Arief. Gede Pangrango akan mengenang jejakmu melalui desis angin di antara pohon-pohon Jamuju dan keheningan di puncak Mandalawangi. Terima kasih telah menjaga warisan hidup ini untuk kami semua. (par)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.