Jakarta, TheStance - Olahraga lari kini bertransformasi dari sekadar aktivitas fisik menjadi fenomena sosial. Bahaya mengintai di balik jargon penyemangat di ajang lari yang sering kita temui.
Baik ajang marathon maupun setiap akhir pekan, jalanan kota hingga jalur pegunungan dipenuhi ribuan pelari yang mengejar garis finish. Spanduk, kaos, hingga sorakan penonton sering kali menggaungkan satu mantra sakti: "Push Your Limits".
Namun, di balik heroisme kalimat tersebut, tersimpan sebuah ironi yang, jika tidak dipahami dengan benar, bahkan dapat berujung pada petaka fatal. Andy Nurman Hermanto, pelatih lari dari komunitas Sekolah Lari (Skolari), menyoroti fenomena ini.
Dalam sebuah diskusi bersama Skolaria, Andi membongkar salah kaprah terbesar yang menghantui pelari, khususnya mereka yang baru terjun ke dunia ini: penempatan waktu untuk memaksakan batas kemampuan diri.
"Tagline push your limit itu sebenarnya lebih tepat digunakan untuk diri pribadi, dan penempatannya bukan saat event race," tegas Andy kepada redaksi TheStance, Rabu (24/12/2025).
Pernyataan ini mungkin terdengar berlawanan bagi mereka yang menganggap hari perlombaan adalah saatnya mengerahkan 100% kemampuan hingga titik darah penghabisan. Namun, Andy meluruskan logika yang terlanjur bengkok itu.
Menurut dia, hari perlombaan (race day) sejatinya adalah perayaan atau celebration dari hasil persiapan panjang yang telah dilakukan berbulan-bulan sebelumnya.
Paradoks Motivasi: Latihan vs Perlombaan

Momen untuk "menyiksa" diri dan mendorong batas kemampuan seharusnya terjadi di fase latihan, bukan di lintasan lomba.
"Jangan dibalik. Jangan saat latihan malah listen to your body sampai latihannya setengah-setengah begitu capek langsung berhenti tapi saat race malah push your limit. Itu yang keliru," ungkap Andy.
Saat latihan, jelas dia, seorang pelari berada dalam lingkungan yang terkontrol: diawasi pelatih, kondisi fisik dimonitor ketat, dan jika terjadi sesuatu, bisa segera ditangani. Di sinilah momen untuk menggenjot performa dan kapasitas jantung serta otot.
Sebaliknya, saat perlombaan, ribuan peserta tumpah ruah di jalanan. Panitia pelaksana tak mungkin memantau kesiapan fisik (fitness level) setiap peserta satu per satu secara real-time.
Memaksakan diri melampaui kapasitas latihan di tengah kerumunan tanpa pengawasan personal adalah resep bencana. Andy memberikan ilustrasi teknis yang sederhana:
Jika seorang pelari terbiasa berlatih di Pace 6 (6 menit per kilometer), memaksakan diri berlari di Pace 5 saat lomba adalah tindakan bunuh diri secara fisiologis.
"Tubuh tidak siap. Idealnya, kalau ingin Pace 5 di race, latihannya harus di Pace 4 agar tubuh beradaptasi. Saat race, kapasitasnya justru diturunkan satu tingkat atau setengah dari limit untuk keamanan, bukan sebaliknya," jelasnya.
Insiden fatalitas dalam event lari. Salah satunya bisa diambil dari kasus meninggalnya dua peserta ajang trail run di event Siksorogo Lawu Ultra 2025, yang sempat menjadi pergunjingan komunitas lari.
Kasus Lawu dan Kesiapan Logistik

Andi menilai kasus Lawu menunjukkan bahwa risiko tidak hanya datang dari kondisi fisik pelari, tapi juga kesiapan penyelenggara. Buktinya, korban yang jatuh justru berasal dari kategori jarak pendek (pemula), bukan kategori ultra marathon.
"Ternyata panitia kurang siap di water station. Ada beberapa titik pos air minum yang digeser lebih jauh dari titik awal. Masalahnya, peserta jarak jauh seperti 80 km atau 50 km start lebih dulu," papar Andy.
Begitu peserta lari kategori 15 km (jarak pendek) mulai, air di pos sudah keburu habis disapu bersih pelari sebelumnya. Situasi ini menjadi "badai sempurna" bagi pelari pemula.
Peserta kategori jarak pendek seringkali adalah pelari rekreasional yang biasa berlari di jalan raya (road running) dan baru mencoba sensasi lari lintas alam (trail run).
Mereka berlari dengan asumsi bahwa logistik terjamin di depan, sehingga tidak melakukan manajemen hidrasi yang ketat. Ketika tiba di pos dan mendapati air kosong, kepanikan fisiologis terjadi.
Berbeda dari lari di jalan raya di mana pelari bisa mampir ke minimarket jika kehausan, di jalur trail gunung, pilihannya sangat terbatas dan medannya jauh lebih berat.
"Di trail, tantangannya memang lebih berat dibanding road. Improvisasi di trail sangat terbatas," tambah Andy, menekankan bahwa penyelenggara race harus memiliki prediksi kebutuhan logistik akurat agar tak mengorbankan peserta yang datang belakangan.
Tubuh Tak Dikendalikan oleh Kata-Kata Motivasi
Dari sisi medis, kritik keras disampaikan Dicky Budiman, Epidemiolog dan Pakar Keamanan Kesehatan Global. Ia menekankan bahwa fungsi tubuh manusia sepenuhnya dikendalikan oleh prinsip biologi, bukan oleh kata-kata bijak di media sosial.
"Bicara soal 'Push Your Limits' dalam event lari, ini adalah tagline bermata dua. Ia bisa menyehatkan jika dilakukan dengan benar, tapi ia juga bisa membunuh," ujar Dicky kepada TheStance.
Ia menekankan betapa bahayanya pelari yang mengabaikan tanda-tanda dari tubuh mereka sendiri. Sering kali, ego, tekanan sosial, serta motivasi di jalur lari membuat seseorang memaksakan diri, meski tubuhnya sudah memberikan sinyal bahaya.
"Masalahnya, jantung itu tidak punya telinga untuk mendengar motivasi Anda. Jantung tidak peduli seberapa kuat tekad Anda. Jantung hanya mengenal fisiologi," tegas Dicky.
Ketika beban kerja melebihi kapasitas suplai oksigen dan darah, atau ketika elektrolit tubuh kacau balau, lanjutnya, jantung akan bereaksi sesuai hukum alam: berhenti.
Secara medis, kasus kematian saat berlari dipicu oleh gangguan jantung, diperburuk kelelahan atau dehidrasi parah. Selain itu, kurangnya waktu istirahat dalam pola latihan berat bisa menyebabkan otot jantung mengalami keletihan jangka panjang.
Dicky meluruskan pemahaman yang salah tentang jargon populer tersebut. Makna yang sehat dari ‘Push Your Limits’ bukanlah ‘Push Your Ego” melainkan ‘Push The Adaptation’.
Artinya, peningkatan batas kemampuan fisik harus berlandaskan data yang akurat, bukan sekadar mengikuti emosi. Kenaikan intensitas latihan harus dilakukan bertahap untuk memberi ruang bagi tubuh beradaptasi, disertai masa pemulihan cukup.
"Tanda bahaya yang tidak boleh ditawar adalah nyeri dada, pusing, mual, pandangan gelap, sesak napas yang tidak proporsional, hingga detak jantung yang tidak teratur (aritmia). Jika gejala ini muncul, berhenti! Berhenti itu bukan kalah. Berhenti itu menyelamatkan diri dari situasi yang lebih parah, termasuk kematian," paparnya.
Marathon Bukan Mie Instan
Di era media sosial, fear of missing out (FOMO) memicu banyak orang mendaftar lomba lari tanpa persiapan memadai. Melihat teman memamerkan medali finisher, adrenalin pun terpicu ikut mendaftar lomba, tanpa menyadari proses panjang di baliknya.
Andy, yang memulai perjalanan larinya sejak SMP karena didikan disiplin ayahnya yang bekerja di sektor migas, menekankan bahwa lari jarak jauh, terutama marathon, adalah disiplin ilmu yang membutuhkan penghormatan terhadap proses.
"Marathon itu bukan Indomie bukan tinggal seduh langsung jadi," ujarnya. Bagi para pemula yang ingin menghindari cedera atau risiko fatalitas, Andy memberikan panduan yang jelas.
Pertama, filter kategori lomba. Jangan langsung melompat ke maraton penuh (42 km) jika belum pernah menuntaskan lari 10 km atau half marathon dengan baik.
Kedua, perhatikan volume latihan mingguan (mileage). Untuk persiapan full marathon, Andy menyarankan rutinitas long run yang mencapai 80% dari jarak lomba, misalnya 30-35 km secara konsisten.
Namun, yang paling krusial adalah durasi program latihan. "Tidak bisa hari ini daftar, bulan depan race, lalu latihan satu bulan. Itu tidak cukup," tegasnya.
Andy menyarankan minimal waktu persiapan selama 6 bulan. Jangka waktu ini diperlukan untuk melewati berbagai fase fisiologis: persiapan umum, persiapan khusus, fase puncak (peaking), dan akhirnya tapering.
Banyak pelari pemula terjebak pada kesalahan fatal di akhir masa latihan: panik karena merasa kurang latihan, lalu menggenjot intensitas tinggi satu bulan sebelum lomba.
Padahal, menurut Andy, satu bulan sebelum lomba adalah fase tapering, di mana intensitas harus diturunkan drastis untuk memberi kesempatan tubuh melakukan recovery total.
"Kalau recovery belum selesai, badan masuk garis start dalam kondisi capek. Di program saya, ada fase peak, lalu sebulan sebelum race intensitas diturunkan supaya badan fit. Kalau saat race dipaksakan dalam kondisi lelah, risiko kolaps meningkat tajam," jelasnya.
Baca Juga: Tewasnya Pelari Lawu Ultra dan Pelajaran Penting Soal Risiko Ajang Lari
Perjalanan Andy sendiri adalah bukti dari pentingnya edukasi yang terstruktur. Memulai karir lari secara terstruktur sejak 2019, ia kini fokus pada edukasi pelari pemula dan penyusunan program latihan jangka panjang yang aman dan efektif.
Meskipun sudah rutin berolahraga sejak kecil mulai dari bangun subuh, lari, hingga badminton ia mengakui baru benar-benar memahami lari secara mendalam setelah bergabung dengan Sekolah Lari pada tahun 2019.
Di bawah bimbingan Coach Adrie Sutopo, ia belajar teknik yang benar, penyusunan program, hingga akhirnya dipercaya melatih orang lain.
Melihat banyaknya pelari yang "tersesat" dalam ambisi tanpa ilmu, Andy mendorong masyarakat yang menekuni lari marathon untuk mempelajari ilmunya. Berbekal motivasi itulah dia membentuk Skolari.
"Filosofi kami adalah edukasi lari yang baik dan benar secara gratis. Latihan gratis, tinggal datang," tuturnya.
Sebagai penutup, Andy mengingatkan untuk tidak membiarkan ego melampaui batas keselamatan. Karena pada akhirnya, garis finish terbaik adalah pintu rumah, tempat kita kembali dengan selamat. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance