Jakarta, The Stance – Presiden Federasi Sepakbola International (Fédération Internationale de Football Association/FIFA) Gianni Infantino mengonfirmasi pembahasan rencana perluasan jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara.

Padahal, Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko sebenarnya sudah menerapkan format baru dengan 48 peserta dan tercatat merupakan peserta terbanyak dalam sejarah perhelatan bola dunia.

Kompetisi tahun ini menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 tim, setelah sebelumnya hanya dibatasi untuk 32 negara. Namun, FIFA tidak ingin berhenti di situ dan membuka peluang lebar-lebar untuk menambah slot peserta lagi di masa depan.

Infantino berdalih langkah ini diambil demi memberikan kesempatan bagi setiap negara di dunia untuk memimpikan tampil di panggung sepak bola terbesar tersebut. Salah satunya Indonesia yang berambisi bisa lolos ke Piala Dunia.

Namun, rencana ini diperkirakan tak begitu saja mulus dan bakal memicu perdebatan sengit di dunia sepak bola. Banyak pihak memperingatkan dan mengkhawatirkan banyaknya jumlah peserta akan membuat kualitas turnamen menurun.

Infantino: Negara Kecil Perlu Diberi Kesempatan

Infantino - Trump

Wacana ini bukan sekadar rumor, kata Infantino. Selepas ini, komite-komite terkait di FIFA akan segera meninjau dan mendiskusikan kemungkinan format 64 tim ini karena esensi Piala Dunia adalah merangkul pencinta sepak bola tanpa terkecuali.

"Rencana (peserta Piala Dunia jadi 64 tim) adalah pembahasan yang akan ditetapkan dan didiskusikan bersama komite relevan setelah Piala Dunia kali ini," kata Infantino dalam wawancara dengan media Swiss, Bluewin, dikutip dari The Athletic.

Infantino beralasan, setiap negara berhak mengikuti Piala Dunia. Pria asal Swiss ini melihat adanya peningkatan kualitas sepak bola yang sangat pesat di berbagai belahan dunia saat ini.

"Setiap negara semestinya berhak punya mimpi tampil di Piala Dunia. Anda bisa lihat kualitas tim begitu tinggi dan semakin meningkat di seluruh dunia." ujarnya.

Tanpa kesempatan untuk negara kecil berpartisipasi di Piala Dunia, lanjut dia, mereka akan kesulitan untuk berkembang. Dia memberi contoh perubahan format turnamen dari 32 negara menjadi 48 negara yang menurutnya sangat sukses.

"Turnamen yang menampilkan 48 tim nasional ini telah terbukti sangat sukses. Semua tim menunjukkan level permainan yang tinggi," katanya.

Dalam Piala Dunia tahun ini, tim dari setiap benua mencetak gol dan meraih setidaknya satu poin. "Sembilan dari sepuluh tim Afrika mencapai fase gugur. Ini sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya memberi setiap tim kesempatan," pungkasnya.

Usulan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL)

Lionel Messi

Usulan atau ide penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim bukanlah hal yang baru. Wacana ini pertama kali disampaikan Ketua Asosiasi Sepak Bola Uruguay (UFA) Ignacio Alonso dalam Rapat Majelis FIFA pada Maret 2025.

Ketika itu, Konfederasi sepak bola Amerika Selatan (CONMEBOL) mengusulkan perluasan kuota untuk Piala Dunia 2030, yang bertepatan dengan perayaan satu abad kompetisi sepak bola terakbar ini.

"FIFA, badan sepak bola dunia, menyatakan kepada The New York Times bahwa proposal dari Alonso secara spontan 'diutamakan' dari 'urusan lain' selama rapat itu," tulis The Athletic.

Presiden CONMEBOL sekaligus Wakil Presiden FIFA, Alejandro Dominguez, menyebut Piala Dunia 64 tim adalah mimpi yang dapat menyatukan dunia dalam perayaan 100 tahun Piala Dunia pada 2030.

Format tersebut juga dinilai akan menguntungkan Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Untuk diketahui, Piala Dunia FIFA 2030 akan diselenggarakan di enam negara yang melintasi tiga benua.

Maroko, Portugal, dan Spanyol ditetapkan sebagai tuan rumah utama, sementara tiga pertandingan pembuka akan dimainkan di Argentina, Paraguay, dan Uruguay untuk merayakan ulang tahun ke-100 turnamen tersebut.

Setelah itu, seluruh pertandingan lain akan dimainkan di Maroko, Portugal, dan Spanyol. Apabila jumlah peserta benar-benar bertambah menjadi 64 tim, format penyelenggaraan juga diperkirakan berubah.

Salah satu kemungkinan ialah setiap negara di Amerika Selatan mendapat jatah menjadi tuan rumah satu grup berisi empat tim, bukan hanya menggelar satu pertandingan seperti saat ini.

UEFA dan CONCACAF Menolak

 Aleksander Ceferin - UEFA

Pembahasan mengenai penambahan peserta akan dilakukan FIFA setelah Piala Dunia 2026 selesai. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penentuan format resmi untuk edisi 2030.

Meski begitu, rencana ini tidak berjalan tanpa hambatan karena memicu perdebatan sengit di internal pelaku sepak bola. Penolakan keras datang dari Eropa.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebut gagasan memperbesar Piala Dunia menjadi 64 tim sebagai ide buruk karena dikhawatirkan merusak kualitas turnamen sekaligus mengurangi arti penting babak kualifikasi.

"Pada April lalu, Presiden UEFA Aleksander Ceferin menolak proposal itu dan menyebutnya sebagai ide buruk. Ia berkata rencana itu akan merusak turnamen dan persaingan kualifikasi di Eropa," tulis The Athletic.

Pendapat serupa disampaikan Presiden Concacaf, Victor Montagliani, yang menilai penambahan ini bisa merusak ekosistem sepak bola karena jumlah laga yang membengkak menjadi 128 pertandingan atau dua kali lipat dari format 1998-2022.

Dibanding Piala Dunia 2026, akan ada 24 laga tambahan dibanding format 48 tim yang dipakai sekarang ini. Hal itu dinilai bakal sangat menguras fisik para pemain.

Buka Kans Indonesia Lolos Piala Dunia

prabowo - nonton timnas

Penambahan kuota ini dinilai sebagai kabar positif bagi Indonesia yang menargetkan lolos ke Piala Dunia 2030 di bawah kepemimpinan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir dan pelatih John Herdman.

Apalagi, Presiden Prabowo Subianto belum lama ini kembali menegaskan harapannya agar Tim Nasional Indonesia mampu menembus putaran final Piala Dunia pada masa mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri peluncuran program mandatori biodiesel B50 yang digelar di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan masih menyimpan kegelisahan karena Indonesia belum berhasil tampil di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.

Ia menilai berbagai kemajuan yang telah dicapai Indonesia di berbagai sektor belum terasa lengkap apabila Timnas belum mampu lolos ke Piala Dunia.

"Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Saudara-saudara, jangan anggap enteng. Sepak bola itu kehormatan. Kehormatan! Siapa yang bertanggung jawab? Mana? Erick Thohir mana Erick Thohir?" kata Prabowo seraya tertawa.

Bahkan, dalam kesempatan itu, Prabowo juga meminta kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk memberikan dukungan apapun yang diperlukan agar Indonesia dapat mencapai target masuk Piala Dunia.

"Mana Menteri Keuangan? Apa yang diperlukan supaya kita bisa masuk Piala Dunia?" tanya Prabowo.

Baca Juga: Ironi Piala Dunia 2026: FIFA Bergelimang Cuan, Tuan Rumah Justru Tekor

Namun, di balik harapan dan dukungan Prabowo, tersimpan pertanyaan besar: apakah peluang Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia akan semakin membesar dengan perubahan format 64 tim Piala Dunia?

Secara matematis peluang tersebut terbuka jauh lebih lebar. Sebagai catatan, ketika Piala Dunia bertransformasi dari 32 ke 48 tim pada edisi 2026, jatah benua Asia (AFC) melonjak drastis dari semula 4,5 slot menjadi 8,5 slot.

Jika FIFA benar-benar mengetok palu perluasan hingga 64 tim, bisa dipastikan kuota untuk Asia akan kembali bertambah signifikan, bahkan berpotensi mencapai 11 hingga 12 slot.

Penambahan slot yang masif ini tentu mengubah peta persaingan di tingkat Asia. Negara-negara raksasa seperti Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Iran, dan Australia kemungkinan besar akan selalu mengunci tiket otomatis lebih awal.

Namun, dengan meluasnya sisa kuota yang ada, Indonesia tidak perlu lagi bersaing "berdarah-darah" hanya untuk memperebutkan satu atau dua tiket sisa.

Sebelumnya, perjuangan Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2026 harus terhenti pada putaran keempat babak kualifikasi setelah menghadapi Arab Saudi dan Irak. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance