Oleh Makmur Idrus, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan aktivis senior Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan yang juga mantan birokrat di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan selama lebih dari 30 tahun. Kini, berkiprah di politik praktis dengan bergabung di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ada satu lapisan kekuatan lain yang tidak boleh diabaikan dalam membaca arah muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), yaitu generasi kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada tahun 2000-an.

Para kader yang ketika itu masih memimpin wilayah, cabang, anak cabang, atau menjadi pengurus GP Ansor, kini telah memasuki usia dan jenjang pengabdian yang lebih matang.

Boleh dikatakan, cukup banyak di antara mereka yang kini jadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU), Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU), Rais Syuriyah, pengasuh pesantren, pejabat pemerintah, anggota legislatif, akademisi, dan tokoh berpengaruh.

Karena itu, peta kekuatan Muktamar saat ini juga harus dibaca melalui perjalanan panjang para alumni GP Ansor tersebut. Generasi ini tumbuh terutama pada masa Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memimpin PP (Pimpinan Pusat) GP Ansor.

Masa kepemimpinan yang panjang telah membentuk jaringan kaderisasi, hubungan personal, ikatan emosional, dan komunikasi organisasi dari pusat hingga daerah.

Para ketua wilayah dan ketua cabang Ansor pada masa itu kini banyak yang telah naik kelas dalam struktur jam’iyah. Mereka tidak lagi sekadar menjadi peserta kaderisasi atau penggerak kepemudaan.

Sebagian telah berada pada posisi yang ikut menentukan arah PWNU dan PCNU. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa GP Ansor bukan hanya organisasi kepemudaan, melainkan salah satu sekolah kepemimpinan utama NU.

Kader GP Ansor Semakin Berpengaruh

GP Ansor

Di GP Ansor, kader belajar memimpin rapat, mengelola organisasi, melakukan kaderisasi, menghadapi konflik, menjaga Banser, membangun jaringan, dan merawat hubungan dengan para kiai.

Pengalaman itu menjadi modal ketika mereka memasuki struktur NU pada jenjang berikutnya. Karena itu, kader Ansor tahun 2000-an hari ini bukan lagi sekadar penonton di luar arena.

Banyak di antara mereka telah duduk di kursi yang memiliki pengaruh terhadap keputusan Muktamar. Di sinilah posisi Gus Ipul menarik. Ia tak cukup dibaca hanya dari jabatannya dalam struktur Pengurus Besar NU (PBNU) atau kepanitiaan Muktamar.

Gus Ipul juga merupakan mantan Ketua Umum PP GP Ansor yang pernah berinteraksi langsung dengan satu generasi kader yang kini banyak berada di pusat-pusat pengambilan keputusan NU.

Hubungan tersebut tentu tidak berarti seluruh alumni Ansor pada masa Gus Ipul akan mengikuti satu komando politik. Mereka telah tumbuh menjadi pemimpin dengan pertimbangan, kepentingan daerah, hubungan pesantren, dan pilihan masing-masing.

Namun, hubungan historis selama bertahun-tahun tetap merupakan modal komunikasi yang besar. Dalam politik organisasi, komunikasi lama sering kali lebih efektif daripada pertemuan yang baru dibangun menjelang pemilihan.

Seseorang mungkin tidak menyatakan dukungan secara terbuka. Akan tetapi, ikatan persahabatan, rasa saling percaya, dan pengalaman berjuang bersama dapat memengaruhi arah pembicaraan di tingkat wilayah dan cabang.

Pengaruh GP Ansor Cenderung ke Mana?

Addin Jauharudin

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya ke mana Ansor sekarang akan berlabuh, tetapi juga: ke mana generasi alumni Ansor tahun 2000-an yang kini memimpin PWNU dan PCNU akan mengarahkan pengaruhnya?

Apakah kedekatan historis mereka dengan Gus Ipul akan memperkuat konsolidasi yang menguntungkan Gus Yahya?

Ataukah mereka akan mengambil pilihan berbeda dengan mempertimbangkan kebutuhan perubahan, suara daerah, serta munculnya Prof. Nasaruddin Umar? Inilah salah satu wilayah paling menarik sekaligus paling senyap dalam Muktamar.

Gus Yahya mempunyai kekuatan struktur dan hubungan dengan jaringan Ansor. Prof. Nasaruddin mempunyai kedekatan emosional dengan PMII dan dukungan yang berpotensi tumbuh dari luar Jawa.

Sementara itu, Gus Ipul mempunyai investasi kaderisasi panjang terhadap generasi Ansor yang kini telah menjadi pemimpin NU di berbagai daerah. Dengan demikian, GP Ansor bukan sekadar Banom pendamping dalam Muktamar.

GP Ansor adalah jalur kaderisasi yang alumninya telah berada di dalam PWNU dan PCNU. Generasi 2000-an dahulu memegang panji kaderisasi. Hari ini, sebagian dari mereka telah memegang mandat wilayah dan cabang.

Mereka mungkin tidak tampil paling gaduh di atas panggung, tetapi pilihan mereka dapat ikut menentukan siapa yang akhirnya memimpin PBNU.

Prof. Nasaruddin sebagai Kader PMII

Nasaruddin Umar

Latar belakang Prof. Nasaruddin Umar sebagai kader PMII merupakan modal sosial yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Ia pernah berproses dalam lingkungan PMII ketika menjadi mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang, yang kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Identitas tersebut memberikan kedekatan psikologis dengan keluarga besar PMII dan para alumninya.

Prof. Nasaruddin tidak hanya hadir sebagai ulama, guru besar, Rais Syuriyah PBNU, dan Menteri Agama, tetapi juga sebagai kader yang pernah tumbuh dalam tradisi pergerakan mahasiswa nahdliyin.

Apakah seluruh kader dan alumni PMII otomatis akan mendukungnya? Tentu tidak. PMII dan jaringan alumninya bukan pasukan yang dapat digerakkan hanya melalui satu komando.

Di dalamnya terdapat berbagai pilihan politik, hubungan pesantren, kepentingan daerah, dan kedekatan personal. Namun, ikatan historis dan emosional tetap dapat menjadi modal besar apabila dikelola secara baik.

Apabila alumni PMII di berbagai daerah melihat Prof. Nasaruddin sebagai figur yang mampu memperkuat representasi kader pergerakan dan luar Jawa, maka dukungan kepadanya dapat berkembang menjadi gelombang yang sulit diabaikan.

PMII mempunyai kekuatan intelektual, jaringan kampus, dan kemampuan membentuk opini. Apabila kekuatan tersebut bertemu dengan dukungan para kiai dan struktur daerah, Prof. Nasaruddin dapat memperoleh momentum yang semakin besar.

Gus Yahya dan Latar Belakang HMI

Yahya Cholil Staquf

Sementara itu, Gus Yahya mempunyai sejarah kaderisasi mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ketika menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, ia pernah aktif dalam lingkungan HMI.

Apakah latar belakang sebagai kader HMI mengurangi ke-NU-an? Tentu tidak. Gus Yahya lahir dan tumbuh dari keluarga pesantren, dibesarkan di kultur NU, pernah jadi Katib Aam PBNU, dan kini menjalankan amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Pengabdian dan identitas seseorang di NU tidak dapat dihapus hanya karena pernah berproses di organisasi mahasiswa yang berbeda. NU sejak awal bukan rumah yang sempit.

Banyak tokoh NU mempunyai latar belakang organisasi, pendidikan, dan perjalanan kaderisasi yang beragam. Yang dinilai adalah komitmen, pengabdian, pemahaman terhadap tradisi, serta kemampuannya menjaga marwah jam’iyah.

Namun, dalam politik simbolik Muktamar, latar belakang kaderisasi tetap dapat menjadi bahan pembicaraan.

Di tengah kuatnya jaringan PMII dalam struktur NU, muncul perbandingan yang menarik: Prof. Nasaruddin tumbuh dalam lingkungan PMII, sedangkan Gus Yahya pernah berproses di HMI.

Perbandingan tersebut tidak boleh digiring menjadi konflik ideologis antara HMI dan PMII. Muktamar NU bukan arena untuk mengadili masa lalu organisasi seseorang.

Namun, wajar apabila kader dan alumni PMII mempertanyakan siapa yang paling dekat dengan aspirasi, sejarah kaderisasi, dan harapan mereka terhadap masa depan NU.

Baca Juga: Gus Yahya vs Nasaruddin Umar (1): Siapa yang Menguasai Panggung Muktamar NU?

Di sisi lain, Gus Yahya juga mempunyai hubungan kuat dengan jaringan GP Ansor.

Adiknya, Yaqut Cholil Qoumas, pernah memimpin PP GP Ansor. Jaringan yang terbentuk selama kepemimpinan tersebut menjadi salah satu modal sosial dan komunikasi bagi Gus Yahya.

Karena itu, GP Ansor tak dapat langsung dianggap akan sepenuhnya berpihak ke Prof. Nasaruddin hanya karena banyak kadernya berlatar belakang PMII. Demikian pula, PMII tidak dapat otomatis diklaim sebagai kekuatan tunggal salah satu calon.

Di dalam Ansor dan PMII terdapat banyak generasi, kepentingan, kedekatan, serta cara pandang.

Ada yang mempunyai hubungan kuat dengan struktur Gus Yahya. Ada pula yang melihat Prof. Nasaruddin sebagai simbol pembaruan dan representasi kader luar Jawa. (Bersambung)***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.