Oleh Muhammad Fawaid, seorang akademisi pemerhati sosial dan ekonomi, dosen di Institut Sains dan Teknologi NU (STINUBA) Denpasar, yang juga Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. Kini aktif menciptakan konten melalui akun Tiktok @m..fawaid.al.

Seruput kopi dulu, Kiai ...

Kalau menjelang Pilpres ada istilah "musim baliho", maka menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ada musim yang tak kalah menarik: musim silaturahmi.

Bedanya, yang datang bukan menawarkan diskon akhir tahun, melainkan mempererat ukhuwah sambil menyapa para pemilik hak suara.

Hari ini, perhatian warga Nahdliyin tertuju ke Jakarta.

Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar NU (PBNU) dijadwalkan menentukan lokasi Muktamar ke-35 setelah tim survei menyelesaikan peninjauan sejumlah pesantren di Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Barat.

Sambil menunggu keputusan itu, suasana di Bali juga mulai menghangat. Namun hangatnya belum sampai mendidih.

Selepas Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) di Ploso, Kediri, Jawa Timur, berbagai isu dan manuver mulai beredar. Ada yang bilang Pengurus Wilayah NU (PWNU) Bali sudah condong ke calon tertentu.

Ada pula yang mengeklaim sudah mendapat restu sana-sini. Sampai hari ini, yang tampak di ruang publik justru PWNU Bali belum menyatakan sikap resmi terhadap siapa yang akan didukung sebagai Ketua Umum PBNU.

Sikap Kehati-hatian Dikedepankan

kantor pusat

Sikap itu justru menunjukkan kehati-hatian. Siapa pun kader NU yang memenuhi syarat administrasi dan maju dalam kontestasi layak dihormati sebagai putra terbaik NU. Soal pilihan, itu nanti ketika mekanisme organisasi berjalan.

Meski demikian, menjelang muktamar, intensitas silaturahmi para calon memang mulai meningkat. PWNU, Pengurus Cabang NU (PCNU), bahkan tokoh-tokoh berpengaruh mulai banyak dikunjungi.

Wajar saja. Dalam tradisi NU, silaturahmi adalah bagian dari adab politik yang santun. Yang menarik, di balik senyum dan secangkir kopi, para pemilik suara juga sedang berpikir keras.

"Siapa yang paling mampu menjaga marwah NU? Siapa yang bisa merawat warisan para muassis? Siapa yang sanggup memimpin organisasi sebesar ini di tengah tantangan zaman?"

Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi bahan diskusi di banyak sudut Bali.

Kalau dibandingkan Muktamar di Lampung, konstelasi kali ini terasa lebih cair. Dukungan tidak lagi sepenuhnya terkonsolidasi dalam satu arus. Masing-masing memiliki pertimbangan sendiri, tentu dengan harapan memilih pemimpin terbaik bagi jam'iyah.

Nah, di sinilah humor politik NU mulai muncul.

Semakin banyak calon, semakin sibuk pula orang-orang yang tiba-tiba merasa menjadi "jembatan". Ada yang bercanda menyebut mereka sebagai Tim Makmur—singkatan dari Makelar Muktamar.

Tugasnya bukan menyusun fikih atau memperkuat jam'iyah, melainkan sibuk menghitung peluang agar dirinya ikut "makmur".

Baca Juga: Rebutan Tambang di Balik Konflik PBNU

Tentu istilah ini hanyalah satir. Jangan sampai benar-benar ada yang menjadikan muktamar sebagai ladang mencari keuntungan pribadi. Sebab NU dibangun oleh keikhlasan para kiai, bukan oleh transaksi yang menggerus kehormatan organisasi.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih nanti, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak berkunjung, tetapi siapa yang paling mampu menjaga khidmah, merawat persatuan, menguatkan kemandirian, dan membawa NU tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya.

Kini kita tinggal menunggu dua keputusan penting: di mana Muktamar Ke-35 akan digelar, dan nanti kepada siapa amanah kepemimpinan PBNU akan diberikan.

Semoga yang menang bukan sekadar kandidat, tetapi juga akhlak organisasi. Karena bagi NU, kemenangan sejati bukan soal siapa yang duduk di kursi, melainkan bagaimana jam'iyah tetap berdiri kokoh di atas nilai, adab, dan pengabdian.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStanceID.