Oleh Muhammad Syarkawi Rauf, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) 2015-2018, pernah menjadi Direktur Utama BERDIKARI dan Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI/IX dan kini aktif sebagai Chairman of Asian Competition Institute (ACI).

Pidato pelantikan presiden Brasil terpilih dari sayap kiri, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, pada 1 Januari 2003 memberikan harapan perubahan bagi rakyat Brasil.

Programnya yang disenangi pemilih adalah mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan kekuatan internalnya sendiri. Narasi presiden Lula yang membuatnya terpilih adalah mengoreksi ketimpangan penguasaan aset nasional.

Sekitar 5% konglomerasi menguasai 70% lahan pertanian. dan 50% petani kecil menguasai hanya 2%–3% areal pertanian produktif.

Ketimpangan antar pendapatan per kapita Brasil tahun 2000-an awal juga termasuk kategori sangat tinggi, tercermin pada gini ratio (indeks gini) sekitar 0,62. Pengangguran Brasil mencapai 12% rata-rata bulanan tahun 2002.

Seperti yang dapat dibaca pada hasil studi tiga ekonom, yaitu Philip Arestis, Luiz Fernando de Paula dan Fernando Ferrari-Filho dari Centre for Brazilian Studies, University of Oxford tahun 2007, terpilihnya presiden Lula mengkhawatirkan pelaku pasar.

Narasinya yang anti pasar (anti market rhetoric) mendongkrak country risk premium Brasil 600 basis points (bps) menjadi 2,4% pada Oktober 2002. Net capital outflow Brasil naik.

Cadangan devisa turun dari US$42 miliar pada Juni 2002 menjadi US$35,6 miliar pada November 2002. Turun US$6,4 miliar hanya dalam 5 bulan. Kurs real Brasil per dolar Amerika Serikat (AS) melemah ekstrem dari 2,38 menjadi 3,88 per dolar AS.

Harga Saham Ikut Jatuh

bursa saham

Demikian juga dengan harga saham Brasil, Indeks Bovespa Index turun ke 10.981 pada akhir Desember 2002. Sebelumnya mencapai sekitar 17.150 pada awal Januari 2001.

Inflasi bulanan Brasil naik dari 0,5% pada 1 Januari 2002 menjadi 1,3% pada Oktober 2002. Inflasi secara tahunan bahkan mencapai sekitar 17% (year-on-year).

Narasi presiden Lula yang anti pasar, beraliran sosialis, membuat persepsi risiko perekonomian Brasil naik.

Investor global keluar dari aset keuangan Brasil dengan tagar “sell Brazil”. Lembaga pemeringkat internasional mengeluarkan Brasil dari kategori investment grade.

Kondisi ekonomi Brasil semakin buruk. Tekanan terhadap Presiden Lula untuk melakukan langkah-langkah koreksi semakin kuat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Akhirnya, titik balik dalam perekonomian Brasil terjadi pada saat pemerintah bersedia menerima dana talangan IMF pada tahun 2003. Presiden Lula berjanji mematuhi aturan pasar dengan menjalankan kebijakan fiskal yang disiplin.

Istilahnya, mengurangi fiscal dominance. Selama ini, Banco Central do Brasil (BCB) menunda kenaikan policy rate (Selic), suku bunga acuan BCB, meskipun kurs real Brasil terdepresiasi ekstrem.

Penundaan kenaikan policy rate (Selic) itu dalam rangka mengurangi beban pembayaran bunga utang pemerintah. Artinya, independensi kebijakan moneter tergerus.

Perkuat Kredibilitas Fiskal

Presiden Lula meningkatkan kredibilitas fiskal dengan menaikkan surplus keseimbangan primer sebagai rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 3,75% menjadi 4,25%.

Surplus keseimbangan primer berarti total pendapatan negara lebih besar dari belanja negara tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang.

Atas desakan IMF, BCB akhirnya menaikkan bunga acuan, Selic, menjadi 23% untuk mengantisipasi inflasi yang mencapai 17% secara tahunan. Pengorbanannya (sacrifice ratio) adalah pertumbuhan ekonomi Brasil menjadi hanya 0,5% tahun 2003.

Perekonomian Brasil akhirnya terhindar dari krisis karena commodity price booming. Pada saat Presiden Lula berkuasa, 1 Januari 2003, kondisi perekonomian global semakin membaik.

Pertumbuhan dua perekonomian terbesar dunia, AS dan China meningkat. Volume perdagangan global meningkat signifikan.

Surplus perdagangan (trade balance) Brasil meningkat dari US$24,9 miliar (2003) menjadi US$44,8 miliar (2005). Surplus current account naik menjadi US$14,2 miliar (2005).

Cadangan devisa Brasil juga naik sangat signifikan dari US$37,5 miliar (2002) menjadi US$53,8 miliar (2005).

Country risk premium Brasil semakin membaik, turun menjadi hanya 313,8 bps. Hal ini membuat nilai tukar real Brasil terhadap dollar AS dan Indeks Bovespa (indeks harga saham Brasil) menguat.

Langkah paling ekstrem Presiden Lula adalah menaikkan tax rate, mengurangi pengeluaran pemerintah (menunda implementasi program-program populis), dan menaikkan surplus keseimbangan primer menjadi 4,8% terhadap PDB.

Resep Lula Hindari Krisis 2003

Brasil

Perekonomian Brasil terhindar dari krisis tahun 2003 karena dua faktor: pertama, desakan domestik dan internasional yang kuat mendorong Lula mengubah kebijakan dengan mengumumkan New Consencuss Macroeconomic Policy (NCM).

Kedua, pertumbuhan ekonomi global yang semakin baik meningkatkan volume perdagangan internasional. Hal ini berdampak pada “commodity price booming”, di mana Brasil adalah eksportir utama kedelai, besi, baja, daging sapi, dan lainnya.

Apa lesson learned (hikmah) yang dapat diambil oleh pemerintah Indonesia dari pengalaman Brasil? Pertama, saat ekonomi memburuk, dibutuhkan disiplin fiskal yang semakin baik yang tercermin pada rasio defisit fiskal sekitar 2%–2,5% terhadap PDB.

Secara ekstrem, seperti pengalaman presiden Lula, mengubah kondisi defisit keseimbangan primer (primary fiscal deficit) jadi surplus 4,8% dari PDB 2005. Pendapatan lebih besar dari belanja negara sebelum memperhitungkan pembayaran bunga utang.

Kedua, secara cermat menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sehingga tak berdampak negatif terlalu jauh terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, ekspektasi inflasi yang cenderung meningkat menjadi terkendali.

Demikian juga dengan volatilitas kurs rupiah per dolar AS menjadi semakin rendah.

Kenaikan BI rate membuat biaya utang pemerintah untuk menutupi defisit fiskal menjadi semakin mahal. Kenaikan BI rate dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam memberikan stimulus ekonomi pada saat kondisi ekonomi memburuk.

Baca Juga: Pelajaran dari Presiden Lula

Ketiga, menghindari fiscal dominance yang menggerus independensi bank sentral. Hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan makroekonomi nasional dan menaikkan country risk premium.

Selama ini, praktik fiscal dominance (dominasi fiskal) ibarat mentransfer masalah rendahnya disiplin fiskal pemerintah ke bank sentral. Kebijakan fiskal mendikte kebijakan moneter.

Keempat, merujuk pada kisah sukses presiden Lula, langkah merombak tim ekonomi juga dapat menjadi opsi dalam rangka meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi presiden Prabowo di tengah ketidakpastian global.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance