
Oleh Lukas Luwarso,wartawan senior peraih Hubert H. Humphrey Fellowship Program. Pernah menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), dan kini menjadi pemimpin redaksi di Garda Berita Nasional.
Pemerintahan Prabowo Subianto sedang dilanda banyak persoalan, tapi wakil presiden (wapres) justru asyik masyuk sendirian mencuri perhatian. Cari untung dalam kesempitan, mengail di air keruh.
Cercaan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), nilai rupiah anjlok, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok, plus mahasiswa kembali turun ke jalan menyuarakan perlunya "Reformasi Jilid II".
Di tengah terpaan badai politik dan kecaman pada presiden, Wapres Gibran Rakabuming Raka melenggang dengan agenda politik pencitraannya.
Ketika Presiden menjadi sasaran kritik publik, ia tampil seolah berada di luar lingkaran persoalan. Ia membangun kesan sebagai sosok yang mau mendengar, berdialog, dan merangkul.
Saat Prabowo teriak aksi-aksi mahasiswa ditunggangi antek-antek asing, Gibran membuat aksi pertunjukan menerima delegasi mahasiswa di Istananya. Ia sewa mereka untuk seolah-olah berdialog, mendengarkan wejangan, kemudian foto bersama.
Gibran memamerkan gestur politik "ramah" pada mahasewa. Beda dengan Prabowo yang memiliki kesumat dengan aksi mahasiswa.
Lalu membuat momen Papua, kunjungan kerja ke kawasan Timur Indonesia. Gibran mengajak mahasewa ikut serta. Semiotika kekuasaan yang sedang ia ingin sampaikan adalah: "Saya beda dengan Prabowo. Saya generasi muda yang mau mendengar."
Papua bukan sekadar lokasi kunjungan; tetapi panggung yang sengaja dipilih, pasca kontroversi film "Pesta Babi" yang mengisahkan ketamakan kuasa oligarki berkongsi dengan pemerintahan yang sentralistik-militeristik.
Mengelus Kucing, Menjaga Jarak

Kemudian, adegan paling sinematik, mengingatkan film The Godfather versi bocil. Gibran duduk mengelus kucing sambil berkomentar tentang generasi muda di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Yang mengikuti drama akun Fufufafa pasti paham. Gibran mewarisi insting serangan politik gaya sindiran ala bapaknya, Jokowi. Mengelus-elus kucing adalah simbolik. Publik tahu, elusan itu ditujukan kepada Prabowo yang memang penyayang kucing.
Permainan politik Gibran adalah manuver klasik seni politik surviving, cari selamat. Menggaet keuntungan politik dengan membangun identitas yang berbeda dari presiden yang sedang mengalami krisis legitimasi.
Tanpa secara eksplisit membelot, apalagi melawan. Ia bukan memerankan oposisi, tapi aksi jaga jarak (soft distancing). Menggelembungkan citra diri sekaligus menghisap energi partner politik.
Gibran melakukan dengan senyumannya yang aneh, turunan dari cengengesan bapaknya. Ia tak mengkritik pelaksanaan MBG, KDMP, Sekolah Rakyat, juga tak mengomentari anjloknya nilai rupiah atau IHSG. Ia tak turun gelanggang untuk mengkonfrontasi.
Justru sebaliknya, ia muncul di ruang-ruang yang ditinggalkan Prabowo. Mengisi kekosongan celah aspirasi-afeksi publik yang semakin menganga. Menghirup udara ruang vakum simpati yang dihembuskan Prabowo.
Kontras dengan Prabowo yang berisik, over-talking, dengan pidato omon-omonnya. Gibran berpretensi hadir sebagai "alternatif negara"--tanpa banyak bicara. Ia jarang berbicara bukan karena strategi politik Zen-Buddhism.
Tapi, memang tak bisa bicara akibat cacat bawaan lahir (congenital defect) turunan bapaknya. Tapi cacat ini kini menjadi kekuatannya, di saat publik letih dengan politik berisik Prabowo yang talkative.
Hanya Hasil Eksperimen Politik Jokowi

Pasangan Prabowo dan Gibran adalah produk, end-result, dari proyek eksperimentasi politik Jokowi. Hari-hari ini pasangan ini semakin terlihat aneh, odd-couple, sebagai presiden dan wapres.
Jika pemerintahan adalah keluarga, maka semakin jelas potret dysfunctional family. Gibran naik ke kursi Wapres tanpa rekam jejak politik dan intelek yang memadai. Hasil politik utak-atik keputusan Mahkamah Konstitusi yang dibidani pamannya.
Legitimasi cacat itu melengkapi cacat-cacat lainnya, dari cacat rekam jejak pendidikan, cacat nepo-baby, cacat politik sprindik, hingga cacat kompetensi. Indonesia terasa aneh dibawah pemerintahan pasangan Pragib satu setengah tahun terakhir ini.
Tapi membayangkan bahwa Gibran berpotensi menggantikan Prabowo, menjadi orang nomor satu, lebih luar biasa aneh. Dan kemungkinan ini bukan mustahil terjadi, jika Prabowo mangkat, undur diri karena kesehatan, atau terguling.
Baca Juga: Upaya Rezim Gembosi Gerakan Mahasiswa: dari Suap hingga Aksi Tandingan
Dan urusan guling-mengguling kekuasaan ini adalah keniscayaan ketika situasi politik dan ekonomi memburuk.
Setiap Wapres, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), ketua parpol besar, atau politikus ambisius, pasti bersiap diri, mematut diri, untuk menggantikan kekuasaan jika terjadi perubahan.
Yang membedakan adalah ada yang diam, menunggu peluang, atau pro-aktif memicu perubahan. Di balik kediamannya, Gibran tak tinggal diam. Di bawah bimbingan mentor yang "sukses" berkuasa 10 tahun, Ia bermanuver.
Menata kekuatan, membangun fondasi persepsi, siap menggantikan Prabowo, baik melalui proses normal maupun abnormal. Mengambil untung dari situasi kalut yang sedang dihadapi presiden. Membiarkan Prabowo ber-nyenye-nyenye sendirian.
Posisi wapres sering dianggap sebagai "ban serep" yang pasif. Namun, Gibran tidak mengikuti pakem itu. Ia membangun nexus, koneksi dan jaringan basis politiknya. Mempersiapkan jangkar komunikasi langsung sebagai investasi politik.
Ia akan melanjutkan peran pialang politik tanpa etika yang dipraktekkan bapaknya. Begitulah sekolah politik lancung, selalu cari untung, ajaran bapaknya. Politik yang tidak mengenal loyalitas atau kesetiakawanan.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.