Jakarta, The Stance - Memperkenalkan sejarah dengan mengunjungi museum atau situs bersejarah menjadi salah satu opsi edukatif bagi para orang tua mengisi waktu libur panjang bagi sang anak. Pemerintah Kota Depok melirik peluang tersebut.

Eki (42), seorang ibu yang tinggal di Depok, Jawa Barat, mengisi waktu libur sekolah kedua putrinya dengan memperkenalkan sejarah kota tempat tinggalnya.

Bersama-sama, mereka pergi ke kawasan Jalan Pemuda, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, yang baru ditetapkan sebagai Kawasan Heritage di Kota Depok.

"Bagus ya, karena enggak cuma ada makanan atau hiburan, tapi kita juga jadi tahu sejarah Depok,” ujar Eki saat ditemui The Stance, Sabtu 27 Juni 2026.

Bertepatan dengan peringatan 312 tahun sejarah Kaoem Depok, Pemerintah Kota Depok menggelar Festival Heritage Depok Lama 2026 yang dibuka langsung oleh sang wali kota, yakni Supian Suri.

Acara yang berlangsung pada 27-28 Juni 2026 itu diisi dengan rangkaian kegiatan dengan nuansa Belanda-Depok, mulai dari parade 12 Marga Kaoem Depok, peragaan busana, bazar, mural, hingga lomba mewarnai.

Sebanyak 60 stan UMKM juga berjejer rapi menyajikan kudapan, fesyen, hingga kerajinan tangan. Melalui Festival Depok Heritage, jejak panjang Kaoem Depok tidak hanya dikenang, tetapi juga dirawat dan diwariskan.

“Selamat warga Depok kita resmikan Kawasan Heritage di Depok Lama mudah-mudahan kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya dengan lebih baik dan dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat,” ucap Supian, usai membuka acara tersebut.

Peresmian Mini Museum Historical Studio

festival heritage depok

Festival Depok Heritage tak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga wisata kuliner, pertunjukan musik, parade budaya, sejarah, dan ruang edukasi tentang masa lalu Kota Depok.

Berdasarkan pengamatan The Stance di lokasi, area festival dipadati warga yang datang bersama keluarga maupun teman. Pengunjung tampak menikmati suasana kawasan heritage sambil berfoto di sejumlah spot bertema Depok tempo dulu.

Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah peresmian Historical Studio, mini museum yang berada di Sekretariat Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) di jalan Pemuda Nomor 72, Depok.

Yayasan tersebut mengelola warisan sejarah dan pelindung komunitas Kaoem Depok, sebutan untuk keturunan para budak yang dimerdekakan oleh tuan tanah Belanda, Cornelis Chastelein, pada abad ke-17.

Kehadiran ruang ini ditujukan agar masyarakat dapat mempelajari sejarah masa lalu Depok. Melalui mini museum tersebut, pengunjung mengenal lebih dekat jejak sejarah Depok lama, termasuk perkembangan kawasan yang menjadi identitas kota.

Bangunan dengan gaya arsitektur Belanda dan berusia lebih dari 300 tahun itu masih terpelihara dengan baik. Kusen yang berada di dalam bangunan itu pun masih asli dan belum ada perubahan.

Memasuki ruang Historical Studio, kita bakal langsung disambut dengan video ilustrasi sejarah kedatangan Cornelis Chastelein, eks-petinggi VOC ke Hindia Belanda hingga menetap di Depok.

Saat memasuki teras bangunan, kita langsung dihadapkan tiga ruangan. Untuk sisi sebelah kiri dan kanan kini dipakai untuk ruangan kantor.

Aneka Foto Bersejarah Terawat dengan Baik

YLCC Depok

Di sisi ruang tengah terdapat kursi panjang yang kini dipakai untuk ruang pertemuan. Di dinding ruangan tertempal berbagai foto sejarah bangunan YLCC dan peta Depok yang dibuat Belanda tahun 1917. Ada juga foto para presiden Kaoem Depok.

"Presiden ini maksudnya bukan pemimpin negara, tapi pemimpin pemerintahan, kalau sekarang bisa dibilang lurahnya," jelas Koordinator Bidang Sejarah YLCC Ferdy Jonathans.

Lalu, ada semacam prasasti yang bertuliskan nama-nama Djemaat Masehi Gereja. Di ruangan tersebut kita juga bisa melihat sisa artefak bangunan YLCC seperti genteng dan lantai asli.

Ada juga surat wasiat dari Cornelis Chastelein untuk menghibahkan tanah-tanah miliknya kepada 150 budaknya. "Kita enggak punya artefak lagi, karena semua di jarah pada saat peristiwa Gedoran 11 Oktober 1945," sebut Ferdy.

Sebagai informasi, setelah Indonesia merdeka, keturunan bekas budak Chastelein ini dianggap tak mendukung kemerdekaan Indonesia. Pecah lah peristiwa gedoran yang berakhir dengan penahanan warga Depok berbahasa Belanda ini.

Sebelum menjadi kantor sekretariat YLCC, bangunan ini dulu adalah tempat tinggal pendeta. Tak jauh dari bangunan ini terdapat Gereja Immanuel. "Pertama kali hanya ada bangunan ini dan gereja saja. Bangunan ini berdiri tahun 1700-an," jelas Ferdy.

Kapitalis Belanda bernama Cornelis Chastelein membangun semuanya. "Dulu, anak buah Chastelein di Depok kalau ibadah harus berjalan kaki jauh ke gereja di Senen, Jakarta Pusat. Oleh karena itu, Chastelein membuat gereja di sini," kata Ferdy.

Jejak Lahirnya Kaoem Depok dan Sebutan Belanda Depok

parade budaya

Kota Depok yang kini bagian dari Jawa Barat, pernah memiliki sistem pemerintahan sipil sendiri, yang dipimpin Presiden.

Sejarah bermula pada 1696, ketika eks-petinggi VOC, Cornelis Chastelein, membeli tanah yang membentang dari Depok Lama, Mampang Depok, hingga Cinere. Statusnya adalah tanah partikelir. Tak terikat Hindia Belanda.

Chastelein, yang bekerja di VOC sejak usia 17 tahun, ketika itu memutuskan keluar dari perusahaan karena tak sejalan lagi dengan VOC. Dia hendak membangun komunitas yang sesuai dengan pemikirannya sebagai seorang Kristen Protestan taat.

Ia membeli 150 budak dari nusantara dan beberapa kawasan di Asia Selatan dan membawa mereka untuk mengolah pertanian-perkebunan di Depok. Mereka diajari baca-tulis, bercocok tanam, dagang, didorong hidup mandiri sebagai komunitas Protestan.

Chastelein meninggal dunia pada 28 Juni 1714. Tiga bulan sebelumnya, dia menulis wasiat untuk memerdekakan 150 budaknya dan mewariskan tanah Depok seluas 1.244 hektare kepada mereka.

Para pewaris ini sebelumnya telah dibaptis menganut Protestan. Mereka menyebut komunitas ini sebagai Kaoem Depok dan terdiri dari 12 marga; Jonathans, Soedira, Bacas, Laurens, Leander, Loen, Isakh, Samuel, Jacob, Joseph, Tholense, dan Zadokh.

Dari 12 marga itu, lanjut Ferdy, saat ini yang tersisa hanya 11 marga saja. Satu marga bernama Zadokh dinyatakan sudah punah karena tak memiliki keturunan anak laki-laki.

Para budak yang berasal dari berbagai tempat ini kemudian diajari bahasa Belanda sebagai bahasa utama, dari situlah kemudian muncul istilah Belanda Depok.

Baca Juga: Preman Indonesia: Dulu Dijaga Belanda & Orba, Kini Mesra dengan Partai

Kaoem Depok membentuk pemerintahan sipil berbadan hukum, Gemeente Bestuur Te Depok (Pemerintahan Sipil Depok) pada tahun 1913. Ada Presiden, Sekretaris, Bendahara yang bertugas mengatur kesejahteraan, pertanian, dan pendidikan komunitas.

Sebanyak 9 presiden sempat memimpin Kaoem Depok dengan kepresidenan terakhir pada tahun 1952. Presiden Depok ke-9 sekaligus yang terakhir, Johannes Mathijs Jonathans, menyerahkan tanah partikelir Depok kepada Republik Indonesia.

Kaoem Depok lalu mendirikan YLCC pada 4 Agustus 1952, untuk meneruskan pengelolaan aset peninggalan Chastelein dan pelestarian sejarah.

Saat ini, menurut Ferdy, keturunan Kaoem Depok berjumlah lebih dari 3.000 orang yang tersebar di luar Depok. Salah satunya adalah pesepakbola yang juga diaspora Miliano Jonathans, gelandang serang klub Belanda Utrecht, yang punya darah Depok.

Miliano memiliki garis keturunan Indonesia dari sang kakek yang bernama Willem Maximilian Jonathans. Kakek dari ayahnya itu lahir di Depok, 27 November 1957.

Terlahir di Belanda, dia memilih membela tanah leluhurnya dan menyandang status warga negara Indonesia (WNI) setelah menjalani program naturalisasi kewarganegaraan yang dibuat Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Tautan sejarah demikian yang coba dibangun lewat Festival Heritage Depok Lama, agar masyarakat Depok mengerti warisan sejarahnya sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap identitas budaya Kota Depok yang multikultural. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance