Oleh Budi Laksono, dikenal sebagai “Dokter Jamban” setelah mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) atas dedikasinya membangun jamban berkelanjutan terbanyak di Indonesia, melalui yayasannya Wahana Bakti Sejahtera. Dosen Disaster Management Universitas Diponegoro (Undip) ini kerap jadi relawan di daerah bencana.

Ketika kita dijajah Belanda, juga bangsa lain dijajah negara Eropa lainnya, banyak penulis pada masa yang bercerita tentang keagungan Hindia Belanda sehingga menopang Netherland jadi negara agung, terkaya di Eropa.

Bukan saja para penulis penjajah, tetapi penulis pribumi, terutama ambtenar menulis hal yang sama.

Hingga akhirnya, Sutomo yang dicerahkan gurunya Dr. Wahidin--dan setiap hari melihat pribumi yang dihinakan dan sengsara sakit di pangkuannya, akhirnya mengetahui bahwa ada ketimpangan, ketidakadilan rasial.

Dari jutaan rakyat yang tak tahu apa arti sejahtera, Tuhan memunculkan orang orang yang sadar dan peduli.

Tuhan Yang Maha Pengasih memunculkan orang-orang, pemimpin yang mendapat wahyu kharismatik Ilahi, memimpin menuju merdeka. Dari sini, maka bolehlah kita rendah hati, menyatakan kepemimpinan diturunkan zatnya oleh Tuhan.

Bukan hanya bangsa Indonesia. Setiap bangsa mendapat zat tersebut seperti Nelson Mandela yang 32 tahun dihukum hingga akhirnya memimpin Afrika Selatan untuk mandiri.

Tuhan menurunkan kharisma dan zat tertentu bila memang bangsa atau manusia yang sengsara tak mendapati pimpinan yang muncul. Sering kali sebuah bangsa terus sedih tanpa pemimpin dan kharisma karena menikmati kekacauan dengan kepasrahan.

Pentingnya Manunggal dengan Rakyat

Wabah Campak di Sumenep (Foto : Sumenepkab.go.id)

Mirip tulisan saya 15 tahun lalu, "AIDS pada Suatu Bangsa". Bangsa yang sumber antibodinya sudah ikut sakit sehingga infeksi ringan, kasat mata, tidak mampu diatasi. Eropa pernah mengalami hal sama ketika Tuhan turunkan azab Siphilis, Kolera dll.

Tetapi dengan ilmu dan kelicikannya, mereka bisa ngapusi Tuhan, persis seperti umat Musa yang memusuhi Tuhan, beberapa waktu setelah diberi mukjizat, Laut Merah terbelah.

Eropa kuasai ilmu sebab-akibat infeksi dengan ilmu kedokteran moderen yang basisnya adalah kejujuran ilmiah sunatullah, dan ilmu sebab-akibat pemimpin yang bikin gagal bangsa dengan ilmu demokrasi dan trias politica-nya.

Bahkan Eropa dan Amerika Serikat (AS) merayu Tuhan dengan kalimat: TUHAN ADA DI SETIAP HATI RAKYAT. SUARA RAKYAT, SUARA TUHAN.

Dari itulah Tuhan memaafkan Eropa dan berjayalah hingga kini. Walau kini Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku Eropa dan Barat yang seakan menafikan ajaran dasar Tuhan soal keadilan manusia, dan harkat manusia soal kemanusiaan (dengan LGBT).

Pertanyaannya kenapa Tuhan biarkan Eropa, walau mereka menjajah bahkan menggenosida Indian, Aborigin, Asia dengan kejinya? Kita tak pernah tahu, tetapi mungkin karena rakyat Eropa masih bawa suara Tuhan saat itu. Kuncinya adalah rakyat.

Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa kali kita berpikir, Tuhan akan beri pemimpin yang membawa bangsa menuju sejahtera. Pemimpin yang membawa suara Tuhan dari mulut para rakyatnya. Tetapi banyak yang meragukan campur tangan Tuhan.

Rakyat dan Pemimpin Harus Bersama-sama

pemimpin gila

Terus bagaimana kepemimpinan bisa hebat seperti Eropa saat menjajah bangsa Selatan dan Timur? Kalau pemimpin berjuang nyata hasil untuk rakyat, maka rakyat akan berdoa agar dijaga pemimpinnya.

Tetapi kalau rakyat menista pemimpinnya karena dianggap tidak berjuang bagi rakyat, maka Tuhan pasti datangkan bencana. Lalu bagaimana karakter pemimpin yang akan didoakan rakyat dan dijaga Tuhan?

Pemimpin itu harus ING NGARSO SUNG TULODO. Teladan gaya hidup, teladan sederhana seperti keadaan sebagian besar rakyatnya. Anti ketidakadilan dan korupsi-kolusi-nepotisme (KKN).

Bagaimana pemimpin bergaya hidup dan teladan rakyat kalau rakyatnya sendiri HEDONIS, EKONOMI PRAGMATIS, JAUH DARI TUHAN ?

Saya jadi ingat Gunung Semeru. Walau tinggi, gunung itu dibentuk oleh pasir. Kenapa lumpur Lapindo tidak memunculkan gunung? Karena lemah, lunglai sehingga setiap kemunculan pemimpin selalu longsor ke bawah.

Artinya, KALAU KITA INGIN PEMIMPIN YANG KUAT, GAYA HIDUP BAIK, ANTI KKN DLL, maka jangan mikir orang lain yang harus kuat. Kita bersama harus menguatkan diri, sehingga memunculkan level orang dari lingkungan kita yang lebih tinggi.

Dan ketika banyak dari kita membentuk komunitas kuat seperti itu, maka akan muncul pemimpin yang lebih tinggi kuat dan mewakili diri kita. Kehendak kita.

Baca Juga: Refleksi Harkitnas: Masih Relevankah Nilai Kebangkitan Saat Ini?

Maka, selain banyak bicara, mari kita kuatkan diri kita, sekitar kita, perilaku jujur, anti KKN, peduli orang lain dll.

Selain Kuasa Tuhan untuk menurunkan pemimpin, kita bersama bisa menciptakan pemimpin kalau bersinergi menjunjung perilaku baik yang dibingkai pendahulu kita dalam PANCASILA.

Kalaupun memang ada yang kurang, mari update dan pelajari dan ikuti konsep perilakunya. Bismillah, negara jadi sehat sejahtera waldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance