
Oleh Agus Muhammad Hatta, akademisi peraih gelar profesor di bidang fotonik, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS).
Ruang kerja Institut Teknologi Surabaya (ITS), Jumat 22 Mei 2026 petang. Saya menatap layar laptop. Membaca laporan Nature edisi Mei 2026. Ada satu judul menarik: "It is incredible: How AI is transforming mathematics."
Laporan itu bercerita tentang Liam Price. Anak muda berusia 23 tahun, tanpa pendidikan formal matematika, belum pernah mengenyam bangku kuliah. Tapi ia baru saja memecahkan soal matematika kelas dunia. Erdős Problem #1196.
Teka-teki rumit warisan Paul Erdős. Matematikawan yang hidupnya hanya untuk angka. Liam tidak sendirian. Ia dibantu mesin. Tepatnya, GPT-5.4 Pro. Versi terbaru ChatGPT dari OpenAI, platform kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ketika kabar ini sampai ke Terence Tao, matematikawan peraih Fields Medal, profesor di University of California Los Angeles (UCLA), reaksinya tidak biasa. Bukan marah. Bukan meremehkan.
Ia terpana, dan bahkan ikut serta dalam tim yang memverifikasi serta mengembangkan hasil tersebut. Bukan semata karena soal itu terpecahkan. Tapi karena cara ia dipecahkan.
Selama ini, para ahli mendekati soal ini dengan teknik-teknik yang sudah mapan. GPT berbeda. Ia menemukan koneksi yang tak terduga.
Metode matematika berusia 90 tahun bernama Markov chains with von Mangoldt weights, yang selama ini tak pernah ada yang memikirkan untuk diterapkan pada soal ini.
Jared Lichtman, matematikawan Stanford yang turut memverifikasi hasilnya, menganalogikannya seperti AI yang menemukan pembukaan catur baru yang tak terpikirkan manusia karena terlalu terikat pada estetika dan konvensi lama.
Mesin Ikut Mengembangkan Ilmu

Sejak Euclid menyusun geometri di Alexandria. Sejak Newton menurunkan kalkulus. Sejak Ramanujan bermimpi rumus-rumus ajaib lalu menuliskannya, matematika selalu menjadi percakapan sakral. Antara manusia dan kebenaran abadi.
Kini, mesin ikut ambil bagian. Masuk ke percakapan itu. Daniel Litt, matematikawan Toronto yang selama ini skeptis terhadap hype AI, melontarkan kalimat mengejutkan.
Ia heran AI belum membuat terobosan lebih besar. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena seharusnya sudah bisa.
"Pengetahuan mereka terhadap matematika sudah melampaui manusia," katanya. Tapi sistem ini masih mengolah ulang teknik lama. Belum menghasilkan sesuatu yang radikal.
Belum. Kata itu penting. Namun ada satu hal yang perlu dicatat dengan jujur. Terobosan Liam Price bukan semata soal ia dan mesin bekerja sendiri.
Output awal AI ternyata "cukup buruk" dan memerlukan penyempurnaan dari matematikawan profesional. Yang terjadi adalah kolaborasi berlapis. Eksplorasi intuitif seorang amatir, kecepatan penalaran mesin, lalu validasi ketat para ahli.
ChatGPT diluncurkan akhir 2022. Hari ini, versi terbarunya memecahkan soal Paul Erdős. Bayangkan tiga tahun ke depan. Semua ini bermula dari satu kata. Transformer. Arsitektur buatan Google, 2017.
Publikasinya berjudul "Attention Is All You Need". Sebelumnya, AI kaku dan primitif. Setelahnya, AI bicara seperti manusia. GPT, Claude, Gemini, lahir dari rahim yang sama. Tapi para ilmuwan tidak berhenti.
Baca Juga: Rumah Tanpa Tiang Kepercayaan
2026, Era Agen. Bukan lagi chatbot tempat bertanya. Ini mesin yang bekerja. AI agent merencanakan, mengeksekusi, mengoreksi. Ia tidak sekadar memberi tahu cara mengajukan izin usaha. Ia yang pergi men-submitt formulirnya.
Gartner memproyeksikan 40% aplikasi enterprise akan terintegrasi AI agent pada akhir tahun ini. Naik delapan kali lipat dari kurang dari 5% setahun lalu. Rekan kerja yang tidak butuh tidur.
2027, Era Fondasi. Model fondasi diproyeksikan menopang 70 persen pemrosesan bahasa global. Melompat jauh dari di bawah 5 persen lima tahun lalu. Dario Amodei dari Anthropic bicara meyakinkan. AI yang melampaui manusia akan lahir di periode ini.
Sam Altman lebih hati-hati. Tapi arahnya sama. Di sudut lain, Yann LeCun, peneliti AI senior dari Meta, menolak percaya bahwa arsitektur model bahasa saat ini cukup untuk mencapai kecerdasan sejati. Perdebatan ini nyata. Hasilnya menentukan nasib kita.
2028, Era Fisik. Kecerdasan ini turun dari server Silicon Valley. Masuk ke tubuh robot di lantai pabrik. Mengudara bersama drone di ladang padi. Menyelusup ke sensor di jembatan tua. Diam-diam menghitung tegangan mekanisnya.
OpenAI menargetkan yang lebih menggetarkan. AI researcher otonom. Ilmuwan mesin. Meneliti sendiri. Menulis sendiri. Menemukan cara membuat dirinya lebih pintar. Ini bukan fiksi. Tapi juga belum kepastian.
2030, Ambang AGI. Google DeepMind menerbitkan makalah 145 halaman. Mereka menyebut AGI. Kecerdasan setara manusia sebagai "plausible". Mungkin. Di dunia teknologi, kata "mungkin" tahun ini, sering berubah jadi "sudah" dua tahun kemudian.
Semua proyeksi di atas adalah peta yang dibuat oleh orang-orang terbaik di bidangnya. Bukan ramalan. Tapi juga bukan khayalan. Di balik deretan lompatan itu, ada pertanyaan krusial.
Ketimpangan Akses Teknologi

Di sebuah desa pesisir Jawa, seorang nelayan tua duduk terdiam. Di tepi perahunya yang usang. Anaknya yang kuliah di Surabaya mengirim pesan. "Pak, ada aplikasi baru. Bisa tahu cuaca laut tiga hari ke depan. Gratis."
Bapak itu tidak punya smartphone. Sinyal di desanya kembang-kempis. Yang dia tahu hanya realitas. Ombak kemarin besar. Ikan makin susah dicari. Liam Price bisa masuk ke percakapan paling canggih di dunia karena ia punya akses.
Alat. Koneksi. Piawai bernalar. Nelayan itu tak punya ketiganya. Ini bukan masalah teknis. Ini masalah keadilan. Revolusi AI berlari sangat kencang. Lebih dari 350 juta orang di seluruh dunia kini rutin memakai AI generatif per bulan (Statista, 2026).
Survei Asosiasi Pengusaha Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2025 mencatat sekitar 27% pengguna internet Indonesia atau puluhan juta orang telah menggunakan AI, meski tingkat literasi AI masih tergolong rendah dengan skor 49,96 dari 100.
Tapi kecepatannya tidak sama untuk semua orang. Yang terhubung, punya internet, fasih berbahasa dan bertanya, akan melesat. Yang tak terhubung akan tertinggal. Kesenjangan digital bukan lagi urusan tidak punya HP. Ini urusan tidak punya suara.
Tapi selalu ada angin dari arah berbeda. Di Kenya, petani mendeteksi penyakit tanaman lewat smartphone murah. Di Bangladesh, AI mengajari anak-anak pelosok membaca.
Di Indonesia, ada inisiatif yang layak dirawat, membangun model bahasa yang mengerti konteks lokal. Dialek Jawa. Idiom Bugis. Logika komunitas adat.
Bukan mesin Amerika yang dipaksa menjawab kegelisahan orang Indonesia. Tapi mesin yang lahir dari rahim pertiwi. "AI for All" tidak boleh sekadar jargon seminar. Ia adalah pilihan. Harus dieksekusi sadar.
Pentingnya Kolaborasi Manusia-Mesin

Kembali ke Liam Price. Anak muda tanpa ijazah itu memecahkan soal Paul Erdős bukan karena mendadak jenius. Bukan karena mesin lebih pintar dari semua matematikawan dunia. Tapi karena terjadinya kolaborasi.
Intuisi manusia bertemu dengan kecepatan komputasi mesin. Manusia membawa rasa ingin tahu. Keberanian mencoba tanpa malu.
Mesin membawa lautan pengetahuan dan koneksi yang tak terbayangkan. Menghasilkan temuan yang tidak akan muncul jika mereka bekerja sendiri-sendiri. AI bukan pengganti manusia. Ia perluasan.
Seperti teleskop memperluas pandangan kita ke bintang-bintang yang tak terjangkau mata. Yang berbeda hanya skala dan kecepatannya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan AI. Ia tidak bisa memutuskan untuk siapa revolusi ini bekerja.
Itu keputusan kita. Pemerintah. Perancang kebijakan. Pengusaha. Guru di sekolah terpencil yang mengajari muridnya cara bertanya pada mesin. Nelayan pesisir Jawa itu layak tahu cuaca laut.
Petani Flores berhak dapat harga pasar yang adil. Anak Merauke layak belajar dari guru terbaik di dunia. Sekalipun guru itu hidup di dalam server yang entah ada di mana. No one left behind.
Bukan kampanye. Ini prasyarat mutlak. Agar revolusi ini tidak berujung tragedi. Liam Price sudah membuktikan. Siapa pun bisa ikut dalam percakapan terbesar zaman ini. Asalkan pintunya terbuka.
Pertanyaannya bukan lagi apakah mesin bisa bernalar. Pertanyaannya, siapa yang boleh ikut berbicara dengannya. Jawabannya, kalau kita mau, adalah semua orang.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.