Jakarta, The Stance — Selama diculik dan diseret ke penjara Ketziot, Israel, para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) mengaku mengalami kekerasan oleh otoritas Israel. Perang kini berlanjut di ranah hukum.
Adalah, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Israel, mengungkap kekerasan tersebut menyusul banyaknya laporan terkait kekerasan bahkan pelecehan oleh otoritas Israel yang mengakibatkan cedera serius.
Mengutip pernyataan Adalah, perlakuan kekerasan itu termasuk beberapa relawan perempuan yang jilbabnya dilepas paksa oleh tentara Israel. Semua fakta baru terkuak selama proses pembebasan para tahanan.
Kasus ini hanyalah puncak gunung es dari masifnya kekerasan seksual oleh Israel meningkat sejak perang genosida dilancarkan terhadap Gaza pada Oktober 2023.
Menyusul insiden tersebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan Israel masuk dalam daftar negara peaku kekerasan seksual dalam konflik (conflict-related sexual violence) pada Jumat, 29 Mei 2026.
Aktivis Jadi Sasaran Serangan Seksual

Tak mudah bagi GSF menembus batas perairan yang dikawal tentara zionis Israel demi mendistribusikan bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan susu bayi bagi warga Palestina.
Namun pada Senin, 18 Mei 2026, armada yang bertolak dari wilayah barat daya Turki itu dicegat militer Israel di perairan internasional sekitar Siprus Mediterania Timur sebelum sempat berlabuh ke Gaza.
Para relawan dari 45 negara itu ditahan--atau menurut hukum internasional statusnya adalah diculik karena operasi itu berlangsung di perairan internasional--dan digelandang ke penjara Ketziot.
Di antara relawan yang ditahan, terdapat lima warga negara Indonesia (WNI): relawan Andi Angga Prasadewa. Selain itu juga ada jurnalis Tempo Andre Prasetyo, jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, dan Inews Rahendra Heruwibowo.
Selama ditahan, para relawan mengaku mendapat penyiksaan dari otoritas Israel yang terkonfirmasi dari bukti visum dari tubuh mereka.
Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Harfin Naqsyabandy menceritakan soal para aktivis yang dipukul, disentrum, ditembak dengan peluru karet, dihina, dilecehkan hingga dipaksa berdiam diri dalam posisi menyakitkan.
Aksi keji Israel itu juga disaksikan dan dibeberkan Andre. Selama disandera Israel, ia melakoni aksi mogok makan atau hunger strike sebagai bentuk protes atas kekerasan yang mereka alami.
“Saya hanya makan dan minum sedikit sebelum dilempar ke Ashdod,” tuturnya setelah kembali ke Indonesia, Ahad, 24 Mei 2026.
Israel Masuk Daftar Hitam

Penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap aktivis GSF menyingkap tabir kejahatan sistematis Israel. Laporan PBB yang disusun Pramila Patten mendokumentasikan kejahatan dan kekerasan seksual masif di Israel sesuai kesaksian tahanan Palestina.
“Pemerkosaan dan pemerkosaan berkelompok, dalam beberapa kasus berulang,dilakukan terhadap sembilan korban, mayoritas warga Palestina dari Gaza,” demikian kutipan laporan PBB.
Perlakuan tak beradab tersebut terjadi terutama selama penahanan dan interogasi di beberapa lokasi, termasuk kamp militer, di pos pemeriksaan, dan selama operasi militer Israel di Palestina.
Serangan juga menyasar jurnalis dan relawan kemanusiaan, bahkan dalam beberapa kasus pelanggaran tersebut direkam atau difoto.
Perlakuan keji itu terjadi terutama selama penahanan dan interogasi di beberapa lokasi, termasuk kamp militer, di pos pemeriksaan, dan selama operasi militer Israel di Wilayah Palestina.
Serangan juga menyasar jurnalis dan relawan kemanusiaan, bahkan dalam beberapa kasus pelanggaran tersebut direkam atau difoto.
Dilansir Al Jazeera, kekerasan seksual turut dialami warga Palestina di Tepi Barat. Menurut Konsorsium Perlindungan Tepi Barat, aksi para pemukim Israel itu merupakan siasat sistematis untuk memaksa warga Palestina meninggalkan wilayah Tepi Barat.
Israel Membantah, GSF Tantang Rilis CCTV

Sebelum temuan PBB ini mencuat, jurnalis New York Times Nicholas Kristof telah mewartakan kesaksian 14 warga Palestina baik laki-laki maupun perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tentara Israel.
Pelapor khusus PBB bidang kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, Reem Alsalem, menyambut keputusan pencantuman Israel dalam daftar tersebut dengan tegas.
“Sebelumnya saya telah menyampaikan kekecewaan saya karena Israel belum dimasukkan dalam daftar tersebut, mengingat kekerasan seksual yang sistematis, berskala besar, dan mengerikan,” tulis Reem lewat akun X pribadinya.
Merasa terpojokkan, Israel mengecam keras dimasukkannya nama negara zionis tersebut dalam daftar hitam. Mereka balik mengancam akan memutus hubungan dengan kantor Sekretaris Jenderal PBB selama António Gutteres masih memimpin.
Membela serdadunya yang diklaim sebagai "tentara paling bermoral di dunia", rezim Israel menyindir sekretaris jenderal PBB lewat karikatur yang menampilkan António Guterres sebagai penyebar propaganda.
Kementerian Luar Negeri Israel menyebut PBB sebagai organisasi yang telah terkontaminasi kepentingan politik.
“Keputusan PBB yang memalukan dan tidak masuk akan untuk memasukkan Israel dalam laporan CRSV merupakan bukti wajah PBB sebagai organisasi yang telah dipolitisasi dan korup,” demikian pernyataan resmi Kemlu Israel.
Dinas Penjara Israel dan militer juga membantah keras, mengeklaim pelecehan fisik dan seksual, kekerasan, serta penyiksaan yang dilaporkan dan didokumentasikan para penyintas GSF “sama sekali tidak berdasar.”
Dengan kata lain, para relawan itu dituduh berbohong.
Baca Juga: Jiwa-Jiwa Merdeka, Melawan Penjajahan dari Penjara Lewat Karya Sastra
Menanggapi bantahan Israel, dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 1 Juni 2026, GSF menuntut otoritas Israel segera merilis rekaman CCTV yang tidak diedit selama masa penyanderaan para peserta mereka.
GSF menegaskan bahwa beban pembuktian kepatuhan terhadap hukum internasional dan perlakuan manusiawi terhadap tahanan sepenuhnya berada di pihak Israel. GSF juga membeberkan pola penipuan yang mereka sebut berlangsung sistematis.
Menurut GSF, otoritas militer dan negara Israel berulang kali mengeluarkan penyangkalan langsung dan kategoris setelah insiden besar yang melibatkan warga sipil, jurnalis, sukarelawan, dan tahanan.
GSH turut menyoroti berbagai video yang beredar luas yang dirilis oleh Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang memperlihatkan kondisi yang sengaja dibuat merendahkan dan penuh kekerasan terhadap tahanan Palestina maupun aktivis.
Bagi GSF fakta ini justru mempertegas tuduhan mereka terhadap kekejaman yang dilakukan otoritas Israel. Hal ini dipahami bahwa Israel melaporkan sendiri perlakukannya terhadap para aktivis yang mereka sandera. (mhf)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance