
Oleh Sofyan Mohammad, tukang ngarit untuk pakan domba, sehari-hari tinggal di desa sembari menjalankan profesi sebagai pengacara, mengemban amanat sebagai Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Salatiga.
Jika suatu saat daun dijatuhkan
saat malam pekat di antara rekah bintang gumintang
Maka sebenarnya dirimu berkuasa
Berkehendak karenanya
Namun semesta yang ada padamu kau rindapi
dengan angan-angan kecil untuk mengumbar egomu
Syah wak menjadi pelita
Kemapanan menjadi peraduan
Kuda itu kini liar di padang rumput
Kau hanya mencari tanda tanda di antara terang padahal itu gelap
Sementara kau sendiri tidak menghendaki gelap
Tau kah kamu jika kegelapan itu adalah berkumpulnya sinar sinar
Kau selama ini hanya menyabit udara
untuk memuluskan hasrat
Padahal yang kau butuhkan bukan udara itu
Yang berarti howo
Kelak jika sudah sampai waktunya pada kegelapan
Maka hampa adalah berkumpulnya udara udara
Para pecinta akan dipersatukan dengan pecinta
yang berjingkat di antara kuntum bunga
Karena sudah bebas rasa
aroma, asam manis sama saja
Itulah peleburan cinta dan cinta
Untuk mencapai kegelapan yang terang terang
maka dibutuhkan ruang senyap memburu kegelapan
Yang di situlah sinar sinar kecil akan tampak
Karena hanya di waktu gelap kesempatan terang itu ada
Gila adalah waras
Waras adalah gila
Apa yang kau takutkan
Jika Dia menciptakan gila untuk kebenaran
Untuk rindu pada siang Nya
Terasinglah kau pada siang
Muaklah kau pada cahaya siang
Sakitlah kau pada cahaya siang
Berenang lah kau pada lautan yang gelap agar siang yang sebenarnya ada pada diri kita
Karena aku dan Dia menjadi kita
Memang sungguh aneh
Kawan..!!
“Uqalaa-ul Majaaniin” atau orang gila yang waras adalah istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan perspektif cara hidup dan cara berfikir seniman dan para pencinta yang bertolak dari streotip yang muncul dalam hardware-nya yang umum terlihat.
Yaitu, seseorang yang selalu berpenampilan nyentrik, baik gaya busana maupun penampilanya misalnya rambut gondrong awut awutan, tato-an atau tindikan anting di kuping dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan standard ukuran rapi dan sopan.
Dalam berperilaku maka biasanya cenderung idealis, menggebu gebu, unik, nyleneh dan semau gue. Hal demikian karena agaknya orang-orang seperti itu memiliki cara berfikir yang berbeda dengan pada umumnya.
Sosok seperti itu adalah deskripsi umum untuk menggambarkan kehidupan seniman dalam kehidupan sehari-hari yang sering dijumpai.
Seniman sendiri merupakan jenis manusia di mana ketika memiliki rasa cinta terhadap sesuatu maka dia mampu mengolah rasa cinta tersebut menjadi sesuatu yang besar dan memiliki nilai keindahan meskipun terkadang berbentuk hal yang menjijikan bahkan menakutkan.
Seniman adalah tipe manusia yang memiliki rasa cinta dalam tapi mampu menguasai cintanya yang lantas dapat diekspresikan ke dalam bentuk suatu karya tertentu yang meskipun terkadang karya tersebut hanya dapat dinikmati segelintir orang saja.
Karya seni yang fenomenal sering kali lahir dari tangan dingin orang orang yang dianggap "aneh" yang bertolak dari ide-ide liar, brutal dan melawan arus yang disebut dengan "kegilaan" karena konon dunia seni memang penuh dengan "orang gila".
Pemikiran Kreatif yang Melompati Zamannya

Kegilaan ini nampaknya pararel dengan ide dan yang perasaan tajam dalam membedah fenoma, karenanya di dalam dimensi kesunyian sering muncul pemikiran kreatif yang terkadang melompati zamannya.
Bagi ruang pemahaman umum dibutuhkan waktu panjang untuk memahaminya seperti halnya karya pelukis Vincent van Gogh yang melahirkan karya fenomenal di rumah sakit gila.
Atau, karya pelukis Jeihan atau Joko Pekik yang begitu spektakuler hingga lukisannya menjadi bahan penelitian untuk promosi Doctor Astri Wright, seorang peneliti dari Canada di penghujung 1980-an.
Untuk menjadi seorang dengan melahirkan karya atau sekurang kurangnya menjadikan kisah hidup menjadi monumental maka terkadang harus keluar dari kelaziman, keluar dari mainstream, keluar dari kemapanan.
Setelah itu baru dapat memperoleh ide brilian untuk melahirkan karya atau kisah yang spektakuler.
Banyak orang jenius lahir namun dalam kehidupan sehari hari susah ditakar konsep pemikirannya, bahkan sering dicap "majnun" yang diasosiasikan dengan dunia yang banyak diremahkan dan dilecehkan.
Padahal kenyataanya tidak semua orang gila itu tidak waras, ada orang waras dikira gila karena konsep pemikirannya tidak pararel dengan ukuran kolektivitas.
Dalam bahasa cinta, seniman sama halnya dengan pelaku spiritual karena ruang yang dia huni adalah ruang sunyi namun terang dan maha luas, namun terdapat sekat yang menjadi pembatas dengan takaran terang dan luas bagi kebanyakan orang.
Pelaku Spritual Juga Merupakan Seniman

Para pelaku spiritual yang boleh dikatakan juga merupakan seniman adalah orang yang terbiasai berenang dalam samudera kemerdekaan karena terjadi persenyawaan antara pola berpikir integrative, holistic, transformative dan spiritual.
Hal tersebut dalam perspektif pra modern disebut alur berpikir yang mengarah pada pemikiran transedent yang bersinggungan dengan gejala alam, sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo Gusti.
Makro dan mikrokosmos (jagad besar jagad kecil) menurut pandangan filsafat maka akan selalu terkait dengan pola pemikiran waras dengan tanda-tanda alam semesta.
Pemikiran transenden adalah pemikiran lintas sektoral yang menembus ruang dan waktu yang akan sangat susah ditangkap hanya dengan kerangka berpikir logis.
Para spiritualis dan atau seniman akan menggunakan pola simbolik guna memaknai tanda-tanda atau markah.
Menapaki arus zaman serba digital seperti saat ini tentu banyak menyisakan ketimpangan dalam segala aspek kehidupan yang tentu dalam prosesnya ada penyeimbang melalui peran tidak kasat mata dari segelintir orang melalui dunia sunyi nan senyap.
Beberapa orang yang berperan sebagai penyeimbang tersebut adalah orang yang terpilih untuk berperilaku “Uqalaa-ul Majaaniin” yaitu orang gila yang waras.
Pelaku spritual termasuk para seniman adalah representasi orang yang cemas nan gelisah dengan iklim kultural dunia saat ini yang kian terperosok ke lubang modernitas dan gagap terhadap potensi local culture yang sebenarnya sangat istimewa.
Baca Juga: Indonesia dan Martabat Budaya di Era Digital: Menjawab Rasisme dengan Peradaban
Di negeri ini kultur yang adiluhung justru menjadi asing di negeri sendiri karena para generasi mudanya lebih terobsesi dengan budaya pop atau budaya asing yang sebenarnya biasa biasa saja.
Sosial media kini menjadi penjajah baru untuk perubahan budaya masyarakat, serbuan budaya asing seperti wabah yang susah dihentikan, nyaris seperti virus yang mematikan identitas kebangsaan.
Membanjirnya arus informasi dan komunikasi bak kereta cepat yang tak bisa dibendung sekat sekat budaya menjadi terkikis yang membawa ancaman serius berupa hilangnya identitas kebangsaan.
Namun ancaman yang tak kalah serius adalah munculnya tuhan-tuhan baru yang hadir bersama laju kereta cepat tersebut, dalam situasi tersebut maka dibutuhkan peran orang gila yang waras (Uqalaa-ul Majaaniin).
Sudikah kau menjadi satu di antaranya...?***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance