
Oleh Seyyed Mohammad Marandi, pakar Sastra Inggris & Orientalisme di Universitas Teheran, sering tampil di jaringan televisi internasional membahas Asia Barat, kebijakan AS, dan Iran, serta berkontribusi pada Middle East Eye & Tehran Times.. Ia aktif menulis di laman media sosialnya.
Sebuah dialog dilaporkan terjadi antara Ali Larijani dan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebelum kemartiran beliau.
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, datang menemui Ayatollah Ali Khamenei membawa laporan yang dingin—namun hatinya tidaklah dingin.
Setelah hening yang panjang, ia berkata:
"Pemimpinku... kali ini ancamannya bukan sekadar pesan tekanan yang berlalu begitu saja. Sebuah keputusan telah dibuat. Musuh ingin membunuhmu, meski langit pun terbakar oleh rudal-rudal mereka. Kami telah menyiapkan sebuah tempat yang diperkuat, sebuah tempat yang dengan cermat diamankan dan tersembunyi dari semua mata — tempat yang tidak mudah dijangkau bom dan tidak bisa diserang pesawat. Ini bukan bersembunyi, pemimpinku... melainkan sebuah kepergian sementara hingga badai berlalu."
Sang Pemimpin terdiam sejenak, lalu perlahan berdiri—seolah sejarah itu sendiri bangkit bersamanya. Beliau mendekat dan bertanya dengan tenang: "Dan ketika kamu datang kepadaku... jawaban apa yang kamu harapkan?"
Larijani menjawab setelah ragu: "Saya berharap Anda akan menolak. Tapi pemimpinku, bangsa ini membutuhkanmu, dan pertempuran ini membutuhkan komandannya."
Jawaban Ali Khamenei

Sang Pemimpin tersenyum—senyuman yang membawa kesedihan sekaligus kebijaksanaan.
"Kamu benar dalam perhitungan negara dan buku-buku keamanan. Tapi mari kita berbicara sejenak dalam bahasa yang lebih tua dari politik. Bagaimana bisa aku meminta seorang prajurit untuk menghadapi kematian jika komandannya menghilang?"
"Bagaimana bisa aku menyuruh rakyat untuk tetap teguh... jika akulah yang pertama meninggalkan medan bahaya?"
Beliau berhenti sejenak, seolah sebuah pintu menuju Karbala telah terbuka di dalam dadanya.
"Kita adalah putra-putra seorang lelaki bernama Husain ibn Ali—sang Imam yang mengetahui takdirnya namun tetap berjalan menuju takdir itu sebagaimana seseorang berjalan menuju janji Allah. Beliau tidak menghilang karena pasukannya kecil—karena beliau memiliki pasukan yang lebih besar di surga."
Larijani menjawab: "Tapi pemimpinku, sejarah bukan hanya satu halaman. Kita juga memiliki Imam Tersembunyi [Imam Mahdi] yang kegaibannya mengajarkan kita bahwa menghilang kadang adalah kebijaksanaan, bukan ketakutan."
Sang Pemimpin menghela napas dan menjawab: "Perbedaannya, Tuan Larijani, adalah ketika sang Imam menghilang, beliau tidak memiliki pasukan maupun bangsa yang mampu membela kebenaran."
"Tapi kita... bagaimana bisa aku menghilang ketika aku memiliki bangsa yang sedang berjuang? Bagaimana bisa aku lenyap sementara para prajuritku berdiri di bawah hujan api?
"Ketika seorang pemimpin menghilang saat ia sendirian, mungkin itu adalah kebijaksanaan. Tapi ketika seluruh bangsa berdiri di belakangnya, kepergiannya mungkin akan menjadi pertanyaan berat dalam nurani sejarah."
Berwasiat pada Keluarga

Larijani terdiam, tak mampu menjawab. Sang Pemimpin berjabat tangan dengannya, berterima kasih atas kepeduliannya.
Setelah Larijani pergi, beliau mengumpulkan keluarganya* dan menceritakan tentang tawaran itu—sebuah tempat aman di mana mereka bisa pergi hingga perang berakhir.
Mereka memandangnya sebagaimana anak-anak memandang makna kehormatan dan dengan sederhana berkata: "Kami ada di mana pun engkau berada."
Dan begitulah lelaki itu tetap di tempatnya—bukan karena ia tidak mengetahui bahayanya, melainkan karena ia mengetahui sesuatu yang lebih dalam:
Beberapa pemimpin, ketika mereka menghilang dari kematian, mungkin juga menghilang dari ingatan bangsanya. Bagaimana kita hidup adalah hal yang sangat penting, namun demikian pula dengan cara kita meninggal dunia.***
Baca Juga: Perjuangan "Langitan" Versi Yahya Sinwar: Bertaruh Nyawa di Medan Karbala
*) Keterangan Redaksi: tradisi mengumpulkan keluarga untuk memberikan pilihan pada mereka untuk tinggal atau pergi sebelum peperangan puputan diteladankan oleh Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, putra Fatimah binti Muhammad SAW jelang Tragedi Karbala, direkam dalam sejarah dan diabadikan dalam berbagai karya seni populer.
Ali Khamenei syahid bersama keluarga dan staf setianya. Mojtaba Khamenei ikut memutuskan bergabung sehingga terkena bom. Namun takdir berkata lain. Ia selamat dan kini dipilih untuk menggantikan posisi ayahnya dan meneruskan panjinya.
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.