
Oleh Didi Sugandi, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), pernah mengajar di program Training for Trainer (TOT) SIDEKA (Sistem Informasi Desa dan Kawasan) Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) dan turut mendirikan lembaga nirlaba Combine Resource Institution (CRI) pada tahun 2000.
Ada seseorang yang sebenarnya memiliki seekor unta tetapi ia tidak tahu bahwa ia memiliki unta. Kemudian unta itu hilang.
Ia tidak mengetahui apa yang hilang. Ia hanya merasa: "Ada sesuatu yang hilang, aku kehilangan sesuatu; Aku harus mencarinya"
Sebenarnya beberapa kali ia berpapasan dengan unta tersebut tetapi karena dia tidak tahu apa yang hilang, ia tidak merasa menemukan apa-apa
Setelah lama mencari-cari, sambil berpikir-pikir tentang apa sebenarnya yang ia cari, ia bertemu dengan untanya kembali.
Kali ini ia curiga. Pada saat itulah ia baru menyadari: "oh ternyata aku kehilangan untaku"
Hidup ini seperti orang yang kehilangan unta. Kita tidak tahu apa yang hilang dari kita sampai saat kita menemuinya kembali.
Kalau sering kita menemuinya--menemui unta kita--kita tak akan pernah kehilangan unta. Unta itu sering ingin bertemu denganmu tetapi kamu sibuk terus.
Jangan Kehilangan Hati

Mencius (Meng Chu) muridnya Confucius (Kong Hu Chu) pernah berkata:
“All learning is nothing other than to seek for the lost heart”.
Dalam pemahaman ketimuran, lama sudah diyakini bahwa hati atau kalbu adalah "perasaan yang mampu berpikir" dan sekaligus juga adalah "pikiran yang mampu merasakan"
Ketika seseorang kehilangan hatinya, tidak ada seorangpun bisa menunjukkan jalannya; Yang bisa dilakukan oleh orang lain adalah sekedar membantu orang itu menemukan kembali hatinya yang hilang itu.
Kalau bersekolahnya semua anak-anak karena ingin belajar untuk mengerti—bukan sekedar untuk “jadi orang”—maka negeri ini akan lain wujudnya.
Kalau beragamanya semua anak-anak karena ingin belajar untuk mengerti—bukan sekedar mengejar masuk surga—maka negeri ini akan lain wujudnya
Kalau mengertinya anak-anak karena ingin selalu berada di dalam kearifan yang sejak semula memang setiap orang memilikinya, mereka tak akan perlu mencari-cari kearifannya.
Ketika belajar tidak lagi di dalam yang mengetahui, tidak lagi di dalam kearifan dirinya sendiri, seseorang akan mencari-cari kearifannya sendiri—mencari-cari unta dia yang hilang.
Baca Juga: Takdir Mubram dan Cinta Seorang Ibu: Pelajaran dari Pejuang Cerebral Palsy
Ketika belajar menjadi mengerti menjadi bukan yang dirindukan seseorang, ada sesuatu gambaran masa depan yang semu. Palsu.
Berumah di dalam yang mengetahui ialah di dalam kearifannya sendiri yang menjadikan seseorang mengerti dirinya dan mengerti banyak sekali hal di luar dirinya.
After all, berada di dalam yang mengetahui lebih memungkinkan seseorang untuk bisa berada di dalam, atau sekurang-kurangnya dekat dengan Yang Maha Mengetahui.
"What you seek is seeking you" (Rumi)
Mari menemui bukan mencari karena sesiapa yang menemui akan menemukan. Ketika saya bertemu, bergaul dengan teman-teman di sini, saya terbantu untuk menemukan diri saya sendiri, yaitu jalan berpikir saya sendiri.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.