Oleh Didi Sugandi, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), pernah mengajar di program Training for Trainer (TOT) SIDEKA (Sistem Informasi Desa dan Kawasan) Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) dan turut mendirikan lembaga nirlaba Combine Resource Institution (CRI) pada tahun 2000.

Kalau saya menginginkan sesuatu tapi saya mengatakan tidak menginginkan hal itu di situ saya berbohong. Kalau saya menginginkan sesuatu tetapi tidak mau, dalam hal ini saya berdusta.

Mencari tahu perbedaan antara bohong dan dusta akan membuat kita semakin jelas mengapa ada pernyataan (kalimat) berikut: "nikmat mana lagi yang kau dustakan" -- terjemahan dari cuplikan (penggalan) ayat Al-Qur'an (QS. Ar-Rahman: 13)

Memiliki keinginan ("kemampuan untuk ingin", "untuk menginginkan sesuatu") adalah sebuah nikmat.

Kenapa seks enak, nikmat bagi manusia? Karena sudah ada kemampuan untuk merasakan hal itu sebelumnya, sudah eksis di dalam diri manusia, sebelum manusianya "having sex" atau "make love", sebelum ia ngeseks.

Saya tidak tahu apakah pada binatang terdapat atau tidak terdapat kemampuan untuk merasakan nikmat(nya) seks.

Jika memang ada barangkali--atau mestinya--kita bisa temukan beberapa binatang yang hobinya ngeseks di mana-mana cuma buat ngeseks saja--just for sex, just for the fun of it--bukan untuk melanjutkan keturunan.

Ketika kita bisa merasakan nikmatnya rasa kopi ketika kita menyeruput kopi, pada saat itu kita memenuhi sebuah keinginan yang sudah ada--pre-existing, sudah hadir--di dalam diri kita.

Dan, kemudian keinginan itu menjadi terpenuhi pada saat--pada peristiwa--kita menyeruput kopi itu.

Tanpa adanya keinginan (nikmat) itu di dalam diri saya sebelum saya menyeruput kopi tadi maka tidak mungkin kopi tadi akan terasa enaknya, nikmatnya, bagi diri saya.

Baca Juga: Aku Adalah Rahasia yang Ingin Diketahui

Dengan "tidak mau" (seperti dalam kasus-kasus yang banyak bisa kita temui: "ingin tetapi tidak mau") maka kita sedang menyangkal (deny) nikmat tersebut. Berdusta adalah menyangkal bukan berbohong (lying). Dusta adalah penyangkalan (denial).

Kaitannya--relevansinya--dengan kalimat Baduy: "Lamun hayang kudu daek ngarah bisa" ("Kalau ingin harus mau supaya bisa") adalah perkara konsekuensi: Seandainya memang benar-benar tidak mau janganlah pernah menginginkan.

Dalam pernyataan yang terakhir ini manusia tidak mendustakan--tidak menyia-nyiakan, tidak menyangkal--kemampuan dia untuk menginginkan sesuatu (not denying the faculty of wanting something).

Ini hanya persoalan di mana "dalam kasus tersebut saya tidak menggunakan kemampuan tersebut".

Dengan penetapan (decision) seperti itu manusia akan terhindar dari penyia-nyiaan kemampuan (nikmat) yang manusia miliki, yang sudah diberikan kepada--dimiliki oleh--setiap manusia sejak ia dilahirkan.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.