The Stance – Laut Aral di Asia Tengah pernah menjadi salah satu danau terbesar di dunia. Airnya yang luas menopang kehidupan nelayan dan petani dengan padang rumput menghijau dan hasil alam yang melimpah.

Mulai 1960-an, air sungai yang mengisi danau itu dialihkan oleh Uni Soviet untuk mengairi perkebunan kapas. Akibatnya, dalam beberapa dekade, danau menyusut. Dasar danau yang tersingkap berubah menjadi gurun garam beracun bernama Aralkum.

Angin meniup debu garam dan pestisida, merusak lahan pertanian di sekitarnya, mematikan tanaman, dan membuat iklim semakin ekstrem. Tanah yang dulu subur kini tandus, tidak mampu lagi menopang kehidupan.

Tragedi Laut Aral, yang berlokasi di perbatasan Uzbekistan dan Kazhakstan, dapat pula menimpa sebuah negara.

Misalnya Indonesia, negeri berpendapatan menengah atas dengan sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, dan penduduk produktif, bisa saja merasakan nasib yang sama: dari makmur menjadi miskin.

Sebagaimana tanah subur yang berubah tandus karena pengelolaan yang salah, kemakmuran sebuah bangsa juga bisa terkikis jika fondasinya diabaikan.

Berikut ini beberapa situasi di Aral yang berisiko terulang di Indonesia, jika kita tak belajar darinya.

Keanekaragaman Hayati Rusak Akibat Eksploitasi

penggundulan hutan

Pertama, kerusakan lingkungan. Indonesia memiliki hutan tropis, tanah gunung berapi yang subur, laut yang kaya, dan keanekaragaman hayati luar biasa.

Namun, deforestasi demi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan perluasan lahan pertanian sering dilakukan tanpa perencanaan jangka panjang.

Seperti pengalihan air di Aral Sea yang mengorbankan ekosistem demi satu komoditas, monokultur sawit dan eksploitasi berlebihan dapat merusak kesuburan tanah, menyebabkan erosi, banjir, dan kekeringan.

Ketika tanah kehilangan kemampuan menahan air dan nutrisi, produktivitas pertanian menurun. Nelayan kehilangan tangkapan karena kerusakan terumbu karang dan pencemaran.

Jika pola ini berlanjut, kekayaan alam yang menjadi modal utama bangsa akan berubah menjadi beban: lahan kritis, biaya bencana yang membengkak, dan hilangnya daya dukung lingkungan.

Kedua, tata kelola yang buruk dan korupsi.

Di Laut Aral, keputusan politik jangka pendek mengabaikan peringatan ilmuwan. Demikian pula di sebuah negara, korupsi sistemik dapat mengalihkan sumber daya publik dari yang seharusnya investasi produktif ke kepentingan pribadi.

Anggaran infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang bocor membuat jalan rusak, sekolah kurang berkualitas, dan rumah sakit tidak memadai. Investor asing dan domestik akan enggan menanamkan modal jika kepastian hukum lemah.

Ketika institusi negara lemah, kepercayaan masyarakat dan pasar pun runtuh. Kemakmuran yang dibangun bertahun-tahun bisa terkikis dalam waktu relatif singkat.

Ekonomi yang Bergantung pada Komoditas

buah sawit

Ketiga, ketergantungan berlebihan pada sumber daya alam dan komoditas. Indonesia selama ini mengandalkan ekspor batu bara, minyak sawit, nikel, dan produk primer lainnya.

Mereka memang mendatangkan devisa besar dalam jangka pendek. Namun, harganya fluktuatif.

Ketika harga jatuh atau permintaan global berubah karena transisi energi dan isu lingkungan, pendapatan negara bisa anjlok. Jika industrialisasi dan diversifikasi ekonomi tidak berjalan, negeri ini akan rentan terhadap guncangan eksternal.

Sumber daya yang dieksploitasi tanpa hilirisasi dan nilai tambah akhirnya meninggalkan lubang-lubang bekas tambang dan lahan kritis, sementara masyarakat setempat tetap miskin.

Keempat, kegagalan membangun sumber daya manusia. Tanah subur membutuhkan tanaman yang dikelola dengan baik. Demikian pula, penduduk yang besar hanya menjadi bonus demografi apabila mereka berpendidikan, sehat, dan terampil.

Jika kualitas pendidikan stagnan, angka stunting tinggi, dan keterampilan tenaga kerja tidak sesuai kebutuhan industri modern, maka generasi muda tidak mampu bersaing. Brain drain terjadi: orang-orang terbaik mencari peluang di luar negeri.

Tanpa investasi serius di pendidikan, riset, dan kesehatan, produktivitas nasional menurun. Negara yang seharusnya menikmati bonus demografi justru menghadapi beban pengangguran dan kemiskinan struktural.

Jangan Abaikan Mitigasi dan Adaptasi

banjir aceh

Kelima, dampak perubahan iklim dan bencana. Indonesia adalah negara kepulauan yang rentan terhadap kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan bencana hidrometeorologi.

Jika mitigasi dan adaptasi diabaikan, lahan pertanian di pesisir dan dataran rendah bisa tergenang atau mengalami salinisasi, mirip dengan tanah di sekitar Laut Aral yang menjadi asin.

Biaya pemulihan bencana menguras anggaran negara, sementara produktivitas ekonomi terganggu. Kombinasi kerusakan lingkungan lokal dan perubahan iklim global dapat mempercepat proses “pendangkalan” kemakmuran.

Keenam, ketimpangan sosial dan polarisasi. Ketika pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir orang, sementara mayoritas merasa tertinggal, kohesi sosial melemah.

Konflik agraria, ketegangan antar kelompok, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dapat menghambat pembangunan.

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang makmur sekalipun bisa terjerumus ke dalam kemiskinan relatif atau bahkan absolut jika ketidakadilan dibiarkan menggerogoti fondasi sosial. Suatu bangsa tidak mungkin jatuh miskin dalam semalam.

Seperti tanah subur yang perlahan kehilangan kesuburannya, kemakmuran Indonesia bisa terkikis melalui rangkaian keputusan yang tampak rasional dalam jangka pendek tetapi merusak dalam jangka panjang.

Eksploitasi alam tanpa regenerasi, korupsi, ketergantungan pada komoditas, pengabaian sumber daya manusia, dan kelalaian menghadapi perubahan iklim adalah jalur yang bisa membawa negeri ini ke Laut Aral: kaya di masa lalu, tandus di masa depan.

Baca Juga: Krisis Iklim Indonesia Tak Dapat Diselesaikan dengan Pompa Air

Tanah yang rusak memang sulit dipulihkan, tetapi tidak mustahil jika ada upaya serius dan berkelanjutan.

Demikian pula dengan sebuah negara. Indonesia masih memiliki modal besar: sumber daya alam yang belum sepenuhnya rusak, penduduk muda, posisi geografis strategis, dan pengalaman demokrasi.

Apabila pengelolaan sumber daya dilakukan secara bijak, korupsi ditekan, pendidikan dan kesehatan diprioritaskan, ekonomi didiversifikasi, dan lingkungan dilindungi, maka jalur menuju kemiskinan dapat dihindari.

Sejarah Laut Aral mengingatkan kita bahwa kemakmuran bukanlah takdir abadi.

Ia adalah hasil dari pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap alam, institusi, dan manusia. Indonesia yang kini relatif makmur bisa tetap sejahtera, atau justru menjadi miskin, tergantung pada pilihan yang diambil hari ini.

Seperti petani yang menjaga kesuburan tanahnya, bangsa ini harus menjaga fondasi kemakmurannya agar tidak berubah menjadi lahan tandus yang hanya menyisakan penyesalan. (ipn)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance