Oleh Makmur Idrus, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan aktivis senior Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan yang juga mantan birokrat di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan selama lebih dari 30 tahun. Kini, berkiprah di politik praktis dengan bergabung di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam peta Muktamar, Gerakan Pemuda (GP) Ansor dapat menjadi jembatan antara struktur Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) dan kekuatan muda NU di akar rumput.

Sementara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dapat menjadi gelombang intelektual dan jaringan alumni yang membentuk opini serta arah komunikasi.

Apabila Gus Yahya mampu mempertahankan dukungan jaringan GP Ansor, menjaga hubungan dengan alumni PMII, serta mengonsolidasikan struktur Jawa, posisinya sebagai petahana akan tetap sangat kuat.

Sebaliknya, apabila Prof. Nasaruddin mampu menyatukan dukungan luar Jawa, memperoleh kepercayaan para kiai, serta menggerakkan kedekatan emosional jaringan PMII dan alumni GP Ansor, kontestasi dapat berubah secara cepat.

Dalam konteks tersebut, Gus Ipul (Syaifullah Yusuf) dapat menjadi salah satu simpul penting.

Jaringan kader GP Ansor era 2000-an yang dahulu tumbuh pada masa kepemimpinannya kini telah menyebar dan menduduki berbagai posisi strategis dalam Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU).

Namun, pengaruh tersebut tidak boleh dibaca secara sederhana seolah-olah seluruh alumni GP Ansor akan bergerak dalam satu barisan.

Siapa yang Sedang Menguasai Panggung?

PBNU

Politik Muktamar NU jauh lebih cair. Hubungan pesantren, keputusan kiai, kepentingan daerah, dan dinamika internal cabang dapat mengubah arah pilihan.

Di sinilah Muktamar NU menjadi lebih rumit daripada sekadar hitung-hitungan jumlah cabang. Dukungan formal dan dukungan kultural tidak selalu berjalan dalam garis yang sama.

Seseorang mungkin memperoleh janji dukungan di ruang terbuka, tetapi pilihan dapat berubah setelah terjadi pertemuan para kiai.

Sebaliknya, tokoh yang terlihat tidak banyak bergerak dapat memperoleh dukungan besar karena bekerja melalui jalur silaturahmi, kepercayaan, dan komunikasi senyap.

Pada permukaan, Gus Yahya masih terlihat menguasai panggung. Ia adalah Ketua Umum PBNU, mempunyai kekuatan struktur, jaringan pesantren Jawa, hubungan dengan Ansor, serta pengalaman memimpin organisasi selama satu periode.

Namun, panggung sesungguhnya tidak hanya berada di Gedung PBNU, pertemuan resmi, atau ruang media.

Panggung Muktamar berada di hati para kiai, keputusan PWNU dan PCNU, percakapan para pengasuh pesantren, serta konsolidasi Banom dan jaringan alumni. Di ruang inilah Prof. Nasaruddin mempunyai peluang besar.

Dukungan kepadanya mungkin belum seluruhnya terlihat di permukaan, tetapi dapat tumbuh melalui jaringan luar Jawa, alumni PMII, akademisi, birokrat, serta para kiai yang menginginkan suasana baru.

Peta Masih Mudah Berubah

Munas

Empat puluh enam hari masih cukup panjang untuk mengubah peta.

Dalam politik Muktamar, satu keputusan ulama dapat memindahkan dukungan. Satu pertemuan dapat mengubah sikap. Satu kesalahan komunikasi juga dapat meruntuhkan konsolidasi yang dibangun berbulan-bulan.

Gus Yahya memiliki struktur, pengalaman, dan panggung. Prof. Nasaruddin memiliki momentum, jaringan intelektual, serta harapan besar dari luar Jawa.

GP Ansor mempunyai jaringan kader hingga akar rumput. PMII mempunyai kekuatan intelektual dan jaringan alumni. Generasi Ansor tahun 2000-an kini banyak berada dalam lingkaran kepemimpinan wilayah dan cabang.

Gus Ipul mempunyai jejak panjang dalam pembentukan jaringan kader tersebut. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan para kiai, PWNU, PCNU, dan muktamirin.

Pertanyaan terpenting akhirnya bukan hanya siapa yang mampu memenangkan Muktamar, tetapi siapa yang mampu mempersatukan NU setelah Muktamar selesai.

Baca Juga: Gus Yahya vs Nasaruddin Umar (2): Ke Mana GP Ansor, PMII, dan Para Alumninya?

Ketua Umum PBNU bukanlah jabatan untuk menghukum pihak yang berbeda pilihan.

Ia adalah amanah untuk merangkul seluruh kekuatan jam’iyah, menjaga marwah ulama, memperkuat pesantren, melindungi warga Nahdliyin, dan memastikan NU tetap menjadi rumah besar seluruh Nusantara.

Gus Yahya mempunyai panggung. Prof. Nasaruddin mempunyai momentum. Gus Ipul mempunyai jaringan kaderisasi. GP Ansor dan PMII mempunyai kekuatan alumni.

Namun, para kiai dan muktamirinlah yang memegang keputusan terakhir.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.