
Oleh Ilham B. Saenong, penulis Buku Hermeneutika Pembebasan, kini aktif sebagai Manajer Pengembangan Program untuk Kebebasan Sipil di Era Digital pada Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis Foundation).
Tidak pernah saya perhatikan baik-baik bahwa kita hidup sezaman dengan Jürgen Habermas.
Tidak sampai kabar duka bersahut-sahutan secara internasional yang kecepatan dan keluasan sebarannya bisa saja menyaingi Perang Iran melawan Israel-Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini.
Setidaknya itulah yang terjadi dunia alternatif yang saya alami di luar tubuh sosial saya hari ini.
Adalah sebuah keanehan tersendiri, sebab Habermas telah memberi pengaruh besar pada diri saya seperti juga Fazlur Rahman dan Hassan Hanafi dari tradisi pemikiran Islam.
Memang saya tidak langsung mengenalnya dan tidak dari awal mula, tapi justru dari pemikiran guru-guru atau pemikir besar yang membangun dan mengembangkan Mazhab Frankfurt.
Berawal dari Buku Sindhunata

Hari itu di kamar tengah dari rumah sewaan kami di Jogja, saya menemukan sebuah buku yang masih sangat rapi.
Shindunata telah mempublikasikan disertasinya menjadi buku tentang "Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik masyarakat modern oleh Max Horkheimer dalam rangka Sekolah Frankfurt".
Di dalamnya, Shindunata bisa menyakinkan Anda tentang sebuah mazhab pemikiran yang begitu kritis mempertanyakan bagaimana rasio bukan saja berkuasa dalam kehidupan manusia, tapi juga dan terutama karena ia semakin terinstrumentalisasi.
Rasio, sayangnya, tidak lagi emansipatoris layaknya dulu ketika berhasil membebaskan manusia dari kungkungan mitos dan keyakinan dogmatis agama.
Namun betapapun buku itu dapat membuai dengan flow of idea dari Shindunata dan ketajaman yang ditawarkan Horkheimer, dia menyisakan sebuah kekosongan. Lalu ada apa setelah modernitas gagal dan rasio malah membelenggu manusia?
Kekosongan itu begitu kuatnya hingga tidak dapat digantikan oleh Posmodernisme, Posstruktrukturalisme dan neo-Marxisme yang akarnya sebagian berasal dari sumber yang sama dengan Mazhab Frankurt: pemikiran kritis Karl Marx.
Secara paralel, kekosongan serupa dialami oleh tradisi pemikiran masyarakat muslim ketika para pemikir modernisnya memaksakan modernisasi dan modernitas sebagai proyek politik dan peradaban Islam.
Terjerat pada Situasi Poskolonial

Bukan hanya masyarakat muslim yang kini memasuki dunia negara-bangsa mulai tercerabut dari tradisi dan rasa otentisitasnya, juga mereka tidak menemukan modernitas sebagai solusi yang tepat atas masalah laten kondisi poskolonial.
Misalnya: ketertindasan, kemiskinan, kesenjangan, dan ekspolitasi manusia dan alam yang lahir akibat keserakahan kapitalisme-neoliberalisme, bertahannya sistem patrimonial, tirani kelas penguasa politik dan ekonomi warisan penjajah.
Mereka malah menemukan modernitas hanya memajukan pembangunan teknis, namun menimbulkan hilangnya rasa otentisitas dan kebermaknaan dalam diri individu dan kelompok komunitas--yang kini menemukan dirinya harus berjuang dalam harapan dan angka-angka yang menjadi patokan dan obsesi modernisme.
Di hadapan berbagai pilihan sistem bernegara dan cara hidup, pertarungan ideologis berbagai paham dunia justru membawa rezim berganti tanpa perubahan nyata dan mendasar dalam masyarakat.
Sementara di luar sistem otoriter dan teokrasi yang menggantikan despotisme kerajaan, demokrasi sebagai arena pilihan bagi pertarungan politik di banyak negara, termasuk di negeri ini, belum membawa manusia merealisasikan diri dan memenuhi hak-hanya.
Bahkan demokrasi sengaja dibajak oleh kepentingan modal dan elit oligarkis untuk mempertahankan ekstraksi dan struktur kelas yang timpang dalam masyarakat.
Habermas Muncul Sebagai Pembaharu

Untunglah tradisi pemikiran kritis Mazhab Frankfurt tidak berakhir pada nihilisme apalagi banalitas intelektual.
Habermas muncul bukan sebagai pelanjut semata, tapi sebagai pembaharu atau mungkin upgrade yang mencegah manusia jatuh ke limbo yang dalam dan kebuntuan jalan keluar.
Dia menantang bukan saja paradigma, metodologi dan pemikiran dominan dari masa kepercayaan diri manusia yang bersifat positivistik hingga pos-struktukturalis, dia justru melebur dan melampaui mereka semua.
Habermas memang selalu muncul dalam upaya kita memahami modernitas, masayarakat pasca-modern dan pasca-industri, dan bagaimana demokrasi jatuh bangun dan mungkin saja sekarat.
Terhadap rasio instrumental dan dominasi, Habermas menawarkan masyarakat komunikatif yang belakangan menjadi standar bagi demokrasi inklusif.
Dia membuat diskursus lahir kembali sebagai sebagai ruang deliberasi dan kontrol publik yang waras, dan menjadikan kekuasaan tidak lagi terpusat pada penguasa dan modal dalam hubungan vertikal dengan rakyat dan manusia.
Public sphere adalah alat pembebasan yang harus diupayakan, di mana dunia dapat didesain dan permasalahan manusia dapat dicari jalan keluarnya oleh pihak-pihak yang membangun diri, mengakui keberadaan, memposisikan diri secara setara.
Modernitas Masih dalam Proses

Alih-alih memproklamirkan kematian modernitas, Habermas mendeklarasikan "Proyek Modernitas yang Belum Selesai", sebagai simbol dari sebuah kepercayan atas manusia yang terbebaskan.
Dalam ranah hermenutika yang kemudian menjadi minat intelektual saya, Habermas menjadi parameter bagi para hermenut utama kontemporer.
Dari generasinya, Hans-Georg Gadamer mungkin lebih filosofis dan dan Paul Ricoeur bisa saja lebih teknikal, masing-masing berperan penting dalam mendudukan pemahaman dan situasi berada manusia.
Namun Habermas, melebihi mereka semua, adalah hermenut par-exellence dalam merespons dunia kontemporer yang semakin absurd.
Bukan dengan sikap arogan ataupun nihilis, tapi dengan sebuah proyek peradaban baru yang percaya pada harapan dan hikmah manusia.
Saat kami kuliah, setiap orang hebat dipanggil dengan sebutan tokoh yang dia kagumi, atau sekadar harapan yang diproyeksikan padanya, bahkan sekadar kelakar yang disandangkan untuk kami berbagi canda-tawa dan persahabatan.
Laode Arham yang disebut Nietzsche, atau Socrates untuk Zulkarnaen Ishak, dan Ali Noer Zaman yang kami sebut Ahmad Wahib muda. Di lubuk hati, saya hanya ingin jadi sepersekian dari kecermelangan Habermas.
Baca Juga: Obituari Jurgen Habermas (1929-2026)
Lalu kembali ke keanehan di awal, mengapa saya tak tahu masa hidupnya? Mungkin karena daya tarik substansi pemikiran selalu lebih penting dari figur nyata orang tersebut.
Selain itu, kesadaran sejarah mahasiswa saya sangat terfokus pada apa yang menjadi pertarungan di depan mata. Sesuatu yang membatasi diri saya dari horizon lebih luas, bahkan kemampuan memperhatikan siapa yang hidup di luar horizon tersebut.
Untuk ini saya mungkin punya pembenaran. Bukankah, dalam pandangan hermenutika, teks lebih penting dari pengarang itu sendiri karena seringkali bertemu orang yang kita kagumi justru membuat kita tak lagi menghormatinya (karena satu dan lain hal).
Yang pasti saya tidak pernah terbayang bahwa globalisasi akan sebegitunya: bahwa batas-batas tradisional tak lagi nyata, siapapun bisa bertemu dan berguru dengan siapa yang jadi idolanya.
Setidaknya itu yang saya sampaikan kepada Prof. Moch Nur Ichwan saat bersua di Jogja.
Saya tulis penghormatan ini kepada Habermas sekadar ingatan yang melekat dari masa muda yang haus dan berapi-api. Tentulah tidak seakurat pengalaman ahli dan murid-muridnya, seperti Romo Budi Hardiman atau scholar Marcus Mietzner.
Itu semua tidak lagi penting... Kemarin, 14 Maret 2026, Habermas menutup mata di usia 96 tahun di Starnberg, Jerman. Merupakan kehilangan besar bagi dunia filsafat, pemikiran peradaban, politik, maupun sosial-kemanusiaan.
Habermas tetaplah hidup dalam relung-relungku sebagai tipe ideal sebuah pemikiran. Selamat jalan, Prof.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.