Jakarta, TheStance – Komedi di Indonesia seringkali dipandang sebagai komoditas hiburan sesaat, dan bukannya sebagai objek studi kebudayaan serius. Yayasan Jejak Komedi Indonesia berambisi menyusun sejarah komedi Indonesia.
Di balik keriuhan tawa panggung sandiwara rakyat hingga film box office, tidak banyak yang mengerti atau merawat ingatan mengenai asal-usul komedi di Indonesia.
Hal ini dirasakan betul oleh Novrita Widiyastuti saat terlibat di Institute Humor Indonesia Kini (IHIK3). Ia menemukan bagaimana sejarah humor nasional masih gelap.
“Bukan gelap dalam arti negatif, tetapi dalam arti belum ada yang benar-benar mengarsipkan atau mengumpulkan sejarah-sejarah komedi Indonesia dari masa lalu,” ujarnya kepada TheStance, di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Minimnya apresiasi negara dan publik terlihat nyata dalam temuan lapangan Novrita. Selama hampir satu dekade, ia menyaksikan bagaimana aset budaya bangsa ini justru berakhir sebagai "sampah visual" di gudang-gudang.
Berkaca dari Nasib Peninggalan Ateng

Kasus peninggalan maestro Ateng menjadi contoh paling kuat akan betapa rapuhnya perlindungan terhadap artefak komedi di Tanah Air.
Saat menanyakan nasib koleksi almarhum kepada sang anak, Novrita mendapati kenyataan pahit bahwa harta karun intelektual tersebut dibiarkan melapuk di gudang.
“Saya tanya, ‘Koleksi-koleksi almarhum ayahnya masih ada tidak?’ Dia bilang masih ada. Saya tanya lagi, ‘Di mana sekarang?’ Dia menjawab bahwa barang-barang itu ada di gudang dan hanya tersimpan begitu saja, berdebu,” kata Novrita.
Di balik tumpukan debu itu, tersimpan naskah asli yang ditulis tangan langsung oleh para legenda, sebuah dokumen primer yang seharusnya menjadi rujukan studi sosiologi maupun seni pertunjukan.
“Ketika saya tanya, ‘Script atau naskah mereka waktu melawak masih ada?’ ternyata masih ada, bahkan beberapa masih berupa tulisan tangan. Bagi saya itu luar biasa, karena itu sebenarnya harta karun budaya bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Berangkat dari situ dia membentuk Yayasan Jejak Komedi Indonesia. Novrita duduk sebagai Dewan Pembina bersama Danu Baharudin sebagai Wakil Pembina. Komedian legendaris Jarwo Kwat duduk di kursi Dewan Pengawas.
Adapun Pengurus Harian dikelola Yaser Fikri sebagai Ketua Yayasan, sementara M. Yusuf Kemal menjadi Sekretaris sekaligus Project Manager, dan Nia Nuraini sebagai Bendahara.
Artefak Humor Terasing di Ruang Privat

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di kediaman Benyamin Sueib, Tarsan Srimulat, bahkan Indro Warkop, berbagai artefak ikonik mulai dari poster pudar hingga kostum panggung hanya menjadi koleksi personal yang statis.
Padahal, benda-benda tersebut adalah saksi bisu dinamika sosial politik zaman. Novrita mencontohkan sepasang sepatu milik Tarsan dari tahun 1979 sebagai fragmen sejarah yang nyaris tak terjamah publik.
“Pak Tarsan masih menyimpan sepatu tebal yang dipakai ketika tampil bersama Srimulat pada tahun 1979. Hal-hal seperti itu jarang sekali diketahui orang,” katanya.
Kurangnya lembaga formal yang fokus pada preservasi komedi membuat bidang ini tertinggal jauh dibandingkan musik atau film yang sudah memiliki wadah pengarsipan yang lebih mapan.
“Kalau di bidang musik sudah ada Irama Nusantara, lalu di bidang film ada Cinematheque. Komedi belum punya lembaga khusus yang mengarsipkannya,” ujarnya.
Namun ketika memulai yayasan tersebut pada 11 Desember 2025, Novrita menghadapi kenyataan pahit lainnya yakni: dukungan dana publik atau pemerintah yang minim untuk kerja-kerja kebudayaan semacam ini.
DIa terpaksa mengambil langkah berisiko dengan menggunakan dana pribadi—uang pesangon dari pekerjaan sebelumnya untuk membiayai misi yang seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif tersebut.
“Saya pikir uang itu sebaiknya juga bisa memberi manfaat. Akhirnya dengan niat Bismillah, pada 11 Desember 2025 kami menandatangani akta pendirian yayasan,” kata Novrita.
Tantangan Digitalisasi dan Hak Kekayaan Intelektual

Tak ingin sekadar menjadi gudang digital, Yayasan Jejak Komedi Indonesia berambisi membangun basis data digital seputar humor seluruh nusantara dan menjadikannya sebagai bahan bakar proses kreatif para komika dan penulis masa kini.
“Harapannya bukan sekadar mengetahui sejarah sebagai pengetahuan saja. Kami ingin sejarah itu bisa menjadi inspirasi dan juga edukasi,” kata Novrita.
Dia menekankan bahwa memahami pola humor masa lalu adalah cara memahami siklus sosial yang terus berulang.
“Sejarah pada dasarnya selalu berulang dalam bentuk yang berbeda. Kalau kita lihat film-film komedi lama, ada beberapa adegan yang ternyata masih relevan dengan kondisi sekarang,” ujarnya.
Namun, Novrita mengakui ada kendala teknis dan biaya yang menjadi tembok besar dalam proses ini. Mereka sejauh ini baru mampu menjangkau digitalisasi lima film.
Strategi yang diambil pun sangat berhati-hati untuk menghindari sengketa hukum di kemudian hari. “Barang-barang lama itu kami pinjam dari pemiliknya untuk didigitalisasi. Setelah selesai, barang tersebut akan kami kembalikan lagi kepada pemiliknya.”
Keamanan aset intelektual menjadi poin krusial agar perpustakaan tawa digital ini tidak menjadi ladang pembajakan baru. “Kami akan memberikan disclaimer bahwa semua hak kekayaan intelektual tetap milik pemilik aslinya, sehingga tidak boleh dibajak.”
Baca Juga: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono: Nomor 1 di Netflix hingga Dilaporkan Polisi
Bagi komika Panca Atis, ikhtiar tersebut membantu memberikan acuan penting bagi generasi baru komika di Indonesia agar tidak kehilangan arah dalam berkarya.
“Memang semuanya harus meninggalkan jejak, sekarang di era digital selalu meninggalkan jejak, termasuk komedi yang terus berkembang, dan anak muda juga merespons luar biasa dengan komedi saat ini maka Yayasan Jejak Komedi Indonesia ini patut didirikan,” tuturnya.
Meski dimulai dengan ekspektasi rendah terhadap minat publik yang sering dianggap amnesia terhadap sejarah, kegiatan perdana yayasan pada 10 Maret lalu justru membuktikan sebaliknya.
“Kami berpikir, kalau yang datang hanya sepuluh orang juga tidak apa-apa, bahkan kalau panitianya lebih banyak dari tamunya juga tidak masalah,” ujarnya sambil tersenyum.
Antusiasme yang didominasi oleh generasi di bawah 30 tahun (mencapai 90%) menunjukkan adanya dahaga akan referensi komedi yang memiliki akar sejarah.
“Sekitar 90 persen yang datang justru anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun. Artinya, ketertarikan terhadap komedi lawas ternyata tidak hanya dimiliki oleh generasi yang lebih tua,” kata Novrita.
Melalui kolaborasi lintas institusi, Yayasan Jejak Komedi Indonesia kini berkejaran dengan waktu untuk melawan amnesia jejak tawa Nusantara dan memastikan bahwa komedi tak hanya berhenti sebagai tontonan, melainkan warisan identitas bangsa. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance