Oleh Suratno Muchoeri, alumni Goethe-Universitaet Frankfurt Jerman yang kini aktif mengajar sebagai dosen Universitas Paramadina & ketua The Lead Institute.

Kemarin Tanggal 14 Maret 2026 Jurgen Habermas filsuf dan sosiolog terkemuka Jerman meninggal dunia.

Pioneer generasi kedua Madzhab Frankfurt (Die Frankfurter Schule), pelanjut generasi pertama Theodor Adorno dan kawan-kawan sebagai tokoh-tokoh utama Frankfurt IFS/Institute Fur Sozialsforschung itu meninggalkan banyak legasi.

Mungkin kita familiar di antaranya, seperti: Teori Kritis, Ruang Publik, Demokrasi Deliberatif, Teori Tindakan Komunikatif, Hermeneutika Kepentingan dan lain-lainnya.

Habermas memberikan saya kesan mendalam. Dia salah satu alasan mengapa saya kuliah S3 di Universitas Frankfurt.

Meskipun saya tidak masuk ke Institute fur Philosophie karena alasan syarat bahasa Jerman yang terlalu tinggi dan topik riset saya lebih cocok di Institute fur Anthropologie, tapi sebagai sarjana filsafat, saya sudah nge-fans Habermas sejak kuliah S1 di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.

Selama saya 5 tahun di Jerman (2010-2015), Habermas memang sudah pensiun meski sesekali masih memberi kuliah-umum & mengisi seminar. Dia juga tinggal dengan Uthe istrinya, jauh dari kota Frankfurt, tepatnya di Starnberg Jerman bagian-selatan.

Sebagai fans, sesekali biar seperti Habermas waktu muda dulu, saya nongkrong dan makan di restoran Yunani tidak jauh dari Goethe Uni Kampus Bockenheim.

Kata Habermas secara berkelakar, nongkrong dan makan-makan di situ seperti menyerap energi Filsafat Yunani yang merupakan pondasi bangunan sejarah filsafat Barat.

Habermas Sang "Juru Selamat" Uni-Eropa

Jurgen Habermas

Tahun 2012, Habermas memperoleh penghargaan Heine Preis.

Yang ngasih Pemerintah Kota Dusserldof, tempat lahir Habermas, seperti juga Heinrich Heine (1797-1856) sastrawan Jerman yang namanya diabadikan untuk penghargaannya yang diberikan tiap 2 tahun sekali.

Sebelum-sebelumnya, Heine Preis dianggap sering salah orang dalam kasih hadiah. Akan tetapi tahun 2012 dianggap sangat tepat.

Habermas menerima award berupa uang 50.000 Euro karena dianggap sebagai pemikir penting Jerman. Ide-idenya tentang pencerahan, komitmennya pada demokrasi Jerman dan kontribusinya pada debat sosial-politik Eropa.

Sebagai pioneer generasi kedua madzhab-Frankfurt, magnum-opus Habermas yang berjudul "Theory of Communicative Action" yang terbit 1981 dianggap menjadi titik-kunci diskursus filsafat sosial-politik post-modernisme.

Sebelum menerima award itu, di tahun 2011 Habermas menerbitkan esai pentingnya 'Zur Verfassung Europas: Ein Essai'.

Esai ini merespon krisis uni-eropa yang saat itu terjadi, terutama di Yunani sejak 2009 dan puncaknya di 2010 sampai kemudian gagal bayar utang Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) di tahun 2015.

Habermas mengajukan 3 tesis utama:

  1. Mengapa Eropa sekarang harus lebih dari sekedar proyek-konstitusional,

  2. Uni Eropa harus memilih antara demokrasi transnasional atau federalisme-eksekutif post-demokrasi,

  3. Uni Eropa harus bertransformasi dari sekedar masyarakat internasional ke masyarakat kosmopolitan.

Secara singkat, ide ini dipublikasikan di koran der-Spiegel dengan judul 'Habermas, the Last European A Philosopher's Mission to Save the EU' yang lalu memantik debat-panjang-serius tentang krisis Uni-Eropa, solusinya, dan nasib demokrasi di Eropa saat itu.

Habermas & Post-Democratic Europe/Society

Jurgen Habermas

Bulan Oktober tahun 2014 Habermas diundang bicara di Universtas Bergen Norwegia tentang Demokrasi di Eropa. Menurut Habermas, Eropa saat itu benar-benar butuh konstitusi baru.

Hal itu setidaknya karena 3 alasan:

  1. Tujuan politik ke depan. Ini karena tujuan politik orisinil dari integrasi Eropa sekarang sudah tidak relevan lagi dan berganti dengan agenda-agenda politis ambisius elit Eropa terutama Jerman & Prancis

  2. Dilema pengambilan keputusan di masa lalu yang terkesan 'maju-mundur'. Ini terkait dengan kekhawatiran (beberapa elit) Jerman akan kehilangan peran pentingnya jika stabilitas institusi demokrasi di negara-negara Eropa makin membaik

  3. Keyakinan bahwa integrasi Eropa bisa menjadi jalan pertumbuhan & kesejahteraan, karena integrasi memungkinkan pertukaran bebas orang, jasa, modal sehingga juga membentuk kesatuan pasar-tunggal dalam koridor mata-uang-tunggal.

Selain itu, membuka dan memadatkan jaringan serta investasi dan transaksi keuangan langsung. Hasilnya diferensi keunggulan kompetitif Eropa di pasar dunia membuat keyakinan integrasi menguntungkan secara ekonomi.

Baca Juga: Ali Khamenei, Peletak Modernisasi Iran yang Menjadi Bara Perlawanan

Agar integrasi Eropa makin membaik, menurut Habermas, masih banyak ruang kosong yang harus diisi terutama kemauan politik (political will) dari aktor-aktor yang kompeten.

Masyarakat Eropa dianggap Habermas masih ragu karena masih banyak praktik-praktik abstraksi dari tindakan administratif dan wacana-wacaana yang terlalu teknis.

Kaum intelektual harus 'jemput-bola' dan harus makin banyak politisi yang "berani membakar jari-mereka" untuk tujuan politik yang tidak populer.

Memang Habermas juga menegaskan bahwa selain pentingnya elit negara-negara Eropa untuk bertindak sesuai konteks negara masing-masing.

Namun, jelas bahwa tidak akan ada atau tidak akan terjadi reformasi prosedural dan kelembagaan jika konten-konten proyek politik di belakang reformasi itu sendiri belum jelas dan atau belum disepakati.

Terima kasih Habermas atas pencerahan-pencerahannya. Sangat menerangi hati dan pikiran, serasa mangalami mukasyafatul anwar. Danke schoen!***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.