Jakarta, TheStance - Peran krusial bank dalam perekonomian adalah menjadi urat nadi keuangan dengan menjalankan fungsi intermediasi: menghimpun dana masyarakat, lalu menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit yang menciptakan nilai ekonomi.
Dalam konteks inilah, kinerja penyaluran kredit atau pembiayaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga Februari 2026 menjadi menarik untuk dicermati.
Mengacu pada Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Januari 2026, kredit yang diberikan bank swasta nasional terbesar itu tercatat Rp1.015,3 triliun. Sebulan kemudian, pada laporan Februari 2026, kredit meningkat menjadi Rp1.020,7 triliun.
Artinya, terjadi pertumbuhan yang moderat.
Secara siklikal, periode awal tahun cenderung landai di mana pelaku usaha cenderung minim ekspansi. Dus, pertumbuhan moderat di awal tahun tersebut memiliki arti penting, yakni kesinambungan dan ketahanan.
Pasalnya, pola pertumbuhan ini sejalan dengan kinerja 2025 yang sebelumnya telah disorot: pertumbuhan yang tetap berjalan tetapi dengan disiplin kuat dalam pengelolaan risiko kuat.
Jika sepanjang 2025 BCA mengedepankan formula “slower but safer”, maka dinamika awal 2026 menunjukkan kesinambungan dari pendekatan tersebut—ekspansi yang terukur, bukan sekadar agresif.
Daya Tahan Kas Perseroan

Pesan soal ketahanan bisa ditangkap dari dana pihak ketiga (DPK) yang relatif terjaga pada Februari 2026 sebesar Rp1.328,1 triliun, dibandingkan dengan Rp1.332,6 triliun pada Januari 2026.
Artinya, dana murah (current account savings account/CASA) tetap dominan dalam kas perseroan, yang menjaga fleksibilitas likuiditas serta efisiensi biaya dana.
Bagi bank, mencari dana itu mudah. Tetapi mencari dana yang murah di ekonomi yang menantang, itu sesuatu yang sulit atau menantang. Porsi DPK BCA per Februari 2026 tersebut menjawab tantangan soal ketahanan struktur pendanaan mereka.
Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau loan-to-deposit ratio (LDR) berada pada kisaran yang sehat, yakni 77,64%, menunjukkan ekspansi kredit masih berada dalam koridor prudensial.
Angka tersebut masih di kisaran aman Bank Indonesia (BI) yang menilai LDR yang sehat dan aman adalah di kisaran 78% hingga 98%.
Kombinasi antara aspek ketahanan dan keberlanjutan itu memperlihatkan satu hal: BCA tidak mengejar pertumbuhan agresif di awal tahun, melainkan menjaga ritme penyaluran kredit yang sejalan dengan kapasitas likuiditasnya.
Artinya, fungsi intermediasi tetap berjalan, tetapi dalam kerangka disiplin risiko—sebuah kesinambungan strategi, bukan perubahan arah.
Pertumbuhan Jalan, Likuiditas Tetap Aman

Pandangan ini sejalan dengan riset PT UBS Sekuritas Indonesia bertajuk "First Read: Bank Central Asia – Takeaway from OneAsean Summit" yang dirilis pada 4 Maret 2026 oleh Joshua Tanja dan Ivan Reynaldo Sutheja.
Kedua analis tersebut menekankan konsistensi strategi manajemen BCA dalam menjaga kualitas pertumbuhan.
“Kami melihat BCA tetap berfokus pada pertumbuhan kredit yang selektif dan disiplin, dengan likuiditas yang kuat serta kualitas aset yang terjaga,” tulis Joshua dan Ivan dalam laporan tersebut.
Mereka secara khusus juga mengapresiasi manajemen yang mempertahankan pendekatan konservatif di tengah dinamika makro dan siklus suku bunga, sehingga pertumbuhan tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan profil risiko.
Artinya, ekspansi pembiayaan tidak bisa dilepaskan dari prinsip kehati-hatian. Peran intermediasi tetap berjalan, tetapi dengan fondasi likuiditas yang solid dan pengendalian risiko yang konsisten.
Dari sisi kualitas aset, indikator risiko BCA hingga Februari 2026 tetap terkendali.
Hal tersebut memperkuat posisi perseroan sebagai bank yang tidak hanya aktif menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menjaga fondasi portofolionya—yang telah dijaga sepanjang 2025.
Dalam fase awal 2026 ini, BCA menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kredit terus bertambah, dana masyarakat tetap solid, dan rasio likuiditas berada dalam zona aman.
Fungsi intermediasi berjalan—bukan dengan langkah yang tergesa-gesa, melainkan dengan ritme yang terukur.
Baca Juga: Mengenang dan Menghargai Entrepreneur Bambang Hartono
UBS Sekuritas menilai pendekatan konsisten dan konservatif ini menjadi “faktor kunci yang menjaga daya tahan BCA di tengah dinamika makro, sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan ke depan.”
Jika 2025 adalah tahun pembuktian bahwa pertumbuhan yang konservatif bisa tetap berkualitas, maka dua bulan pertama 2026 menunjukkan konsistensi formula tersebut.
Ketika pasar masih fluktuatif dengan risiko geopolitik dunia, intermediasi tak sekadar indikator penyaluran dana, melainkan juga indikator daya tahan ndan stabilitas.
Tak pelak, UBS Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy untuk BBCA, dengan target harga 12 bulan sebesar Rp10.450. Target itu merefleksikan potensi kenaikan 50,9% dari harga penutupan Rp6.925 (25 Maret 2026).
Pada akhirnya, bagi pasar, konsistensi sering kali lebih bernilai dibandingkan agresivitas. Hingga Februari 2026, BBCA tidak hanya menjaga pertumbuhan penyaluran kredit—tetapi juga menjaga kepercayaan publik. (bsw/ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance