Jakarta, The Stance — Pasar keuangan dan rupiah tahun ini menghadapi tekanan berat yang dikhawatirkan berujung pada kenaikan harga beberapa barang yang bahan bakunya diimpor. Namun, bersyukurlah pelaku industri pariwisata.
Setelah menyentuh level 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, 8 Juni 2026, menjadi level terendah sepanjang sejarah, nilai tukar rupiah hari ini berangsur menguat ke level psikologis 18.100.
Perubahan tata kelola ekspor dan komoditas memicu kekhawatiran pelaku pasar, sementara tekanan eksternal akibat konflik di Timur Tengah membuat investor ketar-ketir menanamkan modalnya di Indonesia. Terjadilah capital outflow.
Namun tak semuanya merasakan dampak buruk situasi tersebut. Depresiasi rupiah justru menjadi "berkah" bagi industri pariwisata dengan potensi kenaikan kunjungan wisatawan asing untuk menikmati "insentif nilai tukar."
Gambaran sederhananya: ketika rupiah melemah, uang dolar yang dibawa pelancong asing menjadi lebih bernilai sehingga biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi mereka.
Jika dulu uang US$1.000 hanya berujung dana tunai senilai Rp15 juta, maka kini uang yang sama nilainya lebih besar yakni Rp18 juta. Ada insentif setidaknya Rp3 juta yang bisa dipakai untuk menikmati lebih banyak spot wisata.
Mengharapi Berkah dari Pelancong Asing

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dari Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan, naik 8,24% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sektor pariwisata menyumbang pendapatan devisa pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai US$4,05 miliar atau setara Rp68,28 triliun. Angka ini meningkat 6,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Ni Made Ayu Marthini, menyebut momentum pelemahan rupiah dimanfaatkan Kemenpar untuk menggaet wisatawan mancanegara.
“Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap,” tutur, Ayu Marthini, ditemui di sela pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BFFT) 2026, di Kabupaten Badung, Jumat, 29 Mei 2026.
Ayu menjelaskan merosotnya kurs rupiah justru menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar negeri. “Kalau kami melihat dari kacamata kacamata konsumen, tentu dengan pelemahan rupiah buat mereka ini nilai terbaik untuk uang,” bebernya.
Beberapa kota di Indonesia masih menjadi destinasi favorit bagi para wisatawan asing. Wisatawan dari Australia dan Malaysia menjadi penyumbang terbesar kunjungan turis asing.
Wisatawan Australia tetap menjadikan Bali sebagai pilihan, sementara turis Malaysia semakin tertarik berkunjung ke Jakarta dan Bandung karena promosi masif di media sosial.
Pertimbangkan Faktor Lain

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menilai kondisi saat ini membuat berbagai kebutuhan akomodasi wisatawan menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing.
Industri pariwisata Indonesia semakin kompetitif dan lebih menarik di mata wisatawan asing, terutama mereka yang mencari destinasi wisata murah di tengah perekonomian global yang sedang tertekan.
Apabila kunjungan wisatawan asing meningkat, tak menutup kemungkinan pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif turut terdongkrak.
Ketika turis asing memiliki daya beli lebih besar, pengeluaran mereka untuk akomodasi, kuliner lokal, suvenir, hingga jasa transportasi cenderung meningkat.
Meski menguatnya dolar secara teoritis berpeluang memicu lonjakan wisatawan asing, perlu dicatat bahwa faktor kurs tidak menjadi satu-satunya acuan dalam menentukan pergerakan wisatawan global.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah berpendapat calon wisatawan masih berpeluang menunda perjalanan internasional akibat ketakpastian geopolitik dunia dan rentetan dampaknya.
Untuk itu, dia menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah promosi yang tepat sasaran.
Baca Juga: Viral 'Satu Indonesia Wisata Ke Yogya', Geser Bali Sebagai Destinasi Favorit
Wijayanto Samirin, Pakar Ekonomi Universitas Paramadina, menekankan bahwa dampak pelemahan nilai tukar tak hanya dirasakan sektor tertentu karena ekonomi saat ini sudah saling terhubung.
“Masalahnya saat ini ekonomi dunia sudah merupakan satu ekosistem, apalagi ASEAN. Jadi seluruh sektor akan terpengaruh,” tutur Wijayanto seperti dikutip Kompas.
Di sektor penerbangan misalnya yang mendukung mobilitas wisatawan, tekanan muncul sebab mayoritas biaya operasional seperti avtur, sewa pesawat, hingga perawatan dibayar menggunakan dolar AS yang juga menguat.
Sementara itu, perlengkapan operasional pelaku usaha pariwisata yang masih ditopang oleh aktivitas impor turut menjadi pertimbangan.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang membidangi pariwisata, Chusnunia Chalim menyebut pelemahan rupiah juga membawa tantangan bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor.
“Sejumlah pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor, seperti makanan premium, minuman impor, hingga perlengkapan hotel tertentu, tetap menghadapi kenaikan biaya operasional,” tuturnya dikutip Antara, Ahad, 07 Juni 2026. (mhf)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance