Jakarta, TheStance  – Jika selama ini Bali identik dengan liburan akhir tahun, ada fakta menarik di musim liburan penghujung 2025 ini, dimana Yogyakarta justru jadi destinasi paling favorit wisatawan domestik.

Kota pelajar kini dipadati wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah foto dan video yang ramai beredar di media sosial menjadi potret keramaian Yogyakarta ketika masa libur akhir tahun.

Fenomena tersebut bahkan memunculkan tren di media sosial dengan tajuk “Pov: Se-Indonesia liburan ke Yogyakarta”.

Berbagai unggahan warganet menggambarkan kondisi Yogyakarta yang ramai, terutama di kawasan-kawasan wisata favorit yang banyak didominasi kendaraan plat luar daerah.

Netizen pemilik akun TikTok @au**zan* misalnya, mengunggah video menunjukkan kemacetan mengular panjang menuju ke dan dari Gunung Kidul. Dua arah jalan sama-sama dipadati kendaraan roda dua dan roda empat yang mengantre bergantian untuk melaju.

Pengguna TikTok dengan akun @lya* juga memperlihatkan suasana kawasan Malioboro pada malam hari.

Dalam video terlihat para pengunjung memadati kawasan ikonik Yogyakarta itu, berjalan kaki menyusuri trotoar, berfoto-foto, atau sekedar menikmati jajanan para pedagang kaki lima.

kopi klotok

Selain kawasan Malioboro, para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta juga ramai mengunjungi kawasan wisata Obelix destinasi wisata populer yang berada di wilayah Gunungkidul.

Warganet mengunggah video yang memperlihatkan kemacetan panjang menuju kawasan tersebut.

Ramainya wisatawan yang berkunjung berlibur ke Yogyakarta juga terlihat dari antrean mengular di warung kopi klotok, yang menjadi salah satu destinasi kuliner terkenal di Yogyakarta.

Dinas Pariwisata DIY memprediksi kunjungan wisatawan Nusantara ke Yogja mencapai 1,5–1,7 juta orang selama periode Nataru 2025/2026. Angka ini menjadikan Desember sebagai bulan paling padat kunjungan ke Jogja sepanjang tahun.

Sementara berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta diperkirakan total 9,38 juta orang akan ke DIY pada liburan Nataru dengan 7 juta orang di antaranya ke Kota Yogyakarta.

Tingginya antusiasme berlibur ke Yogya pun terlihat, membuat titik-titik di kota Pelajar itu padat orang dan macet kendaraan.

Yang menarik, lonjakan ini terlihat jelas dari peningkatan pemesanan hotel, reservasi transportasi, hingga paket perjalanan jauh sebelum akhir tahun tiba.

Yogyakarta Jadi Destinasi Liburan Akhir Tahun Favorit Keluarga

malioboro

Fenomena ramainya wisatawan ke Yogyakarta kali ini menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata domestik terfavorit bagi keluarga pada libur akhir tahun 2025, menurut laporan Travel Outlook 2026 keluaran platform layanan perjalanan digital Agoda.

Senior Country Director Agoda untuk Indonesia, Gede Gunawan, mengatakan Yogyakarta naik ke peringkat pertama dalam daftar tujuan utama liburan akhir tahun bersama keluarga berdasarkan data pencarian akomodasi di platform Agoda.

Pengguna platform yang berminat mengunjungi Yogyakarta meningkat 29% dibandingkan tahun lalu karena banyaknya pilihan rekreasi, situs budaya, dan aktivitas edukatif di daerah itu.

Bali yang sebelumnya menempati posisi puncak tahun ini turun ke peringkat dua dalam daftar tujuan liburan keluarga dan Bandung menempati peringkat ketiga dengan peningkatan pencarian 22% dari tahun lalu.

Iklim yang sejuk, ragam pilihan kuliner, serta aktivitas luar ruang yang ramah keluarga dinilai menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berlibur bersama keluarga ke Bandung.

Jakarta dan Malang berturut-turut menempati peringkat keempat dan kelima dalam daftar pencarian tujuan liburan keluarga semasa libur akhir tahun.

"Perjalanan kini bukan sekadar mengunjungi destinasi, tetapi juga menciptakan kenangan bersama di tempat-tempat seperti Yogyakarta dan Bandung, yang semakin diminati menjelang akhir tahun," kata Gede Gunawan.

Untuk destinasi luar negeri, Singapura menjadi favorit di kalangan keluarga Indonesia yang berencana berlibur pada akhir tahun. Tokyo menempati peringkat kedua disusul Kuala Lumpur (Malaysia), Bangkok (Thailand), dan Shanghai (China).

Bali Terasa Sepi Wisatawan

evakuasi turis

Periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Bali dirasakan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Biasanya, menjelang akhir tahun permintaan wisata melonjak dan pemesanan akomodasi terus masuk. Namun, kondisi tersebut tahun ini dinilai berbeda oleh pelaku pariwisata di lapangan.

Berdasarkan data dari anggota Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), tingkat okupansi vila yang dikelola anggota asosiasi hanya di kisaran 55–60%, jauh lebih rendah dari periode yang sama pada 2024 yang mencapai sekitar 65%.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengakui adanya penurunan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Dewata pada periode menjelang Nataru 2025/2026. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pelaku pariwisata.

“Mancanegara, hariannya ya, sekarang agak menurun. Dari periode September–Oktober, terjadi penurunan ya. Sekarang hariannya, 11.000 sampai 16.000 (orang),” kata Koster, dikutip dari Kompas.com, akhir pekan lalu.

Biasanya kedatangan harian wisatawan asing ke Bali di kisaran 20.000 orang. Penurunan kunjungan wisatawan ke Bali diperkirakan dipicu kekhawatiran terhadap potensi bencana alam, khususnya banjir yang kerap terjadi di beberapa wilayah Bali.

Seperti diketahui, Bali sempat diterjang banjir bandang dahsyat pada September 2025. Minimnya respons dan penjelasan pemangku kebijakan terkait kondisi Bali dinilai memperkuat persepsi keliru bahwa banjir terjadi secara merata di seluruh Bali.

Padahal, terdapat banyak kawasan pariwisata yang tidak terdampak banjir dan tetap aman untuk dikunjungi. Namun, kurangnya kontra-narasi membuat kekhawatiran wisatawan berkembang tanpa klarifikasi yang memadai.

Baca Juga: Jembatan Gantung Situ Gunung: Bukti Pariwisata Bisa Selaras dengan Alam

Faktor lain yang memengaruhi penurunan kunjungan ke Bali antara lain dampak ekonomi global yang menekan daya beli, maraknya akomodasi ilegal yang mengganggu pasar hotel resmi, diskriminasi pelayanan terhadap wisatawan domestik hingga persoalan sampah, kemacetan, dan tata kelola transportasi yang belum optimal.

Isu lingkungan dan budaya akibat overtourism juga dinilai mulai membentuk citra negatif terhadap Bali.

Meski demikian, saat ini juga terjadi perubahan perilaku konsumsi wisatawan. Kenaikan harga tiket pesawat dan akomodasi saat high season membuat pelancong kini lebih selektif.

Sebagian wisatawan mancanegara mulai menghindari titik kemacetan di Bali Selatan dan memilih untuk bersembunyi di kawasan Bali Utara maupun barat yang lebih tenang.

Sedangkan, untuk destinasi wisata ikonik seperti Garuda Wisnu Kencana atau GWK, jumlah kunjungan tetap mengalami lonjakan dua kali lipat. Begitu pula dengan kawasan elit di Nusa Dua yang masih menjadi pilihan aman bagi wisatawan keluarga untuk menikmati pergantian tahun.

Stimulus Diskon Transportasi Pemerintah Dukung Pariwisata

penumpang kapal laut

Meningkatnya pergerakan masif orang dan kendaraan ke luar Jakarta pada libur Nataru disumbang sejumlah faktor. Pertama, kebutusan cuti bersama yang mendukung cuti massal.

Pemerintah merilis Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, & Menteri PANRB) menetapkan 26 Desember 2025 sebagai cuti bersama Natal sehingga memperpanjang periode libur pekerja formal.

Kedua, pemerintah menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi PNS selama 3 hari kerja, yakni Senin-Rabu (29-31/12/2025).

Ketiga, pemerintah memberikan Program Diskon Tiket Transportasi Libur Nataru, mengingat ada 60 juta lebih masyarakat yang diprediksi melakukan perjalanan.

Program yang melibatkan BUMN transportasi ini bertujuan memberikan layanan transportasi nyaman dan terjangkau kepada masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru.

Program Diskon Tiket Nataru 2025/2026 di berbagai moda, yakni kereta api (PT KAI) dengan Diskon 30% tiket ekonomi komersil untuk 1,5 juta penumpang; Angkutan Laut (PT PELNI) dengan diskon 20% dari tarif dasar penumpang kelas ekonomi.

Program diskon tiket itu juga berlaku pada layanan pesawat udara, yaitu diskon 13-14%, serta perpanjangan jam operasional bandara untuk memperlancar mobilitas masyarakat selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Untuk layanan penyeberangan via kapal laut yang disediakan PT ASDP, pemerintah memberikan diskon 100% untuk tarif jasa kepelabuhanan melalui aplikasi Ferizy.

Terakhir, ada pengurangan tarif alias diskon 20% untuk 26 ruas jalan tol. Selain potongan harga, terdapat juga ruas tol yang difungsionalkan secara gratis selama libur Nataru 2025/2026 dimana di antaranya didominasi oleh ruas Tol Trans Sumatera.

PHRI : Target Okupansi Bisa Capai 80%

Maulana Yusran

Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengaku optimis momen libur nataru 2025/2026 mampu mendongkrak angka okupansi hotel hingga lebih dari 80 persen.

Terutama dengan adanya sejumlah stimulus berupa diskon moda transportasi yang diberikan oleh pemerintah pada masyarakat yang hendak berlibur.

"Kami masih meyakinkan atau optimis (okupansi) kita bisa diatas rata-rata 80 persen juga selama libur nataru," ujar Yusran.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam libur nataru tahun ini adalah faktor cuaca yang tidak bisa ditebak sehingga mempengaruhi destinasi bagi masyarakat yang ingin berwisata.

Hal ini juga lah yang menurut Yusran, menjadi salah satu penyebab menurunnya kunjungan wisata ke Bali, khususnya bagi mereka yang menempuh jalur darat melalui pelabuhan Gilimanuk.

"Tantangan terberat pada tahun ini karena faktor cuaca yang tidak bisa ditebak (unpredictable) dan cuaca ekstrem", ungkapnya.

Meski demikian, ia berharap stimulus yang diberikan pemerintah bisa mendorong masyarakat untuk berwisata. Tentunya dengan destinasi wisata yang dirasa nyaman oleh mereka. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance