Jakarta, The Stance - Taliban menyatakan siap mendukung Iran apabila terjadi serangan militer dari Amerika Serikat (AS).

Ini dsampaikan juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam wawancara dengan Pashto Radio, Ahad, 15 Februari 2026. “Rakyat Afghanistan siap bersimpati dan bekerja sama dengan rakyat Iran sesuai dengan kemampuan mereka,” katanya.

Namun Mujahid tidak menyebutkan secara spefifik jenis bantuan yang dimaksud --apakah bantuan diplomatik, logistik, atau militer. Meski demikian, Mujahid berharap ketegangan antara AS dan Iran tidak meletus menjadi perang.

Dalam catatan The Stance, relasi antara Taliban dan Iran sebenarnya tidak selalu harmonis. Perbedaan aliran antara Syiah (Iran) dan Sunni (Taliban) terkadang memicu ketegangan hubungan kedua negara.

Namun setelah Taliban kembali Afganistan pada 2021, keduanya mulai kerap menjalin kerja sama.

Pada Januari 2025 lalu, misalnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Afghanistan dan bertemu Menteri Luar Negeri Taliban, Mawlawi Amir Khan Muttaqi.

Dalam pertemuan itu, keduanya membahas pemulangan sekitar 3,5 juta pencari suaka Afghanistan yang melarikan diri ke Iran. Uniknya, hingga kini iran sebenarnya belum secara resmi mengakui pemerintahan Taliban.

Hanya, Iran bersikap pragmatis dengan tetap menjalin hubungan secara politik dan ekonomi dengan Taliban.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat

Iran

Sekadar catatan, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terutama dimulai setelah Donald Trump menjadi presiden AS pada 2017.

Sebelumnya di era Presiden Obama (2009-2017), Iran sempat menyetujui kerja sama pembatasan nuklir dengan AS.

Iran juga bersedia meneriama tim inspeksi Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk meyakinkan bahwa mereka tidak sedang membangun bom nuklir.

Tapi setelah Donald Trump terpilih untuk periode pertama pada 2017, AS secara sepihak membatalkan kesepakatan era Obama tersebut.

Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ketika itu pun merespon bahwa "Amerika Serikat tidak bisa dipercaya".

Peningkatan ketegangan Iran-AS kembali dimulai sejak demonstrasi besar-besaran yang melanda Iran sejak Desember 2025 lalu.

Trump menuntut Iran untuk bersikap lunak kepada para demonstran. Sebalimya, Iran menuding AS dan Israel berada di balik demonstrasi tersebut.

Dari soal demonstrasi, isu kemudian bergeser ke tudingan bahwa Iran sedang berusaha membangun bom nuklir.

Trump kemudian mengirimkan kapal induk ke Laut Arab. Iran membalas dengan melakukan latihan militer di Selat Hormuz. Retorika dari pihak AS pun makin ganas, antara lain pengungkapan rencana untuk "membunuh Khamenei".

Baca Juga: Kerusuhan Iran Boleh Berakhir, Propaganda Anti-Iran Jalan Terus

Dalam catatan The Stance, pada 20 Februari 2025 lalu delegasi Iran dan AS masih melakukan perundingan di Jenewa, Swiss, membahas isu senjata nuklir Iran dan upaya menurunkan ketegangan.

Meski demikian Trump tetap melancarkan ancaman. Kamis, 19 Februari 2026, Trump mengatakan AS mempertimbangan "serangan militer terbatas ke Iran" untuk membuat Iran menanggalkan program nuklirnya.

Menurut Trump, apakah akan dicapai negoisasi atau terjadi serangan militer, akan ditentukan dalam beberapa hari ke depan. "Mungkin dalam kurun 10 hari lagi," katanya. (mhf/bsf)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance