Jakarta, TheStance – Situasi di Iran kembali normal setelah digoncang gelombang unjuk rasa sejak akhir Desember hingga pertengahan Januari lalu. Tercatat ribuan orang menjadi korban kerusuhan. Namun, sejatinya api masih menyala.
Awalnya, Iran dilanda aksi demonstrasi yang dipicu oleh gejolak ekonomi karena inflasi yang terus meninggi, sebagai akibat dari sanksi ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya selama puluhan tahun.
Demo damai terjadi pertama kali pada 28 Desember 2025. Saat itu kurs riyal sudah mencapai 1,4 juta per dolar Amerika Serikat (AS), setelah AS dan sekutunya kembali mengenakan sanksi karena Iran ogah menghentikan program nuklir damainya.
Belakangan, aksi tersebut berubah menjadi arena kericuhan yang mencekam setelah agen dan anasir asing disinyalir dan terpantau kamera turun ke jalan dan berbuat kerusuhan.
Tuntutan pendemo beralih dari desakan perbaikan ekonomi dan moneter, menjadi tekanan politis seperti pembubaran sistem negara Republik Islam Iran, dan berharap jatuhnya Ayatollah Ali Khamenei. Kerusuhan pun pecah.
Kamera CCTV menunjukkan para perusuh tersebut memakai narkoba sebelum ikut bergabung di kerumunan, yang berujung pembakaran. Sebagian lain membawa senjata api dan menembakkannya ke arah petugas dan masyarakat tak berdosa.
Akibatnya, pemerintah Iran mencatatan sebanyak 3.117 rakyat Iran jatuh menjadi korban, dengan 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan aparat keamanan.
Dukungan dari Amerika Serikat

Selama demonstrasi berjalan, jejak dukungan dari luar negeri begitu kentara terlihat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terang-terangan membuat pernyataan kontroversial.
Lewat akun Truth Social @realDonaldTrump, ia meminta masyarakat Iran untuk terus menyuarakan protes menuntut "demokrasi" guna mengakhiri kekuasaan Ali Khamenei yang telah berlangsung hampir 40 tahun.
“Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES-KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal,” tulis Trump.
Trump juga melontarkan nada ancaman kepada Iran apabila banyak demonstran yang menjadi korban dari otoritas Iran. Ia mengancam akan melancarkan serangan udara.
“Jika Iran menembak dan secara brutal membunuh pengunjuk rasa damai, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka,” kata Trump.
Ironisnya, ancaman itu keluar beriringan dengan tewasnya dua orang demonstran Amerika Serikat (AS) akibat ditembak petugas Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE).
Salah satu korban tewas adalah Renee Nicole Good (37 tahun), yang tewas ditembak di wajah 2 kali dan dibiarkan tewas tanpa pertolongan medis karena menolak kehadiran petugas ICE di Minneapolis, pada Rabu (7/1/2026).
Korban kedua adalah Alex Jeffrey Pretti (37 tahun), warga negara AS yang menjadi perawat & relawan kemanusiaan. Dia ditembak di Minnesota pada Sabtu (24/1/2026) meski tidak melawan ketika dijatuhkan ke tanah oleh petugas ICE.
Demo Berhenti, Propaganda Jalan Terus

Buntut dari kekacauan tersebut, Khamenei sebagai pimpinan tertinggi Iran menuduh AS dan Israel sebagai dalang kerusuhan di Iran. Ia terang-terangan menyebut Trump sebagai “kriminal” dan menudingnya sebagai sosok sentral destabilisasi Iran.
Kecaman Khamenei sejalan dengan sikap Trump, Netanyahu, dan sejumlah pejabat Barat lainnya yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap demonstran anti-pemerintah.
Khamenei juga mengutuk orang-orang yang memicu kerusuhan dan kekerasan sebagai kelompok yang terhubung dengan AS dan Israel. Pejabat Iran bahkan menyebut Trump dan Netanyahu sebagai “pembunuh utama rakyat Iran.”
“Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1-Trump 2-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” kata Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dilansir Tirto.id.
Kini, meski kerusuhan telah terkendali dan para agen asing ditangkapi, propaganda anti-Iran masih terus mengalir, terutama terkait narasi pembunuhan warga sipil oleh aparat.
Iran International, media anti-Republik Islam Iran yang berbasis di London, mengabarkan bahwa jumlah korban tewas "akibat kebrutalan rezim Iran" mencapai 36.500 orang. Mereka hanya menyebut sumbernya adalah: dokumen.
Namun masyarakat awam kian jengah, salah satunya Amir Abbas (17 tahun). Warga Mashhad ini terkejut ketika mengetahui fotonya masuk di berita media oposisi Iran tersebut, dan disebut sebagai "korban tewas rezim Iran pada 8 Januari".
Padahal, ia tak pernah ikut dalam kerusuhan tersebut dan masih hidup segar bugar. Warga lain yang fotonya dibajak pun ramai-ramai angkat suara menolak propaganda murahan itu.
Baca Juga: Bias Pemberitaan Media Barat Soal Demonstrasi Iran
Media Iran International, yang menurut pemerintah Iran didanai Israel dan faktanya menjadi acuan media Barat ketika mengulas kebijakan Iran, mengeklaim bahwa aparat keamanan Iran menembak tangan demonstran sebagai bentuk hukuman.
Pemuda itu dikabarkan ke rumah sakit berkata ke semua orang bahwa petugas keamanan menybabkan tanganya luka parah. Konten soal kekejaman itu pun menyebar ke media sosial anti-Iran.
Merespons itu, pemerintah Iran merilis video CCTV yang menunjukkan detik-detik si perusuh berusaha melempar bom, tapi keburu meledak hingga membuat tangannya berdarah-darah.
Di tanah Iran, sebagaimana tanah lainnya yang berani menentang zionisme, perang memang tidak akan pernah berhenti. Jika tak ada perang fisik, maka perang propaganda yang berjalan karena sikap perlawanan tidak bisa mereka tolerir. (mhf/ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance