Oleh Hasan M. Noer, kreator digital asal Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bekerja di Penerbit Penamadani. Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini kini tinggal di Jakarta & aktif menuangkan ide & gagasannya di laman media sosialnya.

Syahdan, kemarin Jumat Sore (10 April 2026), dalam rapat terbatas “Pokja Pengajuan Gelar Pahlawan Masional Prof. Dr. Nurcholish Madjid,” serta merta saya dikejutkan oleh sebuah cerita satire (sindiran).

Cerita itu muncul di sela-sela saya diminta oleh kawan-kawan Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) untuk merumuskan “Draf Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Prof. Dr. Nurcholish Madjid.”

Cerita Ironis itu disampaikan oleh Sekjen KAHMI Syamsul Qomar saat merespons paparan saya dalam draf yang saya ajukan.

Konon menurut sahibul hikayat, setelah tidak menjabat, Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Menhan-Pangab) 1973-1983 Jenderal M. Yusuf jatuh sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit.

Tiba-tiba ia dikunjungi oleh seorang panglima dengan pangkat mayor jenderal. Sang panglima meminta waktu untuk menjenguk, Jenderal Yusuf bertanya, “Siapa?” Seorang kerabat yang menjaganya menyebut nama sang panglima.

Lalu, respons Jenderal M. Yusuf? “Dia sudah komandan, tapi belum panglima,” ujar sang jenderal karismatik ini dengan nada tenang. Tentu saja ucapan itu mengejutkan orang-orang yang sedang menjaga dan merawatnya.

Begitulah! Ada kalanya sejarah tidak berbicara dengan suara yang lantang, melainkan berbisik pelan di antara jeda-jeda peristiwa.

Ia tidak selalu hadir dalam pidato kenegaraan atau dokumen resmi, tetapi justru dalam kalimat singkat—seperti sebutir embun—yang menyimpan samudera makna.

Antara Sindiran dan Ironi

Jokowi - TNI

Demikianlah kiranya kita memahami sebuah penilaian yang pernah dilontarkan oleh seorang Jenderal, mantan Menhan dan Pangab, tentang sosok seorang mayor jenderal yang disebutnya sebagai: “Sudah komandan, tapi belum panglima.”

Padahal, faktanya dia adalah seorang panglima dengan pangkat Mayor jenderal. Ini jelas sebuah ironi.

Kalimat itu diucapkan dalam bahasa satir (sindiran) yang indah. Melalui ungkapan satir itulah terkandung tiga makna yang ingin disampaikan oleh Jenderal M. Yusuf, yaitu: (1) Ironi, (2) sinisme, sekaligus (3) sarkasme.

Ironi adalah pernyataan yang bermakna sebaliknya dari fakta, tetapi membuat orang merasa tertampar, jika orang itu benar-benar memiliki kemampuan untuk menyadarinya.

Ungkapan ironi lain, misalnya, “Bijaksana sekali putusan komandan kita, padahal dia sudah menjadi panglima.” Artinya, putusan itu sama sekali tidak bijaksana, padahal posisi dia sudah menjadi panglima.

Seorang panglima, seharusnya setiap putusannya, selalu objektif, akomodatif, empatik, antisipatif, dan strategis; bukan otoriter, subjektif, reaktif, emosional, dan pragmatis.

Seorang panglima, tidak boleh mengambil putusan sekan-akan selalu dalam posisi darurat: begitu terlintas di pikiran, lalu diucapkan di depan publik, langsung menjadi keputusan.

Karakter seperti ini hanya bisa terjadi pada mereka yang berposisi sebagai komandan, bukan mereka yang berposisi sebagai panglima.

Makna Sinisme dan Sarkasme

Cak Nur

Adapun sinisme adalah menolak ide atau pikiran seseorang dengan cara: angkat lalu banting. Ungkapan di atas mengandung makna ‘angkat lalu banting’ itu.

Sinisme lainnya, seperti rombongan alumni HMI datang ke Cak Nur, lalu bilang: “Cak Nur inilah satu-satunya calon presiden yang ingin kita usung.”

Lantas apa tanggapan Cak Nur? Konon, dengan halus Cak Nur membalas, “Ide itu sangat bagus, tapi lebih bagus lagi kalau disampaikan kepada Sri Bintang Pamungkas.” Ini namanya sinisme: angkat lalu banting.

Sedangkan sarkasme adalah sindiran tajam, atau ejekan kasar yang disampaikan dalam ungkapan pendek, tapi sangat tajam, menusuk, dan menyakiti parasaan seseorang, kelompok, atau lembaga tertentu.

Sebutlah, misalnya, ungkapan: Sudah Tapi Belum; Negeri Konoha; Bangsa Wakanda; Kapal Badut; Prof GBHN; Doktor APBN; Anak Haram Konstitusi; dll.

Jika direnungkan, Ucapan Jenderal M Yusuf itu, seperti sebilah cermin yang memantulkan dua wajah sekaligus: pujian dan batasan.

Di satu sisi, ia mengakui keberanian, ketegasan, dan naluri tempur seorang komandan. Namun di sisi lain, ia, menandaskan bahwa ada langit yang lebih tinggi—sebuah cakrawala kepemimpinan yang menuntut lebih dari sekadar berani di medan laga.

Keberanian Seorang Komandan

operasi militer

Komandan adalah api. Ia menyala di garis depan, menghangatkan sekaligus membakar. Ia dekat dengan debu, peluh, dan darah. Keputusannya lahir dari detak jantung yang cepat, dari intuisi yang tajam, dari situasi yang mendesak.

Dalam dirinya, keberanian adalah bahasa pertama. Ia tidak banyak bertanya, sebab waktu tidak memberinya ruang untuk ragu. Dunia komandan adalah dunia yang sempit namun intens: satu misi, satu target, satu kemenangan.

Namun panglima adalah air. Ia tidak hanya melihat api, tetapi juga menjaga arah angin yang meniupnya. Ia berdiri lebih jauh dari medan, bukan karena ia menjauh, melainkan karena ia harus melihat keseluruhan.

Dalam dirinya, keberanian telah ditempa menjadi kebijaksanaan. Ia tidak sekadar memimpin pasukan, tetapi juga menakar dampak dari setiap langkah: politik, sosial, bahkan sejarah. Panglima bukan hanya penakluk ruang, tetapi juga penjaga waktu.

Dalam bingkai ini, pernyataan Jenderal M. Yusuf menjadi seperti sebuah tafsir diam atas perjalanan seorang manusia. Ia bukan sekadar penilaian personal, melainkan refleksi tentang tahap-tahap kepemimpinan itu sendiri.

Ada orang yang dilahirkan sebagai komandan—dengan keberanian yang mengalir seperti darah muda.

Tetapi menjadi panglima adalah perjalanan panjang: ia membutuhkan jarak, kesabaran, dan kemampuan untuk menahan diri dari godaan untuk selalu berada di garis depan.

Baca Juga: Beda Kelas Anwar Ibrahim dan Prabowo dalam Menyikapi Agresi terhadap Iran

Napoleon Bonaparte pernah berkata: “Seorang pemimpin adalah penyalur harapan.” Namun dalam praktik militernya, Napoleon juga menunjukkan bahwa seorang komandan adalah sosok yang hidup dalam kecepatan keputusan.

Ia pernah menegaskan: “Luangkan waktu untuk mempertimbangkannya, tetapi ketika waktu untuk bertindak tiba, berhentilah berpikir dan lakukanlah.”

Dan praktik inilah yang dilakukan Prabowo Subianto selaku Presiden RI hari ini. Dia tidak mendengar siapapun kecuali dirinya sendiri.

Sejarah militer, bahkan sejarah peradaban, penuh dengan tokoh-tokoh yang gagal melintasi batas ini. Mereka besar di medan perang, tetapi gamang di medan kekuasaan.

Sebab, menjadi panglima berarti menerima bahwa kemenangan tidak selalu diraih dengan serangan, tetapi kadang dengan penundaan; tidak selalu dengan kekuatan, tetapi dengan pengendalian.

Jika kita membaca pernyataan itu dalam suasana batin yang lebih dalam, ia seperti nasihat yang disampaikan tanpa suara keras. Seolah-olah Jenderal M. Yusuf sedang berkata: keberanian saja tidak cukup untuk memikul sejarah.

Memahami Sosok Prabowo

Prabowo ke Timur Tengah

Ada titik di mana seorang pemimpin harus belajar berdialog dengan waktu, bukan hanya menaklukkannya. Dan di sinilah letak keindahan sekaligus ketegangan dalam memahami sosok Prabowo Subianto.

Ia tumbuh dari tradisi komando: tegas, cepat, dan penuh energi. Namun, ia seakan ditegur oleh Sun Tzu dalam The Art of War, “Seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa berperang.”

Tetapi sejarah kemudian menyeretnya ke panggung yang lebih luas—panggung politik, panggung bangsa, panggung peradaban.

Di sana, ukuran keberanian berubah. Yang dibutuhkan bukan lagi sekadar keberanian untuk maju, tetapi juga keberanian untuk menahan, mendengar, dan merangkul.

Kalasastra mengajarkan bahwa setiap manusia adalah teks yang terus ditulis ulang oleh waktu. Barangkali, kalimat “Dia sudah komandan, belum panglima” bukanlah akhir dari sebuah penilaian, melainkan awal dari sebuah perjalanan.

Ia adalah garis awal yang menantang: apakah seseorang akan tetap menjadi api, ataukah ia akan menjelma menjadi air, bahkan langit?

Dalam perjalanan hidup, tidak ada takdir yang sepenuhnya beku. Komandan dapat belajar menjadi panglima, sebagaimana api dapat belajar memahami arah angin.

Tetapi itu hanya mungkin jika ia bersedia keluar dari dirinya sendiri—melampaui naluri, melampaui ego, dan memasuki ruang sunyi tempat kebijaksanaan dilahirkan. Wallahu a'lam.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.