TheStanceID - Ketika hidup terasa sangat berat dan nasib terasa begitu malang, bernafas saja rasanya getir. Tiap helaan diikuti rintihan hati kecil tentang suramnya kehidupan, yang terkadang lebay.

“Tuhan meninggalkanku.”

“Dunia sungguh tidak adil,”

“Kenapa aku terlahir di keluarga ini?” dll.

Ketika kekalutan demikian merasuki pikiran, lalu ada yang memberikan resep nasihat bernama “sabar,” rasanya seperti disuapi roti klise yang paling menjemukan.

“Sabar pale lu!” demikian hati memaki, meski wajah tetap datar agar kelihatan waras. “Sabar pun ada batasnya.”

Hati yang sedang risau seringkali tak bisa dijinakkan dengan kata-kata. Terkadang kesimpulan yang kita pegang justru jauh dari realita, atau panduan moral yang ada: benarkah sabar ada batasnya?

Dilema terkait “batas kesabaran” pernah dihadapi oleh Maria Dolores dos Santos Aveiro. Bekerja sebagai cleaning service dan tukang masak, hidup perempuan asal Brazil ini adalah contoh yang pas menggambarkan kegetiran kaum miskin urban di Portugal.

Bersama suaminya, José Dinis Aveiro, mereka bekerja siang-malam untuk bertahan hidup. Sebagai tukang kebun serabutan dan staf paruh waktu di klub bola lokal, penghasilan José Dinis tidaklah cukup untuk mengangkat harkat keluarganya.

Saat itu, musim panas tahun 1984, pikiran Maria Dolores kalut. Sudah cukup lama dia bersabar, 12 tahun bekerja-keras setiap hari, siang malam, menghidupi tiga orang anak, tapi hidup begitu-begitu saja. Tak ada perubahan.

“Lha kok mau ditambah satu anak lagi?” begitu kurang lebih pikirnya ketika mengetahui bahwa dia sedang hamil anak keempat. Kalut, Maria Dolores berniat menghabisi janin yang datang tanpa permisi, tak peka situasi ini.

Semesta pun sepertinya mendukung. Partai Sosialis yang berkuasa di Portugal pada tahun 1984 mencetak sejarah baru dengan mengesahkan UU yang mengizinkan aborsi untuk beberapa kondisi, salah satunya jika sang ibu memiliki gangguan mental.

"Aku ingin melakukan aborsi tetapi dokter tidak mendukung keputusanku," tulis Maria Dolores dalam buku autobiografi yang dia luncurkan di Portugal, pada Jumat (18/7/2014).

Di tengah kekalutan, Maria Dolores berusaha menggugurkan kandungan dengan caranya sendiri. Dia tenggak bir dan sengaja bekerja lebih keras biar si jabang bayi menyerah. Tapi, janin itu bertahan.

Berdamai dengan Keadaan

Beberapa waktu kemudian, Maria Dolores memilih berdamai dengan keadaan. Dia merawat kandungannya dengan penuh kesabaran, hingga sang janin terlahir pada 5 Februari 1985.

Dia menamainya Cristiano, sementara sang suami menamainya Ronaldo karena dia ngefans sama aktor Amerika Serikat (AS) Ronald Reagan–yang kemudian menjadi presiden AS ke-40.

Dunia sekarang mengenal jabang bayi itu sebagai CR7. Ya, janin yang nyaris digugurkan itu adalah legenda sepak bola yang meraih Ballon D’or enam kali.

Bagi Maria Dolores, saat itu, Ronaldo hanyalah beban tambahan manakala dia tertatih menjalani hidup sembari mengeja mantra “sabar.” Andai dia memutuskan garis demarkasi kesabarannya atas hidup sengsara itu adalah tiga anak, tanpa Ronaldo, justru hidupnya tidak bakal berubah.

Untung saja dia memilih sebaliknya.

Pilihan itu diambil dengan memperkuat sikap mental bahwa dia harus ekstra bersabar, karena tantangan akan makin berat. Dia akan dituntut untuk bekerja lebih keras lagi, guna menyuapi satu lagi mulut di keluarganya.

Kesabaran Tiada Bertepi

Maria Dolores tentu tidak tahu di mana garis finish kesabarannya.

Bahkan ketika bakat Ronaldo dilihat klub bola Sporting Lisbon dan kemudian dia memulai debut kesuksesannya di Manchester United pada 2003, Maria Dolores harus mengeja mantra ‘sabar’ lebih keras lagi. Sang suami kembali ke Sang Pencipta pada 2005.

José Dinis, ayah Ronaldo, dinyatakan meninggal karena sakit ginjal akibat efek alkohol yang menjadi pelarian sesaatnya dari jeruji nasib. Sebelum meninggal, dalam sebuah wawancara mengomentari Ronaldo, dia memuji istrinya, Maria Dolores.

"[Maria] tidak tergantikan. Dia memberinya [Ronaldo] kepedulian," tutur José Dinis, dalam video yang diputar Piers Morgan pada tahun 2019. "Dia adalah bodyguard-nya [Ronaldo]; dia mendapat perhatian bintang lima darinya.”

Yang dimaksud dengan 'perhatian bintang lima' adalah: tidur dengan perut lapar agar Ronaldo bisa makan, dan kerja lembur 7 hari sepekan untuk mendapat uang ekstra buat beli sepatu bola bagi Ronaldo.

Sempat hendak menjadi pelaku pembunuhan atas sang CR7 ketika masih jabang bayi, Maria Dolores memilih bersabar dalam menjalani cobaan hidupnya. Prinsip klise yang dijalankan inilah yang mengubah sikap mentalnya, hingga dia berubah drastis dan malah menjadi “bodyguard” bagi Ronaldo.

Maria Dolores mendapatkan karunia karena diberi kesempatan memanen buah kesabarannya di dunia ini. Ronaldo sering berkelakar tentang situasi tersebut: "Ibu, kamu dulu tidak ingin aku terlahir. Tapi kini kamu lihat bahwa aku di sini membantu kita semua."

"Dan, yaa,.. kadang kami menertawakan soal itu," tuturnya dalam film 'Ronaldo' yang dirilis pada tahun 2015.

Target akhir sabar pada dasarnya memang bukanlah rentang waktu (sampai kapan), melainkan soal mental (sampai kita kuat dan tabah menghadapi realita). Ketika kita memutuskan membuat garis finish atau batasan di mana berakhirnya kesabaran kita, pada detik itu pula kita sebenarnya sudah menjadi tidak sabar.

Sulit juga ya untuk bersikap sabar?

Ya, mungkin karena itulah Al-Quran menyebutkan bahwa hal lain yang tak terbatas, terkait sikap sabar, adalah pahalanya. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10). (ags)