Jakarta, The Stance – Amerika Serikat (AS) terjebak dalam rawa yang diciptakannya sendiri dengan menyerang Iran secara pengecut dan diam-diam pada 28 Februari 2026. Perang yang mahal kian membebani anggaran mereka.
Menurut data lembaga kajian Foreign Policy Research Institute (FPRI) yang berbasis di Philadelphia, AS dan Israel telah menembakkan 5.197 amunisi dari 35 jenis berbeda dalam 4 hari pertama perang mereka dengan Iran.
Dokumen tersebut mengungkap skala yang mengejutkan dari penipisan amunisi kedua negara agresor tersebut.
Sebanyak 943 rudal pencegat Patriot—senilai sekitar US$4 juta (Rp67,6 miliar) per unit—diluncurkan, yang berarti bahwa produksi normal selama 18 bulan (atau rata-rata 52 unit per bulan) telah habis hanya dalam 96 jam saja.
Sementara itu, 145 rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD)—senilai sekitar US$12 juta per unit—diluncurkan dan telah berkurang lebih dari sepertiga, dari jumlah pra-operasi sekitar 500 unit.
Di sisi lain, rudal pencegat Arrow Israel, dengan harga hampir US$3 juta, telah berkurang lebih dari 50%, dengan penggantian penuh diperkirakan akan memakan waktu 32 bulan, atau lebih dari 2,5 tahun.
Tak hanya itu, 225 rudal balistik Army Tactical Missile (ATACMS) seharga US$1 juta/unit dan Precision Strike Missile (PrSM) seharga US2 juta/unit yang diluncurkan dari darat telah digunakan. Stok keduanya, masing-masing, telah berkurang sepertiga.
Terakhir, 375 rudal jelajah Tomahawk (US$2 juta per unit) telah ditembakkan dan penggantiannya akan memakan waktu setidaknya 53 bulan, atau lebih dari 4 tahun.
Angkatan Laut AS dilaporkan meluncurkan hampir 400 rudal Tomahawk—kira-kira 10% dari persenjataan AS yang siap tempur.
Stok 5 Tahun Habis dalam 3 Hari

Dengan kata lain, Washington menghabiskan lebih banyak rudal dalam 72 jam pertama perangnya, atau menghabiskan stok yang diproduksi pabrik-pabrik AS dalam 5 tahun terakhir.
Sementara itu, delapan bom GBU-57 (masing-masing seharga US$13 juta) telah digunakan. Itu hampir seperempat dari seluruh stok AS yang tersisa, dan penggantinya baru akan tiba pada tahun 2028.
Demikian juga 12 drone MQ-9 Reaper (masing-masing seharga US$30 juta) yang hilang bersama dengan beberapa radar canggih yang hancur di pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Biaya penggantian amunisi saja diperkirakan mencapai US$10 miliar–US$16 miliar. Total biaya tersebut, termasuk pesawat tempur yang hilang akibat tembakan salah sasaran, menurut FPRI ongkosnya mencapai US$20 miliar (Rp340 triliun).
Perkiraan ini tidak termasuk “kerugian tempur aset perang atau kerusakan pada pangkalan dan arsitektur pendukung pertahanan udara kelas atas”.
Gedung Putih dalam pernyataan resminya mengakui bahwa mereka "hanya" menghabiskan US$12 miliar (Rp203 triliun) untuk operasi militer melawan Iran.
Jangan lupa juga, kerugian ekonomi dari perang tersebut juga perlu dihitung karena Iran telah menghajar pangkalan militer dan fasilitas kilang milik entitas AS, sebagai balasan atas serangan Israel-AS terhadap ladang minyak mereka di blok South Pars.
Menurut Calcalist, media ekonomi bisnis Israel, penghentian operasi platform gas di Israel telah menimbulkan kerugian sekitar US$200 juta.
Tak Cuma Rugi Alutsita, Kerugian Ekonomi Juga Besar

Sejauh ini Otoritas Pajak zionis mengungkapkan ada 9.115 permohonan penggantian atas kerusakan material sejak awal perang, dengan Tel Aviv berada di posisi teratas, yakni sebanyak 4.609 permohonan.
Angka resmi ini mencerminkan besarnya kerusakan pada bangunan dan kendaraan, meskipun kondisi riil di kenyataan kemungkinan jauh lebih buruk mengingat rezim pendudukan dikenal kuat dalam mempropagandakan "Israel yang sulit terluka."
Hanya dalam 3 hari operasi Epic Fury, yang banyak dipelesetkan jadi Epstein Fury karena dilancarkan ketika Presiden AS Donald Trump sedang terbelit skandal keterlibatannya dengan Jeffrey Epstein--mucikari anak di bawah umur, 200 tentara AS cedera.
Israel kini telah menyetujui anggaran darurat sebesar US$827 juta untuk pembelian militer saat perang AS-Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga.
Paket senilai 2,6 miliar shekel tersebut disetujui para menteri kabinet yang akan digunakan untuk kebutuhan keamanan mendesak, termasuk amunisi, sistem senjata canggih, dan pengisian kembali persediaan tempur.
Dana tersebut akan berasal dari anggaran negara yang disetujui awal bulan ini dan diharapkan akan disahkan oleh Knesset paling lambat 31 Maret.
Israel sudah sangat bersiap dengan perang ini. Awal Maret ini, Kabinet Israel menyetujui revisi anggaran negara tahun 2026, menambahkan sekitar US$13 miliar untuk mendanai operasi militer berkelanjutan di tengah eskalasi dengan Iran.
Baca Juga: Konflik Iran dan Rapuhnya Rupiah: Menuju Rp20.000 per Dolar AS Bukan Ilusi
Bagaimana dengan AS?
Sayangnya Trump harus berhadap dengan kubu Partai Demokrat yang mengkritik keras perang Iran karena dilancarkan sepihak, tanpa berkonsultasi dengan Kongres selaku pengambil keputusan tertinggi kebijakan luar negeri.
Mereka sedang berencana mengajukan anggaran tambahan untuk perang melawan Iran dengan bujet senilai US$200 miliar. Anggota Kongres dari Partai Demokrat Bernie Sanders dengan tegas mengatakan akan menolak proposal tersebut.
Harga yang lebih personal bagi Trump tentunya adalah persetujuan publik atas kepemimpinannya. Jajak pendapat Reuters (Ipsos) mengungkapkan bahwa popularitas Trump turun ke level terendah sejak duduk lagi di Gedung Putih.
Pemicunya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan masa depan suram terkait perekonomian yang bakal terbebani oleh perang melawan Iran.
Harga bensin naik sekitar dua dolar per galon sejak awal perang, menyebabkan penurunan kepercayaan terhadap manajemen ekonomi Trump, dengan peringkat persetujuan tidak melebihi 25% untuk biaya hidup dan 29% untuk manajemen ekonomi. (ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance