Jakarta, TheStance  – Seruan pertobatan ekologis yang disampaikan Uskup Agung Gereja Katedral Ignatius Kardinal Suharyo pada Misa Pontifikal Natal Kamis (25/12/2025) terasa sangat relevan di tengah bencana banjir bandang Sumatra.

Pada akhir November lalu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi saksi keganasan alam yang murka ketika terjadi deforestasi di permukaan gunung-gunung.

Selain dipicu krisis iklim yang memicu badai siklon di berbagai negara, tutupan tanah yang berkurang akibat pembalakan hutan di ketiga provinsi tersebut membuat limpahan hujan berubah dari rahmat menjadi bencana.

Jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 1.000 orang dan memaksa puluhan ribu orang lainnya mengungsi.

Ajakan tobat ekologis sebelumnya juga pernah disinggung pada debat cawapres pilihan presiden (Pilpres) oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin pada 2024 lalu.

Dia mengajak semua pihak untuk mematuhi aturan, menghindari perilaku ugal-ugalan, dan menjunjung tinggi etika lingkungan.

Istilah “Pertobatan Ekologis” semula dicetuskan oleh mendiang Paus Fransiskus lewat Ensikliknya yang bertajuk Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) pada tahun 2015.

Tema pertobatan ekologis terletak pada bab terakhir ensiklik, dijelaskan dalam enam nomor, yakni nomor 216 hingga 221. Tema ini menyajikan tawaran gereja guna membangun hubungan yang harmonis dengan alam semesta.

Seruan yang Bersifat Universal

Paus Fransiskus

Paus Fransiskus mengajak semua orang agar menata kembali dunia yang telah rusak. Orang tidak dapat membangun masa depan hanya memikirkan diri sendiri tanpa mempertimbangkan krisis lingkungan dan penderitaan kaum miskin yang terdampak.

Seruan ini tak sebatas kepada umat nasrani, tetapi semua orang. Pertobatan ekologis tertuang pada paragraf ke-71, dimana Paus terinspirasi dari kitab Imamat. Isinya menjelaskan:

“Perlu adanya keseimbangan antara manusia dan alam sehingga harus ada judea untuk alam beristirahat dari kegiatan manusia terlebih kegiatan yang memberikan dampak terhadapnya seperti penggunaan kendaraan bermotor yang mencemari udara, pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan, pengambilan sumber daya alam tanpa kendali”

Mengutip Laudato Sri Paus Fransiskus yang wafat pada April tahun lalu, pertobatan ekologis menjadi sarana pendekatan manusia dengan Tuhan, terlebih pendekatan dengan alam semesta.

Pasalnya, beberapa orang, khususnya nasrani yang berkomitmen dan berdoa, cenderung meremehkan ungkapan kepedulian terhadap lingkungan dengan alasan realisme dan pragmatisme.

Maka, melalui pertobatan ekologis kita diajak untuk bisa memandang lingkungan sekitar sebagai sahabat kita. Dengan begitu, kita tidak hanya merawat lingkungan, tetapi juga mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara menjaga dan merawat ciptaan-Nya.

Bergaung hingga ke Indonesia

Kardinal Ignatius Suharyo HardjoatmodjoSeruan itu diteruskan Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo di Indonesia, menyebut dunia sebagai “rumah bersama”, di mana kerusakan yang dilakukan kelompok kuat dan kaya sering kali ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin.

“Pesan Gereja adalah pesan moral. Harapannya, para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” kata Suharyo usai Misa Pontifikal di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025)..

Ia menuturkan, kerusakan lingkungan merupakan persoalan global yang begitu kompleks, yang dipicu oleh konsumsi energi berlebihan hingga pemberian izin eksploitasi alam tanpa analisis dampak yang memadai.

“Bencana-bencana yang kita alami ini tidak hanya karena faktor alam, tetapi juga karena peran manusia yang merusak lingkungan hidup,” tutur Suharyo.

Kardinal Suharyo juga menyebut, bencana yang terjadi di Sumatra akhir November lalu bukan sebatas cobaan dari Tuhan, tetapi erat kaitannya dengan tata kelola buruk dan adanya tindakan korup yang mengubah ekosistem dunia.

“Kalau hutan ditebang dan diganti dengan apapun lah, tambang kah. Itu artinya ekosistem dunia ini berubah,” tutur Suharyo.

Pertobatan ekologis, lanjut Suharyo, tak selalu harus dilakukan dalam tindakan besar, melainkan bisa dilakukan setiap hari seperti mengurangi sampah makanan, membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, hingga menyumbang dana.

“Hal-hal kecil seperti itu adalah bentuk pertobatan yang menyentuh seluruh wilayah kehidupan manusia,” ujar Suharyo.

Baca Juga: Selamat Jalan Ir. Arief Mahmud, Sang Penjaga "Gunung Sejuta Umat"

Suharyo juga menegaskan bahwa pertobatan bukan sekadar ritual sesaat, melainkan gaya hidup yang berlandas pada iman.

“Dalam konsep Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah. Memuliakan Allah itu diwujudkan dalam ibadah, tetapi harus diterjemahkan secara konkret dalam bakti kepada sesama,” kata dia.

Selain menyerukan ajakan pertobatan lingkungan, Suharyo juga menyinggung korupsi para kepala daerah yang muncul dalam pemberitaan, menyebutnya sebagai contoh bagaimana kekuasaan tak dijalankan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Kalau kita membaca berita, bupati ditangkap, gubernur ditangkap, itu menunjukkan jabatannya tidak dipakai untuk kebaikan bersama. Maka bangsa ini membutuhkan pertobatan nasional,” kata Suharyo.

Suharyo menyorot sebuah kedudukan semestinya dimaknai sebagai amanah yang diperuntukan untuk kepentingan bersama, bukan untuk pribadi.

“Ketika seseorang diberi kesempatan menjabat, harapannya bukan menduduki jabatan, tetapi mengemban amanah. Jabatan itu dipangku untuk kebaikan bersama, bukan digunakan untuk kepentingan sendiri,” tutur Suharyo.

Ia juga menegaskan ajakan pertobatan nasional tidak hanya dimaknai sebagai semboyan moral, tetapi sebagai panggilan untuk kembali kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia sesuai dengan Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. (mhf)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance