Peringatan: Artikel ini memuat informasi terkait bunuh diri. Informasi dalam artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda, teman, kerabat, atau keluarga memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Jakarta, TheStance – Kematian YBS (10), siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat bunuh diri menjadi sorotan publik. Apalagi alasan bocah itu mengakhiri hidupnya termasuk sepele, yaitu tidak memiliki uang Rp10 ribu untukmembeli buku tulis.
Apakah uang Rp10 ribu senilai nyawa?
Bagaimana anak sekecil itu memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup?
Sekadar catatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang sudah mengingatkan bahwa bunuh diri bukan hanya terjadi di usia dewasa. Bunuh diri juga bisa muncul pada kelompok usia muda, bahkan anak-anak. Pemicunya stress atau masalah psikologis dan tidak ada dukungan emosional.
Saat ini data global menunjukkan bahwa bunuh diri kini menjadi penyebab kematian kedua tertinggi pada anak usia 10–14 tahun.
Angka ini menggambarkan bahwa kesehatan mental pada usia muda bukan lagi masalah sepele. Ini sudah jadi isu krusial yang perlu ditangani bersama oleh keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Angka Bunuh Diri Anak Termasuk Tinggi

Bunuh diri di kalangan anak atau pelajar bukan kali pertama terjadi di Indonesia.
Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya tren peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, Ini terutama dipicu peningakatan tekanan sosial-ekonomi dan digital.
Kejadian cukup menghebohkan terjadi pada Oktober 2025 lalu, ketika dua kasus bunuh diri terjadi di Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Kejadian itu menimpa seorang siswa kelas VIII SMP di Sawahlunto, Sumatera Barat pada Selasa, 28 Oktober 2025.Ia ditemukan tidak bernyawa di ruang kelas setelah izin keluar di tengah jam pelajaran. Korban ditemukan tergantung tak bernyawa oleh tiga orang temannya di ruang kelas yang kosong.
Pada hari yang sama di Sukabumi Jawa Barat, seorang siswi kelas VIII madrasah tsanawiyah (MTs) juga ditemukan tak bernyawa di rumahnya.
Dalam kedua kasus ini, polisi menduga faktor perundungan (bullying) yang dialami korban menjadi pemicu.
Secara umum, angka bunuh diri memang terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan data Pusiknas Polri, pada 2024 terjadi sebanyak 1.105 kasus bunuh diri Angka itu turun tipis dibandingkan 2023 yang mencapai 1.288 kasus.
Sedangkan untuk bunuh diri di kalangan anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat hingga Oktober 2025, ada 25 kasus bunuh diri anak.
Pda 2024, agka bunuh diri anak mencapai 43 kasus, sedang pada 2023 sebanyak 46 kasus.
Kegagalan Negara Melindungi Anak-anak

Andreas Budi Widyanta atau kerap disapa Ab, sosiolog UGM, menilai bunuh diri pada anak tidak dapat dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai tanda kegagalan struktural negara dalam melindungi anak-anak.
Menurut Ab, fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan persoalan sosial yang kompleks dan berakar pada ketimpangan struktural. Ia menilai kasus tersebut merupakan puncak akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
“Fenomena ini harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar”, ujar Ab.
Ia menambahkan kekerasan struktural negara tampak dalam praktik pembangunan yang lebih menguntungkan kelompok elit, sementara masyarakat miskin mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
“Kondisi tersebut menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak,” jelasnya.
Ab menilai keputusan bunuh diri pada anak merupakan bentuk ekspresi kebuntuan akibat hilangnya harapan terhadap masa depan.
"Pilihan bunuh diri menjadi bahasa kegelapan ketika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, dan harapannya. Ini menunjukkan hilangnya ekspektasi terhadap masa depan,” jelasnya.
Ab menyoroti peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai bagian dari tiga pusat pendidikan yang dinilai belum menyediakan ruang dialogis bagi anak. Ia menilai relasi kekuasaan yang cenderung otoriter membuat anak tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan perasaan dan pemikirannya.
“Di keluarga sering tidak ada afeksi, di masyarakat tidak ada pengakuan terhadap hak anak, dan di sekolah guru masih diposisikan sebagai pusat kebenaran. Anak akhirnya tidak memiliki ruang untuk menyuarakan apa yang mereka rasakan”, katanya.
Ia menekankan pentingnya menciptakan ruang afeksi di keluarga, menghapus stigma terhadap anak di masyarakat, serta menjadikan sekolah sebagai ruang dialog yang sehat dan inklusif.
Pentingnya Deteksi Dini

Aris Adi Leksono, Komisioner KPAI, menegaskan setiap kasus bunuh diri anak mencerminkan lemahnya sistem deteksi dini terhadap masalah psikologis anak di lingkungan sekolah dan keluarga.
KPAI mendorong seluruh pihak untuk membangun early warning system yang efektif di sekolah dan komunitas.
Perubahan perilaku pada anak adalah alarm paling penting dan jangan pernah dianggap sepele. Beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai, antara lain :
- Menarik diri, menjadi sangat pendiam
- Perubahan drastis emosi: murung, mudah menangis, cepat marah
- Ucapan bernada putus asa: “Aku capek hidup”, “Aku cuma bikin repot”
- Gangguan tidur, mimpi buruk berulang
- Penurunan prestasi atau kehilangan minat bermain
WHO menyatakan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Dengan early warning system yang baik, maka bunuh diri pada anak sebenarnya bisa dicegah.
Aris mengatakan keluarga adalah benteng utama bagi kesehatan mental anak. Dia mengimbau agar orang tua meningkatkan interaksi emosional dan waktu berkualitas mereka dengan anak, dan tidak menumpuk tekanan akademik atau ekspektasi berlebihan.
“Pencegahan bunuh diri bukan hanya urusan psikolog, melainkan tanggung jawab sosial bersama. Kita perlu hadir dan mendengar anak-anak kita. Satu percakapan penuh empati dapat menyelamatkan nyawa dan harapan masa depan mereka,” tegas Aris. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance