Jakarta, TheStance – Selepas kesyahidan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khemenei, tidak butuh waktu lama bagi Majelis Pakar Iran memilih Pemimpin Tertinggi yang baru. Kondisinya sedang terluka, baik fisik maupun batin.

Namanya Mojtaba Khamenei (56), putra kedua dari Ali Khamenei. Media telah memberitakan namanya sejak Sabtu, 8 Maret 2026, ketika dia diumumkan telah terpilih secara resmi--hanya sepekan sejak agresi Israel.

Berbeda dari ayahnya yang terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berbekal wasiat dari pendahulunya, yakni pemimpin tertinggi Iran pertama Ayatollah Khomeini, Mojtaba tidak tersebut dalam wasiat Ali Khamenei.

Dalam beberapa kesempatan, Ali Khamenei tak pernah menyebutkan siapa yang akan menggantikannya, dan menegaskan bahwa dia mempercayakan Majelis Pakar, yang berisi 88 ulama berkaliber top di Iran.

Namun hingga hari ini sejak dia dipilih, Mojtaba tak kunjung muncul di ruang publik. Sempat beredar rumor bahwa dia sebenarnya tewas tetapi disembunyikan.

Fakta baru terungkap pada Kamis, 12 Maret, ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menjawab pertanyaan surat kabar Italia, Corriere Della Serra. Dia menjelaskan bahwa Mojtaba terluka tapi baik-baik saja.

"Dia [Mojtaba] juga ada di sana dan dia terluka dalam pengeboman itu, tetapi saya belum melihat hal itu tercermin dalam berita asing,” katanya kepada Guardian. “Saya mendengar bahwa beliau terluka di kaki, tangan, dan lengannya…," katanya.

Republik Islam Iran Bukan Dinasti

Esmail Baghaei

Yang pasti, lanjut Esmail, mayoritas Majelis Pakar memilihnya, sesuai dengan Konstitusi Iran dari sekitar empat nama yang diusulkan. "Ini menunjukkan bahwa sistem kami tidak diperintah oleh satu orang," tuturnya.

Mojtaba Khamenei dikenal memiliki pengaruh besar di kalangan birokrat dan Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolution Guard Corp/IRGC).

Namun, statusnya sebagai anak Khamenei cukup menjadi hambatan karena sebagian besar rakyat Iran, khususnya kelompok reformis, menentang kepemimpinan yang diwariskan melalui garis keturunan.

Spekulasi bahwa ia akan menjadi penerus ayahnya telah tersiar lebih dari satu dekade, dan menguat pasca tewasnya Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter.

Dengan pandangan anti Barat seperti ayahnya, Mojtaba tentu tidak disukai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dilansir Guardian, Trump bahkan menyebut skenario terburuk adalah jika penerus Khamenei “seburuk orang sebelumnya”.

Kandidat lain adalah Alireza Arafi, ulama berpengaruh yang memimpin sistem pendidikan agama di Iran. Ia juga merupakan imam salat Jumat di kota suci Qom, pusat ajaran syiah di Iran. Namun, sosoknya kurang begitu diterima secara politis.

Selain itu, ada Mohammad Mehdi Mirbagheri, ulama konservatif dan anggota Majelis Pakar. Ia terkenal memiliki pandangan yang sangat keras terhadap Barat.

Terakhir, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, ulama berpengaruh yang mengepalai lembaga peradilan Iran, yang diamanatkan Khamenei padanya pada 2021. Ia pernah menjabat sebagai menteri intelijen dari 2005 hingga 2009.

Sistem Kekuasaan Berbasis Agama Persulit Infiltrasi AS

Khamenei

Semenjak Ali Khamenei dinyatakan gugur, sulit bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menembus Teheran untuk mengganti rezim yang berkuasa. Konstruksi politik Iran yang berbasis ulama secara natural mempersulit infiltrasi pihak asing.

Karena pemilik suara tertinggi--untuk menentukan maupun memveto semua kebijakan di Iran--adalah kumpulan ulama, agen teliksandi (CIA) harus belajar Islam syiah hingga setara mujtahid jika ingin diterima dan mengubah Iran. Sesuatu yang musykil.

Trump sempat mengeklaim telah mengantongi tiga nama kandidat yang akan menggantikan Khamenei dan menjadi pilihan yang baik untuk rakyat Iran. “Saya tidak akan menyebutkan namanya. Mari kita selesaikan ini dulu,” katanya.

Selain agresi militer, AS begitu gigih ingin mengubah sistem pemerintahan di Iran bahkan sebelum perang terjadi. Pola yang dilakukan AS ketika mengintervensi suatu negara adalah menggulingkan penguasa, menggantinya dengan sosok pro-AS.

Pakar Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Yulius Purwadi Hermawan mengatakan peluang Trump untuk mengganti Khamenei dengan sosok yang pro AS sangat lemah bahkan kemungkinan besar gagal.

Dia juga menyebut tujuan serangan gabungan AS-Israel adalah menggulingkan Khamenei dan menunjuk orang yang direstui oleh Trump.

“Dalam serangan pertama memang jelas yang disasar adalah pemimpin tertinggi. Skenario Trump adalah kalau pemimpin tertinggi gugur artinya akan mudah menempatkan orang yang dipilihnya,” katanya kepada Kompas TV, Senin, 2 Maret 2026.

Namun faktanya tidak semudah itu, karena menurut dia semuanya baru bisa tercapai jika sudah ada gerakan massa yang solid untuk mendukung orang yang ia pilih di Iran.

Pahlavi, Sering Muncul di Media tapi Dibenci Rakyat

anti-Iran

Saat ini tidak ada tokoh separatis Iran yang memiliki keberterimaan luas di kalangan 70 juta rakyat Iran. Bahkan tokoh oposisi saat ini kian solid bersama tokoh konservatif setelah Iran--sebagai bangsa dan tak hanya pemerintahan--diserang zionis.

Reza Pahlavi, keturunan Shah Iran terakhir memang menawarkan diri sebagai pemimpin Iran. Dia berulang kali mengunjungi Israel dan bahkan ikut merapal doa di Tembok Ratapan--ritual wajib para kandidat presiden AS.

“Saya hadir untuk menyerahan diri kepada sesama warga saya untuk memimpin mereka menuju jalur perdamaian dan transisi demokratis,” kata Reza dalam sebuah konferensi pers di Prancis (23/06/2025).

Reza yang berusaha mendekat dengan Washington dan Tel Aviv, bahkan menyebut serangan yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran sebagai intervensi kemanusian kepada rezim yang berkuasa dan dimaksudkan untuk membebaskan rakyat Iran.

“Ini adalah sebuah intervensi kemanusian: dan sasarannya adalah Republik Islam, aparat represifnya, serta mesin pembantaiannya, bukan negara dan bangsa besar Iran,” kata Reza dalam video singkat yang diunggah Ahad, (1/03/2026).

Meski kerap menjajakan diri, Pahlavi tak mendapat tempat di hati rakyat Iran. Kedekatannya dengan AS dan Israel serta jejak kepemimpinan ayahnya yang represif, menjadi batu sandungan bagi Pahlavi untuk membangun basis politik di negara asalnya.

Belum lagi skandal istrinya yang hidup glamor dan dikabarkan memiliki hubungan terlarang dengan pemain film porno. Di berbagai demonstrasi rakyat Iran yang pro-pemerintah, Pahlavi menjadi bahan olok-olokan.

Hingga kini pun Trump dan politisi AS tak tertarik untuk memasangnya sebagai pemimpin Iran yang baru. Bahkan Senator Partai Republik Lindsey Graham menolaknya mentah-mentah di depan umum.

Memimpin Iran dalam Kondisi Terluka

Alireza Salarian

Duta Besar Iran untuk Siprus Alireza Salarian mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei terluka dalam serangan 28 Februari lalu, seperti dilaporkan The Guardian.

Yousef Pezeshkian, putra presiden Iran Masoud Pezeshkian yang merupakan politisi dari kalangan Syiah moderat (reformis), mengatakan Mojtaba Khamenei terluka tetapi tidak menjelaskan bagaimana lukanya. Di akun Telegram miliknya, dia menulis:

“Saya mendengar kabar bahwa Bapak Mojtaba Khamenei terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa teman yang memiliki koneksi. Mereka memberi tahu saya bahwa, alhamdulillah, beliau selamat dan sehat.”

Seorang pejabat Iran pada Rabu mengatakan kepada Reuters bahwa Khamenei “terluka ringan” tetapi masih terus beroperasi, memimpin dan mengoordinasikan Iran dalam situasi perang.

Televisi pemerintah Iran pun menggambarkan pemimpin baru Republik Islam Iran tersebut sebagai “veteran yang terluka dari perang Ramadan” tanpa merinci luka-lukanya. Namun yang jelas, di luar luka fisik, Mojtaba menyimpan luka batin.

Serangan pengecut AS-Israel yang membunuh ayah dan ibunya (Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh) juga merenggut istri terkasihnya, Zahra Haddad-Adel, dan putra termudanya yang masih anak-anak, Mohamed Bagher.

Baca Juga: Ali Khamenei, Peletak Modernisasi Iran yang Menjadi Bara Perlawanan

Dalam situasi kedukaan penuh luka itulah Mojtaba terpilih memimpin Iran. Sosok yang bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak lulus SMA ini dipastikan terbiasa dengan pergolakan militer dan perlawanan.

IRGC, yang berdiri tahun 1979 untuk melindungi dan melestarikan revolusi, kini memegang kendali atas sistem keamanan berlapis dan kekuatan ekonomi Iran yang sangat besar. Para komandannya masih memegang kendali.

"Dan perang ini bukan lagi sekadar pertarungan politik; ini sangat personal. Ini juga tentang balas dendam," demikian tulis BBC.

Maka tidak heran di pidato perdananya, yang dipublikasikan dalam bentuk tulisan, Mojtaba menyampaikan duka cita mendalam dan merasakan betul luka rakyat Iran yang keluarganya terbunuh dalam serangan keji AS-Israel.

"Saya juga telah mengantar istri yang setia dan berharga ke barisan syuhada, yang saya gantungkan banyak harapan untuk menjemputnya," tuturnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa hukuman akan diberikan pada mereka yang bertanggung jawab di balik tumpahnya darah para syuhada tersebut.

"Pembalasan yang kami maksud tidak terbatas pada syahidnya Pemimpin Agung Revolusi, tetapi setiap individu dari rakyat yang syahid oleh tangan musuh merupakan masalah pembalasan tersendiri," ujarnya.

Pidato perdananya itu menunjukkan perhitungan Trump meleset ketika ingin meraih kemenangan cepat di Iran. Perang Iran akan berlangsung lama. Kita mesti bersiap-siap mengantisipasinya. (mhf/ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance