Jakarta, The Stance – Tatanan dunia berubah drastis dengan hukum internasional yang kian diabaikan, puncaknya dalam perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran. Di tengah situasi itu, Indonesia dilibas AS, tak juga menang di depan Iran.

Buntut agresi AS-Israel terhadap Iran adalah perang selama 40 hari, yang kini berujung pada gencatan senjata sementara sembari menunggu negosiasi AS-Iran putaran kedua di Islamabad, Pakistan.

Namun pembicaraan tak kunjung dimulai dengan delegasi Iran menolak hadir, karena AS memblokade dan membajak kapal Touska miliknya.

AS sendiri ngotot blokade tak akan dibuka jika Iran menolak menyepakati tuntutan yang mereka diktekan. Mereka juga menuntut Iran membatalkan sistem penetapan tarif tol terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Di tengah situasi demikian, warganet Indonesia dikagetkan dengan temuan bahwa kapal milik Pertamina yang terdampar di Selat Hormuz, dan tak diizinkan Iran untuk lewat, rupanya diawaki warga India secara penuh.

Unggahan video akun @andrianumar pada 18 April 2026 tersebut viral setelah mengungkap bahwa kru kapal tanker bernama MT Gamsunoro tersebut tidak mempekerjakan satu pun warga negara Indonesia (WNI).

Hal ini terkonfirmasi setelah dia menghubungi kapal MT Gamsunoro via radio dan mendapat jawaban yang mengagetkan: “owner is Indonesia, but crew is all Indian.”

Ketika ditegaskan kembali apakah ada orang Indonesia di dalam kapal, awak tersebut menjawab tegas, “Negative, no Indonesian, all Indian.”

Pemerintah Masih Bungkam, Kapal Masih Tertahan

kapal Pertamina

Temuan itu tak sejalan dengan keterangan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang menyebutkan ada 35 anak buah kapal (ABK) di kedua kapal tanker tersebut. Mereka merupakan bagian dari 281 WNI di Iran.

Hingga tulisan ini diunggah, Kemenlu maupun Pertamina belum memberikan keterangan resmi menanggapi unggahan viral terkait ABK kapal MT Gamsurono tersebut.

Terbaru, Juru bicara Kemenlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan pemerintah berupaya berdiplomasi agar kapal tanker milik Pertamina dapat melintas. Menlu Sugiono juga telah bertemu Dubes Boroujerdi perihal izin tanker-tanker milik Pertamina.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran juga terus berkoordinasi dengan pemerintah Iran maupun dengan kedutaan Iran di Jakarta.

“Dapat kami sampaikan bahwa pemerintah terus memantau secara cermat perkembangan situasi di kawasan, termasuk Selat Hormuz, melalui koordinasi KBRI Tehran dan otoritas terkait,” kata Mulachela kepada wartawan, Minggu (19/4/2026).

Dia menyebut beberapa hal teknis masih sedang disiapkan. Dalam pernyataan sebelumnya dalam jumpa pers di kantor Kemenlu, Rabu, 8 April 2026, Nabyl menyebut beberapa hal teknis yang dimaksud.

“Beberapa hal yang cukup teknis sedang ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintas dari sana. Dan ini termasuk antara lain seperti asuransi dan juga kesiapan kru,” tutur Nabyl.

Nabyl juga menegaskan semua pihak wajib mematuhi hukum internasional dan pemerintah ingin kebebasan berlayar dihormati.

Jurus Negosiasi Indonesia Beda dari Jurus Negara Tetangga?

Ditolaknya kapal Pertamina untuk melintasi Selat Hormuz hingga sebulan lebih tak pelak memicu pertanyaan besar: apa salah Pertamina, dan Indonesia, hingga aset kapalnya tersebut diperlakukan seperti kapal milik negara pendukung AS-Israel?

Pasalnya, Iran telah memberi lampu hijau kepada beberapa negara untuk melintasi jalur yang dilintasi pasokan minyak dunia itu, di antaranya China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India.

“Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilansir dari Kompas.

Bahkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand. dan Filipina juga telah diberi izin untuk melintasi Selat Hormuz setelah melakukan komunikasi dan diplomasi intensif.

Iran memberikan isyarat, bahwa jhanya kapal negara yang tidak terafiliasi dengan AS-Israel, selaku agresor, yang diperkenankan melewati Selat Hormuz.

Hingga kini, tanker milik Pertamina masih tertahan. Menurut Vessel Finder, per Selasa 21 April 2026, dua tanker milik Pertamina Internasional Shipping, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro masih terjebak di Selat Hormuz.

Pertamina Pride dijadwalkan tiba di Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 April 2026 lalu. Tanker berbendera Singapura itu mengangkut 2 juta barel minyak mentah untuk kebutuhan energi dalam negeri.

Sementara itu, Gamsunoro mengangkut minyak untuk negara lain. Gamsunoro tercatat terakhir kali berlabuh di Terminal Minyak Al Basrah, Irak. Sama seperti Pertamina Pride, Gamsunoro seharusnya sudah berlabuh di negara tujuan.

Indikasi Hubungan Indonesia-Iran Memburuk

demonstrasi

Tertahannya kapal Pertamina tatkala kapal milik negara tetangga diizinkan berlayar mengindikasikan buruknya hubungan Indonesia dengan Iran.

Manuver Iran menanggapi insiden kapal Pertamina juga mengonfirmasi itu. Duta Besar Iran di Jakarta Mohammad Boroujerdi tak menyambangi pemerintah terkait tanker Indonesia yang tertahan di Teluk Persia.

Boroujerdi malah memilih bersafari menemui para tokoh nasional di luar pemerintahan. Ia mengunjungi Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, serta Presiden ke-7 Joko Widodo.

Dalam pertemuan itu Boroujerdi menyinggung situasi Iran terkini serta menyoroti kejahatan perang AS-Israel di Palestina, Lebanon, maupun Iran.

Kepala Program Magister Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Zezen Zaenal Mutaqin menilai langkah Boroujerdi tersebut merupakan strategi Iran untuk membaca sikap Indonesia.

Menurut Zaenal, Iran melalui dubesnya ingin memastikan sikap Indonesia, apalagi pasca bergabung dengan Board of Peace (BoP), yang dibuat oleh Donald Trump.

“Strateginya seperti ‘dari pinggir’ dengan meyakinkan tokoh-tokoh berpengaruh yang tidak berada langsung di pemerintahan,” kata Zezen dilansir Kompas.

Dibanding Indonesia, Malaysia dianggap memiliki diplomasi yang merebut hati negara-negara Arab. Dalam kasus serangan AS-Israel akhir Februari lalu, Malaysia menunjukkan rasa solidaritasnya terhadap Iran selaku negara yang diserang.

Rumitnya dan Gamangnya Posisi Indonesia

Hikmahanto Juwana

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia cukup rumit terkait kapal yang masih tertahan di Selat Hormuz. “Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” katanya pada Kompas.

Di satu sisi Indonesia harus mengupayakan kapal tankernya dapat melintas demi kebutuhan energi nasional, di sisi lain langkah itu berpotensi memicu persepsi bahwa Indonesia memihak Iran di tengah upaya Presiden Prabowo Subianto mendekati AS.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nostalgiawan Wahyudi menyebut peliknya kapal–kapal Pertamina melintasi Selat Hormuz terkait kedekatan Indonesia dengan negara Arab.

Selama ini, Indonesia dinilai memiliki hubungan istimewa dengan negara-negara Arab karena sikap solidaritasnya mendukung kemerdekaan Palestina dan kesamaan kultur karena negara dengan mayoritas penduduk memeluk Islam.

Faktanya, merujuk laporan Kompas, dalam rancangan politik luar negeri yang disusun Kementerian Luar Neger (Kemenlu)i, negara Arab diposisikan sebagai kelompok negara nontradisional, alias negara yang bukan menjadi prioritas diplomasi.

Selain negara Asia Barat, negara Afrika juga masuk daftar negara nontradisional. Sementara itu, negara yang masuk kategori negara tradisional atau prioritas diplomasi Indonesia adalah AS, Inggris, dan Jepang.

“Diplomasi Indonesia ke Timur Tengah belum pernah matang. Bahkan di era Retno Marsudi,” kata Nostalgiawan kepada Kompas.

Kurang responsifnya Indonesia mendekati Iran terlihat dari ucapan duka cita gugurnya pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang lambat. Prabowo juga terlambat menyampaikan ucapan belasungkawa.

Baca Juga: Kegagalan Telak Diplomasi Indonesia: Bayar untuk Jadi Pasar Amerika, dan Jadi Satpam di Gaza

Soal serangan terhadap Iran, pemerintah lewat Kemenlu hanya menggunakan diksi “menyayangkan” alih-alih mengutuk atau mengecam serangan AS. Pun tak ada kutukan terhadap pihak penyerang.

“Mereka menilai diplomasi Malaysia lebih tulus, dibandingkan Indonesia,” kata Nostalgiawan menjelaskan posisi Indonesia yang kini terkatung-katung dalam krisis Selat Hormuz.

Tak bisa memenangkan kepentingan nasional di hadapan Iran, tak lantas membuat Indonesia sukses memenangkan kepentingan nasional di hadapan AS--sekalipun Prabowo duduk semeja dengan negara penjajah Israel di Board of Peace (BoP).

Kesepakatan tarif resiprokal (agreement on reciprocal tariff/ART) yang baru saja diteken justru lebih menguntungkan AS ketimbang Indonesia. Indonesia wajib mengimpor produk AS dengan tetap terkena tarif lebih besar, yakni 19%.

Demikian juga kesepakatan pertahanan terbaru yang disinyalir memberi AS akses bebas ke ruang udara Indonesia, sementara tak jelas bangsa ini akan mendapat manfaat apa.

Tak berdaya di hadapan AS, tersandera juga di hadapan Iran. (mhf/ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance