Jakarta, The Stance – Tragedi tumbukan maut di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur pada Senin 27 April 2026, antara kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, memicu tanya soal taksi listrik GreenSM.

Tatkala 16 nyawa melayang akibat insiden "mati mesin" mendadak si taksi hijau, pesohor sekaligus pejabat negara Raffi Ahmad mendadak datang di lokasi kejadian. Kehadiran Raffi di malam nahas itu pun memicu spekulasi liar.

Pasalnya, Raffi bukan sekadar artis, melainkan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, jabatan yang secara struktural sama sekali tak relevan dengan manajemen krisis transportasi atau investigasi kecelakaan rel.

Hingga kinipun PT VinFast Automobile Indonesia selaku produsen taksi yang mogok di tengah perlintasan kereta tersebut belum mempublikasikan hasil investigasi mereka atas kendala produknya tersebut.

Warganet Curiga Ada Rafi di Taksi Hijau

Raffi Ahmad

Kehadiran Raffi bahkan lebih awal dari Presiden Prabowo Subianto yang baru datang sehari kemudian yakni pada Selasa 28 April 2026 untuk memantau dan meminta agar investigasi segera dilakukan.

Kepada publik, Raffi memang menjelaskan bahwa kehadirannya adalah bentuk empati personal. “Saya spontan aja datang tadi malam, karena atas nama kemanusiaan. Dan di sana saya menjenguk korban-korban,” ujarnya kepada pers.

Namun, pembelaan tersebut gagal membendung kecurigaan netizen. Isu mengenai keterlibatan modal sang "Sultan" di balik ekspansi taksi asal Vietnam itu menyeruak.

Salah satu warganet, @mpoksar****, mencuitkan keresahan yang mewakili banyak orang: “Dengar-dengar dari para driver, ternyata deseu adalah salah satu investor di taksi ijo ugal-ugalan itu.”

Meski data resmi mencatat GreenSM berada di bawah payung Vingroup milik milyarder Vietnam, Pham Nhat Vuong, testimoni di lapangan berkata lain.

Nanda (nama samaran), seorang sopir taksi, memberikan petunjuk yang mengarah pada promosi terselubung jauh sebelum armada ini mengaspal.

“Dahulu waktu belum ada Green SM, saya masih di taksi online lain, ada penumpang bilang, akan ada taksi listrik punya Raffi Ahmad,” ungkapnya kepada The Stance.

Namun hingga artikel ini diunggah, belum ada bukti otentik yang menunjukkan bahwa Raffi memiliki saham di perusahaan taksi tersebut selain desas-desus bahwa ia menginvestasikan dana pribadi senilai Rp500 juta.

DPR Mendesak Evaluasi Total

Kawendra Lukistian

Kritik keras datang dari parlemen. Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian, menilai insiden ini bukan sekadar kesialan teknis, melainkan kegagalan yang berulang.

Dia menuntut ketegasan pemerintah terhadap GreenSM yang rekam jejaknya mulai dipertanyakan. Dia menyoroti kondisi taksi hijau Green SM sebagai pemicu awal kecelakaan tersebut.

“Ini bukan sekadar insiden tunggal, sudah beberapa kali terhenti di perlintasan kereta api dan banyak aduan masyarakat terkait taksi ini,” tegas Kawendra, sebagaimana dikutip dari laman resmi Gerindra.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengingatkan agar hukum tidak tumpul di hadapan gurita bisnis atau sosok kuat di balik operasional GreenSM. Baginya, keselamatan konsumen adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan investasi.

“Apalagi kalau dilihat sudah cukup banyak kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh taksi ini, tidak ada salahnya ditutup sementara, agar mereka memperbaiki kinerjanya sebelum muncul masalah-masalah baru lagi,” ujarnya kepada The Stance.

Ia bahkan memberikan peringatan keras kepada pemerintah daerah agar tidak "minder" menghadapi tekanan korporasi.

“Jadi enggak usah takut pemiliknya siapa, yang penting ini demi keselamatan konsumen atau pengguna taksi di Indonesia termasuk Pemda juga tidak usah khawatir untuk menolak taksi seperti ini beroperasi di daerah,” sambungnya.

Baca Juga: Tragedi Bekasi Timur: Potret Kelam Sistem Keamanan Perkeretaapian Nasional

Di sisi lain, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memilih bersikap hati-hati menyerukan investigasi terlebih dahulu, dan baru mengenakan sanksi tegas jika terbukti ada kelalaian sistemik.

“Apabila ditemukan unsur kesalahan dari pihak pelaku YLKI juga mendorong adanya sanksi bagi perusahaan. Baik sanksi administratif atau sanksi lain bagi pelaku usaha yang menimbulkan efek jera,” ujar Pengurus Harian YLKI Rio Priambodo ke The Stance.

Sementara itu Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi menegaskan bahwa siapapun pemilik GreenSM juga harus bertanggungjawab jika terbukti melanggar.

“Harus ada bukti pelanggaran yang dilakukan. Siapapun pemiliknya,” tegas Tulus.

Tragedi ini juga menjadi ujian bagi pemerintah. Pada Januari 2024, Presiden ke-7 Joko Widodo mengunjungi langsung pabrik Vinfast di Vietnam dan menyambut investasi senilai US$1,2 miliar atau sekitar Rp18,7 triliun.

Investasi jumbo untuk ekosistem kendaraan listrik memang menggiurkan, namun kecelakaan di Bekasi Timur menjadi pengingat pahit: bahwa teknologi hijau tidak boleh dibayar dengan nyawa warga.

Demikian juga, kedekatan figur publik dengan pemodal tidak boleh mengaburkan akuntabilitas hukum. (par)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance