Oleh Harun Al-Rasyid Lubis. Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB), pernah menjadi Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian Nasional, dan kini aktif sebagai Chairman Infrastructure Partnership & Knowledge Center (IPKC).

Ada dua cara sebuah program sebesar Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berhasil. Cara pertama: menang di panggung—angka penerima naik, foto pembagian rapi, laporan terlihat meyakinkan.

Cara kedua: menang di tubuh anak—anemia turun, berat badan membaik, absensi berkurang, kemampuan belajar meningkat, dan kejadian sakit terkait makanan tidak terjadi.

Cara pertama lebih mudah. Cara kedua lebih sulit, tapi itulah satu-satunya kemenangan yang pantas dibanggakan.

MBG adalah kebijakan yang pada dasarnya menyentuh kebutuhan paling elementer: makanan. Namun justru karena menyentuh sesuatu yang sangat dasar, MBG rentan tergelincir.

Ia bisa menjadi investasi generasi—atau berubah menjadi proyek statistik yang hanya ramai pada angka “porsi tersalur”. Untuk mencegahnya, publik perlu cara berpikir yang tidak hanya emosional (“pro rakyat!” atau “pasti gagal!”), melainkan struktural.

Di sinilah E-OAT (Epistemology–Ontology–Axiology–Teleology) berguna: ia memaksa kita menilai program dari sumber pengetahuannya, realitas lapangannya, nilai etikanya, hingga tujuan akhirnya.

Kalau “Bergizi” Tak Diukur, Ia Hanya Label

Epistemologi menanyakan: kita tahu MBG itu perlu dari mana? dan bagaimana kita tahu program ini berjalan benar? Untuk urusan gizi, jawaban “niat baik” tidak cukup.

Gizi adalah bidang yang bisa diukur, diuji, dan dievaluasi. Bila “bergizi” tidak punya indikator yang jelas, label bergizi bisa ditempel pada apa pun—dan itulah awal malapetaka kebijakan.

Setidaknya, MBG harus punya “kamus kebenaran” yang disepakati: standar menu, kebutuhan energi/protein per kelompok usia, batas gula/garam, dan indikator kesehatan yang dipantau.

Ukuran paling minimalnya bukan “makanan dibagikan”, melainkan makanan dimakan dan berdampak.

Ini kelihatan sepele, tapi dalam praktik program makan massal, makanan bisa tidak dimakan karena rasa, waktu distribusi, budaya makan, atau kualitas yang menurun selama perjalanan.

Epistemologi juga menuntut keterbukaan metode: bagaimana menu disusun, bahan dipilih, kualitas diuji, dan hasil dievaluasi. Tanpa itu, publik hanya disuguhi output. Padahal output mudah diproduksi; outcome harus diperjuangkan.

Kontra-argumen #1: “Yang penting anak kenyang dulu. Data belakangan.”

Jawaban: kenyang bukan sinonim bergizi. Program gizi tanpa ukuran akan melahirkan dua risiko: pertama, anak kenyang tapi tetap defisit zat penting (misalnya protein, zat besi)

Dan, muncul pemborosan karena makanan tidak cocok dan tidak dimakan. Data bukan “pelengkap”. Data adalah pembeda antara kebijakan dan sekadar kegiatan.

MBG Itu Program Logistik Sebelum Jadi Program Gizi

Ilustrasi Dapur MBG

Ontologi menanyakan: realitas masalah yang disasar apa? Banyak orang mengira masalahnya “anak lapar”. Padahal gizi buruk adalah kombinasi: akses pangan, daya beli, kebiasaan makan, sanitasi, kesehatan keluarga, hingga literasi gizi.

MBG hanya satu intervensi dalam jaringan persoalan itu. Kalau MBG diperlakukan sebagai “obat tunggal”, ia akan dibebani harapan yang mustahil. Yang lebih krusial: MBG adalah program logistik.

Makanan tidak lahir di kelas. Ia lahir di rantai pasok: pengadaan bahan, dapur, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan pengawasan. Ini realitas ontologis yang sering disembunyikan oleh retorika “makan gratis”.

Dalam logistik, kualitas bisa berubah dari menit ke menit: suhu, kebersihan, waktu tempuh, dan standar penjamah makanan menentukan aman atau tidaknya makanan.

Dengan kata lain, MBG adalah program biologi yang dijalankan lewat mesin administrasi dan logistik. Karena itu, ukuran sukses ontologis MBG bukan hanya “ada menu”, melainkan:

1. makanan aman (keamanan pangan),

2. makanan sesuai kebutuhan gizi,

3. makanan tiba tepat waktu,

4. makanan benar-benar dimakan,

5. dampaknya terukur.

Kontra-argumen #2: “Kalau rantainya rumit, berarti programnya terlalu ambisius.”

Jawaban: benar bahwa rantainya rumit. Tetapi gizi nasional memang rumit. Pertanyaan yang tepat bukan “terlalu ambisius atau tidak”, melainkan “apakah ambisi itu diimbangi sistem kontrol mutu?”

Program besar bisa berjalan jika tahapannya realistis, standar minimalnya tegas, dan evaluasinya jujur. Ambisi yang dibekali governance bisa menjadi lompatan; ambisi tanpa governance menjadi bencana.

Ujian Amanah, Bukan Sekadar Program Sosial

MBG mentah

Aksiologi menanyakan: nilai apa yang dijaga? apa dampak moralnya? Dalam program makan massal, aksiologi adalah jantungnya.

MBG menyentuh dua hal yang paling sensitif: anak dan uang publik. Bila terjadi kegagalan, dampaknya bukan hanya angka, tetapi kepercayaan.

Ada tiga nilai yang harus dipaku mati:

1) Amanah dan integritas pengadaan

Program besar dengan pengadaan besar selalu punya godaan besar. Ini bukan sinisme, ini logika. Kebocoran bisa berbentuk apapun: mark-up harga, kualitas bahan turun, porsi disunat, atau vendor yang hanya mengejar volume.

Karena itu, aksiologi “amanah” harus turun menjadi mekanisme: transparansi pengadaan, audit berkala, pelacakan pemasok, kanal pengaduan sekolah/orang tua, dan sanksi yang nyata.

2) Keadilan distribusi

Keadilan bukan berarti semua dapat bersamaan. Keadilan berarti yang paling rentan diselamatkan lebih dahulu.

Dalam kebijakan publik, terlalu sering program dimulai dari daerah yang paling mudah (akses bagus, logistik dekat, dokumentasi rapi) karena hasilnya cepat terlihat.

Namun itu bisa menjadi “kemenangan palsu”. Jika MBG tidak berpihak pada daerah paling rentan, ia menjadi program yang rapi di pusat tetapi timpang di pinggir.

3) Anti-mubazir dan menjaga martabat penerima

Makanan yang terbuang adalah dosa kebijakan: membakar anggaran dan menormalisasi pemborosan. Program yang matang akan mendesain menu yang bergizi sekaligus dapat diterima anak, porsi yang tepat, dan pengelolaan sampah.

Di saat yang sama, proses distribusi harus menjaga martabat: jangan menciptakan stigma “yang dapat makan gratis adalah yang miskin”, jangan mempermalukan siswa, dan jangan memicu konflik sosial di sekolah.

Kontra-argumen #3: “Ini program bantuan, wajar kalau ada sisa dan masalah kecil.”

Jawaban: untuk program biasa, mungkin. Tapi MBG menyasar anak dalam skala besar dan berjalan berulang. “Masalah kecil” yang berulang akan menjadi masalah besar.

Sisa makanan yang terus-menerus adalah sinyal desain yang salah. Kelalaian kecil dalam higienitas bisa menjadi risiko kesehatan. Program besar harus memiliki standar besar.

Tujuan MBG Harus Lebih Tinggi dari “Kenyang”

Teleologi menanyakan: untuk apa MBG pada akhirnya? Jika tujuan MBG hanya “makan gratis”, program akan berhenti sebagai subsidi konsumsi. Tujuan yang layak adalah tujuan generasional.

Teleologi yang sehat harus menyusun tangga tujuan:

1. Jangka pendek: akses makan bergizi yang aman dan rutin.

2. Jangka menengah: kesehatan membaik, ketahanan belajar meningkat, absensi turun.

3. Jangka panjang: kualitas SDM naik, produktivitas naik, ketimpangan gizi antarwilayah mengecil.

Teleologi juga menuntut kejujuran: jika indikator outcome tidak membaik, desain harus diubah. Program besar yang anti-koreksi biasanya mati pelan: ia tetap jalan, tetap menghabiskan anggaran, tetapi kehilangan kepercayaan publik dan kehilangan dampak.

Jika MBG ingin menutup pintu “program statistik”, publik patut menuntut tiga ukuran sukses yang tegas dan tak boleh ditawar:

1. Outcome gizi, bukan sekadar output porsi: Minimal ada pelaporan indikator kesehatan/gizi (agregat dan aman privasi) dan evaluasi berkala yang bisa diperiksa.

2. Keselamatan pangan sebagai garis merah: Standar higienitas, pelatihan, pengawasan, dan prosedur penanganan insiden harus berjalan. Jika ada lokasi tidak memenuhi syarat, lebih baik dihentikan sementara untuk perbaikan daripada dipaksa jalan.

3. Transparansi pengadaan dan kanal keluhan yang hidup: Program yang menyentuh uang besar dan makanan anak harus punya transparansi yang sebanding: audit, penelusuran pemasok, dan mekanisme keluhan yang cepat ditindak.

MBG adalah ide yang bisa menjadi berkah sosial—tapi hanya jika dipimpin oleh ilmu dan dijaga oleh nilai. Tanpa ukuran, “bergizi” hanya label. Tanpa sistem logistik yang kuat, gizi tidak pernah sampai sebagai gizi.

Tanpa amanah dan keadilan, program sosial berubah jadi ladang masalah. Tanpa tujuan outcome, program besar jadi sekadar rutinitas mahal.

Negara boleh bangga ketika porsi tersalurkan. Tetapi publik baru boleh percaya ketika anak-anak benar-benar tumbuh lebih sehat, belajar lebih baik, dan masa depan terasa lebih mungkin.

MBG bukan soal kotak makan hari ini—ia soal apakah kita sanggup menjalankan amanah besar dengan cara yang benar.

Semoga signifikansi penggerusan biaya opportunitas MBG terhadap sektor lain tidak mengantar bangsa (baca :cucu-cucu kita) ke jurang kesulitan yang lebih dalam.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.