Oleh Hamdi Putra, Ketua Forum Sipil Bersuara (Forsiber).

Dunia internasional telah meledakkan bom waktu yang selama ini berusaha diredam di bawah karpet birokrasi Indonesia.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digadang-gadang sebagai mukjizat penyelamat masa depan generasi bangsa, kini berubah menjadi noda hitam yang menghiasi halaman media elit global.

Bukan lagi sekadar riak domestik tentang perut mual atau pusing, Le Monde—raksasa media asal Prancis dengan reputasi intelektual yang tak tergoyahkan—meluncurkan laporan yang menggetarkan fondasi negara:

MBG bukan hanya memicu keracunan massal, tetapi telah menelan korban jiwa.

Selama ini, setiap kali aroma busuk kegagalan muncul ke permukaan, otoritas terkait dengan cekatan merilis klarifikasi. Standar operasional prosedur dipuja-puji, dan jeritan publik dibungkus rapi dengan jargon-jargon teknis yang menidurkan.

Namun, serangan dari Paris ini bukan sembarang angin lalu. Le Monde bergerak di atas standar jurnalistik Eropa yang paling ketat, dengan verifikasi berlapis yang membuat tuduhan mereka mustahil dianggap sebagai sekadar "gangguan informasi".

Ketika media sekelas mereka berani menyebut adanya nyawa yang melayang, itu bukan lagi opini, melainkan dakwaan serius terhadap kredibilitas bangsa di mata dunia.

Kini, narasi pemerintah beradu hantam dengan fakta internasional. Mengapa sebuah institusi di belahan bumi lain mampu mencium aroma kematian yang justru ditutupi dengan rapat di dalam negeri?

Menembus Jantung Kepercayaan Publik

Prabowo - Jurnalis

Jika narasi pemerintah adalah perisai, maka laporan Le Monde adalah pedang yang baru saja menembus jantung kepercayaan publik.

Dalam setiap kebijakan yang menyasar anak-anak, satu nyawa yang hilang adalah kegagalan total yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada ruang untuk "margin of error" ketika yang dipertaruhkan adalah denyut nadi generasi penerus.

Nyawa manusia bukanlah statistik, dan mereka bukan pula tumbal untuk eksperimen kebijakan yang ceroboh. Situasi ini telah bergeser dari sekadar masalah komunikasi menjadi krisis kepercayaan yang akut.

Pemerintah kini berdiri di antara terus bertahan dengan pernyataan defensif yang kian merapuh, atau membuka tabir transparansi se-ekstrim mungkin.

Jika laporan internasional ini benar, maka ini adalah tragedi kemanusiaan sistemik yang menuntut pertanggungjawaban hukum setinggi-tingginya.

Namun, jika pemerintah bersikeras bahwa laporan tersebut sesat, maka bantahan verbal saja adalah penghinaan terhadap logika publik.

Baca Juga: Ramai-Ramai Gugat Anggaran MBG ke Mahkamah Konstitusi

Dunia sedang menonton dengan tatapan menghakimi. Jutaan orang tua kini didera kecemasan setiap kali anak mereka menyentuh jatah makan dari negara.

Kita tidak boleh membiarkan reputasi nasional hancur berkeping-keping hanya karena ego birokrasi yang enggan mengakui lubang dalam sistem keamanan pangannya.

Laporan Le Monde adalah alarm keras yang memekakkan telinga, sebuah peringatan bahwa nyawa anak-anak Indonesia terlalu berharga untuk dijadikan harga sebuah program negara.

Berikan kami kebenaran yang utuh, atau biarkan sejarah mencatat MBG sebagai monumen kegagalan yang berlumuran air mata.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance