Jakarta, The Stance – Rupiah anjlok ke level terendah sepanjang masa ke Rp17.252 per dolar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan, setelah pada Kamis menyentuh level psikologis 17.300. Faktor Moodys' dan Morgan Stanley hilang dari percaturan.
Dalam menjelaskan koreksi Mata Uang Garuda tersebut, mayoritas media arus utama menyalahkan faktor eksternal. Misalnya Kontan yang mengulas pemicu koreksi tak lain adalah konflik Iran yang bisa "mengancam ketahanan fiskal."
Demikian halnya dengan analisis CNBC Indonesia yang memilih mengulas pelemahan rupiah dengan tone optimistis, menyebut krisis Iran sebagai biang di balik pelemahan.
Mengutip Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Info Bank juga menyebut depresiasi rupiah bukan dipicu oleh kondisi fundamental dalam negeri, melainkan "kombinasi faktor global dan gangguan informasi di dalam negeri."
Namun, tak banyak yang memberitakan soal rilis terbaru Moody's yang pada Kamis akhir pekan lalu (16 April 2026) merilis laporan baru berjudul "Policy Uncertainty Will Constrain Credit Strength as Regulatory Intervention Rises."
Sejak laporan itu dirilis, rupiah melemah dari level Rp17.100/dolar AS pada Jumat akhir pekan lalu (ke Rp17.133/dolar AS), yang mencapai puncaknya Selasa (di Rp17.310/dolar AS), hingga bertengger di level psikologis 17.200 akhir pekan ini.
Habis Moody's Terbitlah Morgan Stanley

Intinya, laporan Moody's tersebut menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang menjadi kendala bagi kekuatan kredit Indonesia, meskipun lembaga pemeringkat tersebut mempertahankan peringkat Baa2 (layak investasi).
Prospek kredit Indonesia direvisi menjadi 'Negatif' karena kekhawatiran atas prediktabilitas kebijakan, kendala disiplin fiskal terkait program pengeluaran skala besar (seperti Makan Bergizi Gratis).
Selain itu, mereka juga mempertanyakan tentang tata kelola Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Demikian juga soal transparansi dan potensi kewajiban kontinjensi Danantara terhadap anggaran negara.
Faktor-faktor tersebut sebenarnya telah mereka singgung dalam asesmen pada 9 Februari 2026. Namun dalam laporan terbarunya, mereka mengulas lebih jauh tentang kekhawatiran mereka terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Selanjutnya pada Selasa, 20 April 2026, Morgan Stanley memutuskan tetap mengecualikan emiten Indonesia dari daftar indeks saham unggulan globalnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Hal itu tersampaikan dalam keterangan resmi bank investasi yang berbasis di Amerikat Serikat (AS) tersebut setelah melakukan kajian terhadap pembaruan penilaian atas aturan saham beredar minimal (free float) di bursa Indonesia
“MSCI sedang menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data serta langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kemampuan investasi yang lebih luas,” tulis Morgan Stanley dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Double Downgrade Moody’s dan MSCI Picu Risiko Krisis Likuiditas dan Moneter
Sebelumnya pada 27 Januari 2026, MSCI mengeluarkan saham-saham asal Indonesia dari daftar indeks saham unggulan dunia yang disusunnya karena bursa nasional dinilai tidak transparan dan berisiko tinggi mengalami manipulasi pasar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pun berbenah-benah, berbarengan dengan mundurnya Kepala OJK Mahendra Siregar dan Direktur Utama BEI Iman Rachman.
Otoritas pasar modal dan regulator bursa tersebut telah menyusun laporan rencana reformasi transparansi pasar Indonesia dalam rangka memperbaiki persepsi investor global dan menjamin keamanan mereka berinvestasi di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah pengungkapan pemegang saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka kerja high shareholding concentration (HSV), dan peta jalan peningkatan batas minimal free float menjadi 15%.
Dua Emiten yang Terdampak

Kendati demikian, MSCI menyatakan perlu evaluasi soal ruang lingkup, konsistensi, dan efektivitas kebijakan baru Indonesia tersebut. Reformasi yang telah diimplementasikan dinilai belum cukup untuk memasukkan lagi saham Indonesia ke indeks MSCI.
Untuk sementara MSCI tetap menangguhkan kenaikan foreign inclusion factors (FIF) dan jumlah saham (number of shares) bagi emiten Indonesia. MSCI menyatakan tak memasukkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Dalam review indeks Mei 2026, bobot saham Indonesia tak naik, konstituen tidak bertambah, dan tidak ada kenaikan kelas saham. Bahkan dua saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) berpotensi didepak dari indeks global.
Menanggapi keluarnya dua saham emiten indeks MSCI karena berstatus HSC, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut pihaknya akan segera mengumumkan perlakuan khusus untuk emiten terkait.
Dia menegaskan akan terus berkomunikasi dengan MSCI untuk mengimplementasikan reformasi kebijakan di pasar modal.
“Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan,” kata Jeffrey, Selasa, 21 April 2026.
Dus, emiten Indonesia yakni PT Barito Renewable Energy (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) terancam didepak dari MSCI karena terindikasi sebagian besar sahamnya dikuasai segelintir pihak atau kelompok afiliasi tertentu.
Menurut MSCI, langkah ini diambil untuk menghindari risiko perputaran indeks (turnover) dan risiko investasi. BREN sendiri memiliki kepemilikan ETF asing sekitar US$113 juta, sementara DSSA memiliki ETF asing dengan nilai sekitar US$157 juta.
Pasar Saham Merespons Negatif

Pasar langsung bereaksi negatif menyusul pengumuman MSCI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,46% 7.559,38 pada penutupan perdagangan Selasa, 21 April 2026.
Dua saham yang terancam keluar dari MSCI, yakni BREN dan DSSA, mencatat koreksi terbesar (top loser) pada Selasa. Saham BREN hari itu ditutup merosot 9,47% menjadi Rp5.975 per saham sedangkan DSSA merosot 14,98% menjadi Rp2.780 per saham.
Koreksi IHSG berlanjut hingga Jumat 24 April 2026, dengan kehilangan 249,1 poin (3,38%) ke level 7.129,4. Dengan demikian, sepanjang akhir pekan ini IHSG terhitung anjlok 6,6%.
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, menilai dikeluarkannya dua saham tersebut bukanlah hal yang mengejutkan dan berpeluang memicu keluarnya dana asing dari bursa saham.
“Jadi kita hanya akan melihat nanti potensi outflow dari passive fund manager yang efektifnya akan terjadi di 1 Juni. Announcement-nya (saham yang keluar-red) akan terjadi di 12 Mei dan efektifnya di 1 Juni,” tuturnya di YouTube, Selasa, 21 April 2026.
Menurut perhitungan Gotrade, dicoretnya BREN dan DSSA dari indeks global berpotensi melepaskan dana asing US$270 juta atau sekitar Rp4,3 triliun jika keduanya dikeluarkan pada Mei-Juni 2026.
MSCI memang tak menyinggung penurunan status BEI ke posisi frontier market. Sebagai informasi, kapitalisasi pasar MSCI Emerging Markets mencapai US$28 triliun, sedangkan Frontier Markets Index hanya sekitar US$1 triliun.
“Tidak ada kata frontier, berarti sejauh ini proposal kita diterima, sehingga jadi kabar positif bagi Indonesia,” kata Fath.
Rupiah Terkena Getahnya

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai MSCI menunggu bukti implementasi yang konsisten dan kualitas data yang benar-benar dapat dipercaya.
“Dengan kata lain, Indonesia masih berada dalam fase improving market, belum sepenuhnya masuk dalam kategori pasar yang tervalidasi secara global.” kata Hendra dalam kanal Youtube Liputan 6.
Dia menilai keputusan MSCI tersebut dapat berimbas ke aliran dana asing khususnya dari investor pasif berbasis indeks global yang masih cenderung tertahan.
Tak adanya perubahan komposisi indeks membuat potensi rebalancing menjadi minim, sehingga katalis eksternal untuk mendorong geliat pasar juga terbatas.
Hendra menilai MSCI ingin pasar modal Indonesia lebih terbuka terkait free float dan kepemilikan, mengingat banyaknya saham “gorengan” dan kepemilikan saham oleh segelintir pihak masih menjadi pengganjal selera investasi investor dunia.
“Indonesia dianggap masih belum transparansi terkait dengan kepemilikan. Katakanlah outstanding share-nya berapa persen tapi yang dijual ke publik justru sahamnya masih dimiliki oleh owner atau kolega,” jelas Hendra.
Dengan tidak disorotnya catatan Moody's dan MSCI ini, kondisi internal Indonesia seolah-olah baik-baik saja dan tidak ada hubungannya dengan anjloknya rupiah ke level terendahnya sepanjang masa. (mhf/ags)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance