Oleh Muhammad Fawaid, seorang akademisi pemerhati sosial dan ekonomi, dosen di Institut Sains dan Teknologi NU (STINUBA) Denpasar, yang juga Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. Kini aktif menciptakan konten melalui akun Tiktok @m..fawaid.al.

Seruput kopi dulu, Bli… Sebab kisah Kiai As’ad Syamsul Arifin kalau dibaca tanpa kopi, rasanya seperti skenario film perang. Bedanya, ini bukan film. Taruhannya nyawa dan kemerdekaan.

Kiai As’ad dikenal sebagai ulama besar, pengasuh Pesantren Sukorejo dan Pahlawan Nasional.

Namun ada sisi perjuangannya yang jarang diceritakan: pesantren menjadi basis perjuangan, santri ikut bergerilya, bahkan jawara dan mantan bajingan dihimpun menjadi pejuang.

Ketika Belanda datang kembali setelah Indonesia merdeka, Republik masih sangat muda. Senjata terbatas, sementara penjajah punya persenjataan lengkap.

Kiai As’ad tidak punya tank, pesawat tempur, tentara berseragam lengkap hanya mengandalkan santri, keberanian, strategi, doa dan yang mau ikut berjuang.

Yang menarik, beliau merangkul orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai jawara, bromocorah bahkan bajingan. Mereka dibina menjadi bagian dari Barisan Pelopor.

Sebuah “keajaiban” yang sangat manusiawi: orang yang dulu ditakuti, diberi kesempatan menjadi orang yang dibutuhkan bangsa.

Karomah Kiai As'ad

Kyai As'ad Syamsul Arifin

Dalam riwayat yang berkembang di lingkungan pesantren, ketika Belanda hendak menyerang Sukorejo, pesawat mereka dikisahkan akan membombardir pesantren.

Namun pesawat tersebut disebut meledak di udara sebelum menghancurkan Sukorejo. Belanda menyiapkan bom. Kiai As’ad menyiapkan doa. Yang lebih dulu “meledak” malah pesawatnya.

Ada pula riwayat bahwa pesawat Belanda berputar-putar mencari pesantren, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Pilotnya mungkin bingung:

“Markasnya di mana?”

“Di situ.”

“Mana?”

“Ya di situ!”

“Lho… kok nggak kelihatan?”

Tentu kisah tersebut perlu dipahami sebagai riwayat karomah dalam tradisi pesantren, bukan fakta militer yang telah terbukti secara ilmiah.

Melawan Belanda Bermodal Pasir dan Doa

pasir

Ada kisah yang aneh, cerita yang disampaikan KH Fawaid As’ad, terdapat kisah pasir yang disebut pemberian Kiai As’ad, kemudian ditaburkan di sekitar tanaman kacang hijau.

Anehnya, tentara Belanda dikisahkan mendengar suara seperti dentuman senjata atau ledakan. Mereka panik dan lari meninggalkan senjata.

Bayangkan saja: Belanda datang membawa senapan. Pejuang seperti membawa “senjata rahasia” berupa pasir.

Ada pula riwayat tentang Ratibul Haddad dan kacang hijau yang dibacakan doa, yang dipercaya menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk melindungi pesantren.

Kemudian ada peristiwa yang lebih konkret. Sekitar Juli 1947, Barisan Pelopor bergerak menuju gudang persenjataan Belanda di Dabasah, Bondowoso.

Mereka berhasil merebut 24 pucuk senjata beserta amunisi, termasuk Bren, Sten Gun, Lee-Enfield, mortir, senapan mesin ringan, peluru dan granat.

Yang membuatnya semakin menarik, operasi itu disebut berlangsung tanpa perlawanan berarti dari penjaga gudang.

Jadi kalau Belanda punya senjata, Kiai As’ad punya strategi. Kalau Belanda punya penjaga, para pejuang punya keberanian. Dan ketika keberanian terasa tidak cukup, mereka menggantungkan harapan kepada Allah.

Baca Juga: Sosok Febri Diansyah: Dulu Juru Bicara KPK, Kini Jadi Pengacara Febrie Adriansyah

Tetapi perjuangannya tidak selalu indah. Kiai As’ad pernah diburu, dituduh makar dan mengalami penahanan politik. Di situlah kebesaran Kiai As’ad. Kemerdekaan ternyata bukan hanya diperjuangkan tentara.

Ada kiai. Ada santri. Ada rakyat. Ada jawara. Bahkan ada mantan bajingan yang memilih bertobat dan membela Republik.

Apakah semua kisah karamah itu bisa dibuktikan secara ilmiah? Tidak juga. Tetapi kisah-kisah tersebut hidup dalam ingatan pesantren sebagai bagian dari cara masyarakat mengenang perjuangan seorang ulama.

Satu hal tidak terbantahkan: ketika Republik masih bayi, ada orang-orang yang berani mempertaruhkan hidup agar kemerdekaan tidak kembali dirampas.

Belanda datang membawa pesawat, bom dan senjata. Kiai As’ad membawa doa, strategi, persatuan dan keberanian. Seruput lagi kopinya, Bli…

Sebab, 17 Agustus bukan cuma tentang siapa yang membacakan Proklamasi, tetapi juga tentang siapa yang berani mempertahankannya. Dan Kiai As’ad adalah salah satu dari mereka.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.