Jakarta, The Stance – Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026 diduga dipicu insiden taksi listrik Green SM Indonesia yang tertemper alias tertabrak KRL di perlintasan sebidang JPL 85, dekat Bulak Kapal, Bekasi Timur.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengklaim insiden temperan taksi ini membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini "agak terganggu".

Akibatnya, KRL lain yang sedang berhenti menunggu di stasiun Bekasi Timur itu ditabrak dari belakang oleh kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.

KA Argo Bromo Anggrek itu baru saja berangkat dari stasiun Gambir, Jakarta, dan dalam perjalanan menuju Surabaya.

Hingga Selasa siang, 28 April 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 15 orang meninggal dunia. Korban meninggal dunia telah dibawa ke Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, sebanyak 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.

Atas tragedi kecelakaan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perlintasan kereta api yang dinilai masih banyak belum terjaga dengan baik, khususnya di wilayah padat seperti Bekasi.

Namun, pemerhati transportasi melihat persoalan yang lebih pelik.

Penyebab Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Dudy Purwagandhi, Menhub RI

Dugaan sementara kecelakaan terjadi karena KRL yang ditabrak sempat terhenti di jalurnya setelah insiden KRL lain yang menemper sebuah taksi mogok di atas rel.

"Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) lintasan dekat Bulak Kapal, yang membuat KRL-nya terhenti," kata Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo kepada media.

Saat kondisi berhenti, KRL kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.

Meski demikian, PT KAI menyerahkan seluruh penyelidikan kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang sudah menerjunkan investigatornya. PT KAI juga menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini.

Senada, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi masih menunggu investigasi dari KNKT terkait dengan insiden kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Stasiun Bekasi Timur tersebut.

Dudy menyatakan Kemenhub memberikan ruang dan menunggu KNKT untuk melakukan investigasi secara independen agar hasilnya dapat menjadi dasar evaluasi komprehensif ke depan.

"Kami juga memberikan kesempatan kepada KNKT untuk melakukan investigasi secara objektif," kata Dudy dalam keterangannya, Selasa 28 April 2026.

Mayoritas Korban Tewas di KRL karena Terjepit Lokomotif

Mohammad Syafi'i - Basarnas

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya Muhammad Syafii menyebut hampir seluruh korban tewas di gerbong KRL karena terjepit gerbong Lokomotif Kereta Api Argo Bromo Anggrek.

"Adanya korban baik itu yang kita evakuasi dalam kondisi meninggal hampir semuanya karena terjepit," ujarnya dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa 28 April 2026.

Selain korban tewas, pihaknya berhasil mengevakuasi lima korban selamat lainnya yang juga dalam kondisi terjepit Lokomotif.

Ia mengakui, kondisi itulah yang membuat proses evakuasi tidak bisa langsung dilakukan dengan cara menarik Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek.

"Sama-sama kita tahu pada saat dua kereta berbenturan dari situ kita sama-sama melihat bahwa lokomotif bisa sampai masuk ke satu gerbong komuter," ungkapnya.

"Pada saat itu memang ada 5 korban yang masih dalam kondisi terjepit dan harus kita laksanakan kegiatan retrikasi atau ekstrikasi sehingga korban bisa kita selamatkan," tambahnya.

Syafii menjelaskan korban yang dievakuasi seluruhnya berjenis kelamin perempuan. Hal itu lantaran rangkaian KRL yang paling terdampak adalah gerbong khusus perempuan. Sementara, semua penumpang KA Argo Bromo Anggrek dalam kondisi selamat.

MTI: Dugaan Ada Kelalaian Manusia

kecelakaan kereta - petarukan

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, melihat pola yang sama antara kecelakaan di Bekasi Timur dan Petarukan, Pemalang Jawa Tengah pada 2010.

Dalam peristiwa 2010 itu, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Pasar Turi Surabaya yang menabrak KA Senja Utama Semarang relasi Pasar Senen–Semarang Tawang. Sebanyak 35 orang meninggal, 29 luka berat, dan 5 orang luka ringan.

"Kesamaan kejadian KKA (kecelakaan kereta api) ini adalah Kereta Api Argo Anggrek menubruk Kereta Api lain dari belakang atau 'sodomi' (rear-end collision). Saat KKA di Petarukan, masinis dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah)," papar Deddy.

Deddy menduga ada kemungkinan kejadian di Stasiun Bekasi Timur karena "masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek juga dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah)".

Apalagi, pada lintas Kereta Api Jatinegara–Cikarang menggunakan persinyalan open block. Artinya, jika ada rangkaian Kereta Api berhenti, sinyal di belakangnya akan menyala merah otomatis.

"Artinya Kereta Api yang berada di belakangnya wajib berhenti. Bila masinis lalai atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut dapat dipastikan akan terjadi KKA menubruk Kereta Api di depannya," jelasnya.

MTI menyimpulkan terdapat dua isu keselamatan pada kecelakaan kereata api di Bekasi Timur ini. Pertama, mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu (JPL 85). Kedua, masinis yang diduga lalai melihat sinyal berhenti sehingga mengakibatkan Kereta Api menabrak Kereta Api lain dari belakang (rear-end collision).

Untuk itu, MTI mendesak audit keselamatan perkeretaapian.

Menurut Deddy, kecelakaan itu menunjukkan kerentanan sistemik penyelenggaraan perkeretaapian nasional. Terutama, pada lintas padat dan ada campuran antara kereta rel listrik (KRL) dengan KA jarak jauh atau antar kota. Serta, ada masalah sistem pengendalian perjalanan kereta dan mitigasi risiko kecelakaan kereta api.

MTI pun mengusulkan sejumlah langkah perbaikan secara menyeluruh pada sistem keselamatan perkeretaapian.

SInyal Diduga Error atau Terlambat

Pandangan lain disampaikan pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio. Dia menyoroti dugaan keterlambatan sinyal hingga KA Bromo Anggrek tidak berhenti hingga terjadi tabrakan.

Agus menilai hal ini turut menjadi faktor sehingga terjadi tabrakan.

"Soal signaling, kalau di satu tapak rel ada kereta yang tertemper, (seharusnya) sinyal merah hingga kereta di belakangnya berhenti."

Sebelumya beredar di media sosial video asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek. Si asisten mengaku bingung dengan sistem persinyalan yang dinilai janggal atau error. Dia menjelaskan KA tidak mungkin bisa berhenti mendadak. Apalagi saat itu kecepatan KA Argo Bromo mencapai 110 km/jam.

Menurutnya, dia sempat menerima informasi mengenai insiden KRL yang menabrak taksi listrik. Namun belum sempat menerima informasi lengkap secara menyeluruh, sinyal di perlintasan tiba-tiba berubah menjadi merah tanpa melalui fase sinyal kuning terlebih dahulu.

"Bukan miskomunikasi, kayaknya sinyalnya ada yang eror. Tadi diinfoin (ada kecelakaan) cuma saya belum copy informasi sepenuhnya sudah keburu sinyal merah," ungkap asisten masinis dalam rekaman tersebut.

Dia menambahkan bahwa seharusnya jika dari Bekasi sinyal hijau, maka di titik selanjutnya maksimal berwarna kuning, bukan langsung merah.

Perubahan sinyal mendadak ini membuat mereka tidak bisa melakukan tindakan pengereman yang signifikan.

Prabowo Instruksikan Investigasi dan Janji Benahi Perlintasan Kereta

Prabowo - korban kereta

Usai menjenguk korban luka kecelakaan di RSUD Bekasi, Selasa 28 April 2026, Presiden Prabowo menegaskan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perlintasan kereta api yang dinilai masih banyak belum terjaga dengan baik, khususnya di wilayah padat seperti Bekasi.

"Kita perhatikan lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak terjaga. Pemerintah Daerah Bekasi telah mengajukan pembangunan fly over karena Bekasi ini juga padat, dan kebutuhan kereta api itu sangat penting serta mendesak. Saya sudah setujui agar segera dibangun fly over langsung melalui bantuan Presiden," ujar Prabowo.

Selain Bekasi, Prabowo menyebut sekitar 1.800 titik perlintasan serupa di Pulau Jawa yang membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, banyak lintasan tersebut telah ada sejak zaman kolonial dan belum terselesaikan hingga saat ini.

"Dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun, sekarang sudahlah kita selesaikan semua itu. Saya akan perintahkan segera kita akan perbaiki semua lintasan tersebut, apakah dengan pos jaga atau dengan fly over, nanti pelaksanaannya kita tunjuk," lanjutnya.

Pemerintah akan menyiapkan anggaran hampir Rp4 triliun untuk meningkatkan keselamatan transportasi publik sekaligus memperkuat infrastruktur perkeretaapian nasional.

"Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun demi keselamatan, karena kereta api sangat penting dan sangat kita perlukan. Sudah berapa puluh tahun hal ini tidak dilakukan, sekarang saatnya kita lakukan," ujar Prabowo. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance