
Oleh Andi Noorsaman Someng, profesor Teknik Kimia yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2017-2019. Kini aktif mengajar di Universitas Indonesia (UI).
Harga pesawat radar itu US$500 juta (Rp8,5 triliun). Amerika Serikat (AS) pernah punya 32 unit. Dalam beberapa tahun ini hanya tinggal 17 unit.
Sejak 27 Maret 2026, tinggal 16 unit. Satu unit terpotong dua terkena hunjaman dron Iran pada saat pesawat mahal itu berada di Pangkalan Udara (PU) Prince Sultan, Arab Saudi.
Itulah pesawat radar yang diberi nama Airborne Warning and Control System (AWACS). Badan pesawat ini sama dengan Boeing 707 jenis E-3G Sentry. Fungsinya sangat penting. Yaitu, mengatur kordinasi serangan udara.
AWACS bisa menangkap posisi 600 objek musuh sekaligus dan meneruskan informasi itu secara real time (saat itu juga) kepada unit-unit tempur AS yang berada di udara, laut maupun darat yang akan mengambil tindakan.
Artinya, tanpa AWACS maka satuan tempur AS tidak efektif.
Yang sangat mengagumkan adalah presisi dron Iran yang menghantam pesawat AWACS itu. Hunjaman drone persis di posisi radar putar di bagian belakang pesawat.
Radar itu terletak di luar badan pesawat, bagian atas. Bagian yang termahal itulah yang dihantam dengan presisi tingkat dewa. Luar biasa teknologi rudal dan dron buatan Iran.
Sebelum ini, Iran telah menghancurkan target yang nilainya lebih tinggi. Yaitu, radar AN/FPS-132 yang berharga US$1,1 miliar (Rp18.7 triliun) di Qatar dan dua radar AN/TPY-2 yang harganya satu unit sekitar US$700 juta (Rp12 triliun).
Tetapi, yang paling bernilai tinggi adalah pesawat Awacs E-3 itu.
Militer Iran Cerdas

Ada dua komponen tempur yang paling penting bagi pergerakan militer AS. Dua jenis pesawat militer ini menjadi prioritas untuk dilumpuhkan. Yang pertama, radar terbang. Yang kedua, pesawat tangki untuk mengisi BBM pesawat tempur di udara.
Dalam serangan terhadap PU Prince Sultan, setidaknya tiga pesawat tangka KC-135 Stratotanker ikut musnah. Harganya cuma US$53 juta (Rp900 miliar) per unit.
Sebelum serangan 27 Maret itu, Iran juga telah menggempur Prince Sultan pada pekan kedua Maret. Setidaknya 5 pesawat tangki KC-135 hancur. Iran juga menembak jatuh 1 KC-135 di wilayah udara mereka.
Kehancuran 9 pesawat tangki KC-135 ini menyebabkan pesawat tempur AS mengalami kesulitan untuk melancarkan serangan dari jarak jauh. Sebab, semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin diperlukan KC-135.
Karena peran kedua jenis pesawat ini sangat vital, Iran memprioritaskan gempuran terhadap berbagai pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk termasuk Saudi, UEA, Kuwait, Qatar dan Bahrain.
Dan bagi Iran, menyerang pangkalan militer AS di mana pun juga menjadi sah. Kerusakan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah menambah berat kesulitan yang mereka alami.
Baca Juga: Iran dan Paradoks Embargo
Tentu saja secara keseluruhan kekuatan Israel dan AS (Isas) masih tetap unggul. Namun, ada satu hal yang membuat Isas tegang.
Mereka tidak tahu persis seberapa banyak lagi senjata utama Iran, yaitu rudal (balistik atau jarak pendek) dan drone, yang masih tersedia untuk melanjutkan perang sampai berbulan-bulan.
Yang jelas, Iran mengatakan mereka siap berperang melawan Isas sampai lebih dari 6 bulan bahkan mampu bertahan 1 tahun.
Trump Semakin Terpojok

Presiden AS Donald Trump akan semakin pusing. Sebab, dia tidak punya banyak waktu untuk melanjutkan perang terhadap Iran.
Desakan politik domestik dan internasional semakin memojokkan Trump. Nyaris tidak ada lagi dukungan rakyat AS. Sementara dukungan sekutunya, terutama NATO, semakin lemah.
Harus diakui, Iran dahsyat. Apakah Iran menang? Tergantung dari mana kita melihatnya. Kalau dilihat dari kombinasi kekuatan Isas, pasti orang akan bilang Iran remuk redam. Tapi itu tidak terjadi.
Sebaliknya, Iran masih bisa menggempur wilayah Israel langsung dari titik-titik peluncuran rudal mereka.
Tidak ada yang bisa memprediksi kekuatan Iran. Tapi, Trump telah menunjukkan kesiapan untuk berdamai. Meskipun dia setengah memaksa Iran, dan Iran selalu santai saja.
Apakah gaya santai Iran itu bisa diartikan bahwa mereka kuat? Kalau saya bilang: iya. Iran kuat.
Selama 40 tahun lebih negara itu dikenai embargo. Namun, mereka bisa memproduksi berbagai rudal hebat generasi demi generasi.
Bahkan sebagian rudal itu sudah kedaluarsa. Dan mereka berhasil menciptakan generasi baru yang berjarak di atas 4.000 km, lebih eksplosif, serta lebih efisien.
“Iran bukan Irak, bukan Venezuela,” kata banyak pengamat militer internasional. Untunglah belum ada yang mengatakan, “Iran bukan Irak, bukan Venezuela, bukan Indonesia.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.