Oleh Andi Noorsaman Someng, profesor Teknik Kimia yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2017-2019. Kini aktif mengajar di Universitas Indonesia (UI).

Di SPBU, semuanya berjalan normal. Motor antre. Mobil antre. Dompet juga antre, menunggu akhir bulan. Angka di dispenser tetap. Tidak naik.

Sementara di luar sana, dunia seperti kompor gas yang knop-nya diputar maksimal. Di Selat Hormuz, kapal-kapal minyak mendadak jadi selebritas: dipantau, dikejar, ditahan, dan mungkin… disindir.

Perang antara Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran bukan cuma perang senjata. Ini perang harga. Dan biasanya, yang kalah bukan tentara, tapi konsumen.

Harga minyak dunia naik. Grafiknya tidak lagi naik, tapi meloncat seperti anak kecil lihat diskon. Negara-negara lain mulai panik:

  • Ada yang naikkan harga bahan bakar minyak (BBM),

  • Ada yang turunkan pajak,

  • Ada yang pura-pura tenang sambil diam-diam hitung defisit.

Lalu Indonesia? Tenang. Terlalu tenang malah. Harga BBM tidak naik. Seolah-olah kita berkata ke dunia: “Silakan ribut, kami lagi puasa harga.”

Di sinilah negara menunjukkan kelasnya: Bukan menaikkan harga, tapi menahan harga sambil menahan napas.

Secara akademis, ini disebut price smoothing. Secara rakyat, ini disebut: “Alhamdulillah… belum naik.”

Kalau Bukan Sekarang, Ya Nanti

Tapi jangan salah. Ini bukan berarti murah. Ini berarti, belum ditagih. Karena dalam ekonomi energi, hukum paling jujur adalah: kalau bukan sekarang, ya nanti.

Bayangkan negara seperti orang tua di warung: anaknya mau beli es krim mahal, harga lagi naik, tapi si orang tua bilang: “Sudah, sini… bapak bayar dulu.”

Anaknya senang. Rakyat tersenyum.

Dan pemerintah, sambil menepuk meja fiskal, berkata pelan: “Tenang… sampai akhir tahun ini masih aman.”

Kalimat yang menenangkan, seperti payung di musim hujan. Dipakai hari ini, tapi semua tahu: hujannya belum tentu berhenti.

BBM di Indonesia memang unik. Ia bukan sekadar komoditas. Ia adalah makhluk sosial. Kalau naik, bisa demo. Kalau turun, bisa kampanye. Kalau tidak berubah… bisa jadi bahan esai ini.

Maka, pemerintah memilih opsi paling aman: tidak mengganggu suasana. Karena dalam politik, kadang stabil itu lebih penting daripada benar.

Padahal, di balik ketenangan ini, ada drama yang tidak kelihatan.

Selama kita masih impor, selama minyak masih lewat Hormuz, selama rupiah masih sensitif, maka setiap konflik di Timur Tengah sebenarnya juga konflik di kantong kita.

Baca Juga: Fundamental Rapuh, Waspada Rupiah Tergelincir

Hanya saja, negara bilang: “Tenang… saya buffering dulu.” Ini seperti nonton film streaming. Internet lagi lambat, videonya berhenti, lalu muncul tulisan: “Buffering…”

BBM Sedang Di-buffering

SPBU

Nah, harga BBM kita hari ini sedang buffering. Bukan tidak naik, tapi belum diputar. Bedanya, buffering ini dibiayai APBN. Dan selama kas masih cukup, layarnya tetap jalan. Dan kita, rakyat, menikmati jeda ini.

Isi bensin tetap sama, uang keluar tetap segitu, dan kita pulang dengan perasaan: “Indonesia aman.” Padahal sebenarnya bukan aman, hanya ditenangkan dengan anggaran.

Di ujung cerita, kita harus jujur sedikit. Keputusan ini pintar, menahan inflasi, menjaga daya beli, menghindari kepanikan. Dan untuk saat ini, negara tampaknya masih punya cukup napas untuk bertahan sampai akhir tahun.

Tapi juga berisiko, karena setiap hari ditunda, biaya makin menumpuk. Seperti tagihan kartu kredit: tidak terasa saat swipe, terasa saat statement datang.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Sederhana.

- Di SPBU: harga diam.

- Di dunia: harga teriak.

- Di negara: fiskal bilang, “masih kuat… untuk sekarang.”

Dan kita semua, sepakat untuk pura-pura tidak mendengar yang berisik itu.

Untuk sementara. Karena pada akhirnya, nozzle boleh tenang, dunia tetap bergolak, dan negara, dengan gaya santainya, sedang memainkan seni paling sulit dalam ekonomi: menunda kenyataan, sambil memastikan rakyat tetap tertawa.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.