Jakarta, The Stance – Fenomena El Niño dengan intensitas kuat sepanjang 2026 memicu ancaman serius terhadap sektor pertanian Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan penurunan curah hujan signifikan di wilayah selatan garis khatulistiwa, yang berpotensi menurunkan produktivitas padi, kelapa sawit, tebu, dan komoditas lainnya.
Sejak pertengahan tahun, ribuan hektare lahan padi telah mengalami kekeringan dan gagal panen. Menurut data Kementerian Pertanian per Juli 2026, sekitar 30.379 hektare lahan padi di seluruh Indonesia terdampak kekeringan.
Dari jumlah tersebut, 12.207 hektare mengalami puso atau gagal panen total. Produksi padi pada Mei 2026 tercatat turun sekitar 3,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
BMKG memperkirakan puncak dampak terjadi pada Juli hingga Oktober 2026, dengan curah hujan di sejumlah wilayah diprediksi berada di bawah normal, bahkan kurang dari 20 milimeter per bulan di beberapa lokasi.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa wilayah yang paling rentan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.
“Petani perlu menyesuaikan pola tanam. Penanaman bisa dipercepat agar masa panen tidak bertepatan dengan puncak kemarau,” ujar Teuku Faisal dalam konferensi pers awal Agustus 2026.
Dampak pada Komoditas Utama

Padi sebagai bahan pangan pokok terkena dampak paling parah. Secara historis, El Niño kuat mampu mengurangi produksi beras nasional hingga 9,4 persen dalam setahun.
Untuk musim tanam kedua 2026, penurunan produksi diperkirakan mencapai sekitar 2,6 persen. Di wilayah timur Indonesia, selain kekurangan air, serangan hama tikus juga memperparah kondisi akibat lingkungan yang kering.
Kelapa sawit juga tertekan. Produksi nasional diproyeksikan turun hingga 2 juta ton dari level sebelumnya yang melebihi 51 juta ton. Di Riau, provinsi penghasil utama, petani kecil melaporkan potensi penurunan hasil bulanan hingga 70% dalam titik ekstrem.
Penurunan volume produksi berpotensi menaikkan harga minyak sawit mentah di pasar global, namun petani skala kecil menanggung risiko kerugian langsung akibat keterbatasan akses irigasi dan modal.
Tanaman tebu di Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami kekurangan air yang menghambat pertumbuhan. Beberapa hektare lahan siap panen bahkan terbakar.
Komoditas lain seperti kopi dan kakao juga terancam, sementara produksi garam justru meningkat karena kondisi kering mendukung proses penguapan.
El Niño yang dimulai sejak Mei-Juni 2026 dan berpotensi berlangsung hingga Mei 2027 ini diperparah oleh potensi Indian Ocean Dipole positif, yang semakin menekan curah hujan.
Selain kekeringan, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di Sumatra dan Kalimantan, yang dapat merusak lahan pertanian dan menurunkan kualitas udara.
Respons Pemerintah dan Prospek ke Depan

Pemerintah telah menyusun langkah mitigasi lintas sektor. Kementerian Pertanian mendorong penanaman lebih awal, penggunaan benih tahan kekeringan, dan optimalisasi irigasi.
Anggaran triliunan rupiah dialokasikan untuk rehabilitasi jaringan irigasi, distribusi pompa air, serta pengadaan benih tanaman alternatif seperti kakao, kelapa, tebu, dan jambu mete untuk ratusan ribu hektare lahan.
Asuransi pertanian diperluas, dan upaya modifikasi cuaca melalui penyemaian awan digalakkan untuk menambah curah hujan di wilayah prioritas.
Stok beras nasional dilaporkan berada pada level aman, bahkan mencapai rekor di beberapa periode, yang diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam beberapa bulan ke depan.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo menyebut bahwa pemerintah menyusun kebijakan respons untuk empat klaster utama, termasuk kehutanan, lahan, dan pertanian.
Meski demikian, tantangan di lapangan tetap ada. Banyak petani tadah hujan memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air alternatif. Biaya produksi yang meningkat, termasuk pupuk dan bahan bakar, turut menekan nilai tukar petani.
Risiko inflasi pangan juga menjadi perhatian, terutama jika penurunan produksi berlanjut hingga musim hujan berikutnya yang diperkirakan mulai Oktober di sebagian wilayah.
Baca Juga: Krisis Iklim Indonesia Tak Dapat Diselesaikan dengan Pompa Air
BMKG menekankan bahwa dampak El Niño tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa daerah di bagian timur dan utara berpotensi mengalami kondisi berbeda.
Namun, secara keseluruhan, fenomena ini diperkirakan melemah bertahap mulai pertengahan Oktober 2026 seiring masuknya musim hujan, meski secara global masih dapat bertahan hingga 2027.
Ahli pertanian dan pengamat iklim menilai bahwa El Niño 2026 menjadi ujian bagi ketahanan pangan nasional.
Selain respons jangka pendek, diperlukan upaya jangka panjang berupa diversifikasi tanaman, perbaikan infrastruktur irigasi, dan peningkatan kapasitas adaptasi petani terhadap perubahan iklim.
Hingga saat ini, pemerintah terus memantau perkembangan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Petani diimbau memanfaatkan informasi iklim terkini dari BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan tanam.
Dengan langkah antisipatif yang tepat, diharapkan dampak terhadap produksi pertanian nasional dapat diminimalkan, meski tekanan kekeringan masih akan terasa dalam beberapa bulan ke depan. (ipn)
imak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance