Jakarta, The Stance – Buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam mendadak jadi sorotan publik dan viral di media sosial.
Buku setebal 368 halaman karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas yang diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House ini memicu polemik dari berbagai kalangan.
Banyak masyarakat dibuat penasaran dengan isi di dalamnya, apakah buku ini menawarkan pemikiran keislaman baru, dokumen kepemimpinan, atau sekadar komoditas narasi politik.
Apalagi setelah belakangan diketahui sejumlah tokoh agama membantah pernah menulis atau memberikan izin pencantuman nama mereka dalam buku tersebut.
Buku Islam Ala Prabowo dirilis tahun lalu, tepatnya dalam acara Rakornas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025, pada 28 Agustus 2025 di Hotel Mercure, Ancol Jakarta. Sebagai Catatan, Prabowo tidak hadir dalam peluncuran buku tersebut.
Penyusun buku ini adalah Abdur Rahim Hasan, seorang penulis dan akademisi muslim yang berfokus pada kajian pemikiran Islam kontemporer dan dinamika sosial keagamaan.
Penulis lainnya adalah Rikal Dikri dan Mush'ab Muqoddas. Keduanya adalah peneliti muda berlatar belakang pesantren dan aktivis literasi Islam yang terbiasa membedah integrasi moral agama dalam kepemimpinan publik.
Lantas, sebenarnya buku ini membahas apa?
Isi Buku dan Profil penulis

Buku tersebut membahas berbagai aspek kepemimpinan, perdamaian, dan spiritualitas Prabowo. Pembahasannya mencoba melihat bagaimana nilai-nilai Islam dikaitkan dengan kehidupan dan perjalanan Prabowo sebagai seorang tokoh nasional.
Ia tak membahas tentang ajaran atau mazhab baru. Istilah “Islam Ala Prabowo” digunakan sebagai judul untuk menggambarkan pembahasan mengenai cara nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo.
Salah satu yang dibahas buku yang diinisiasi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) Ahmad Muzani bersama Ketua Umum Majelus Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar itu adalah kehidupan spiritual Prabowo.
Sejumlah tulisan melihat sisi tersebut dari berbagai perspektif, termasuk bagaimana nilai agama dikaitkan dengan karakter, sikap, dan prinsip yang ditunjukkan Prabowo dalam perjalanan hidupnya.
Pembahasannya kemudian diperluas ke persoalan kepemimpinan termasuk juga hubungan antara nilai keislaman dengan perjuangan untuk menyejahterakan rakyat.
Nilai-nilai seperti perdamaian, keadilan, tanggung jawab, pengabdian, dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana Islam dikaitkan dengan kepemimpinan Prabowo.
Dengan demikian, agama tidak hanya dilihat dari sisi kehidupan pribadi, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai tersebut dikaitkan dengan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masyarakat.
Buku ini tidak hanya berisi pandangan Prabowo mengenai dirinya sendiri. Di dalamnya ada tulisan dari sejumlah tokoh agama dan akademisi, yang memberikan perspektif mereka mengenai keislaman, spiritualitas, karakter, dan kepemimpinan Prabowo.
Mereka memberikan interpretasi dan penilaian terhadap sosok Prabowo. Pembaca tetap perlu membedakan antara fakta mengenai kehidupan Prabowo dengan pandangan atau penilaian yang disampaikan oleh masing-masing kontributor.
Judul Buku Tuai Polemik

Ketua Umum Forum Komunikasi Kiai Kampung Indonesia (FK3I), KH Mas Muhammad Maftuh, meluruskan bahwa isi buku tersebut murni mengulas dimensi amaliah dan kepemimpinan Prabowo.
Gus Maftuh mengimbau publik tak menghakimi buku hanya dari judul. Menurutnya, buku ini membahas bagaimana Prabowo menerjemahkan prinsip keadilan, toleransi, dan rahmatan lil 'alamin dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim mengaku kaget karena buku Islam Ala Prabowo tiba-tiba muncul secara masif di media sosial. Bahkan diiringi narasi sinis dan cenderung menghujat.
Penulis Epilog berjudul "Presiden Prabowo Subianto dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz" di buku ini mengaku sebenarnya sudah mengingatkan panitia terkait judul yang sensitif.
"Ketika panitia buku itu minta tulisan kepada saya, saya sudah mengingatkan sejak awal agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar Prof Asep, Minggu 6 September 2026.
Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu memang termasuk salah satu penulis di buku tersebut. Dia memastikan tidak ada puja-puji dalam tulisannya.
Ia berharap melalui tulisannya Prabowo terinspirasi kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat tegas memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dan memakmurkan rakyatnya.
“Ya, dalam jangka waktu sangat pendek, 2,3 tahun Umar bin Abdul Aziz sukses. Bahkan masyarakat kesulitan menyalurkan zakat karena semua orang sudah kaya raya,” ujar Prof Asep.
Para Penulis Mulai Mengklarifikasi Keterlibatannya

Meski mengaku ikut menyumbang tulisan, Kiai Asep secara tegas menyatakan tak ada narasi yang dia buat untuk menyejajarkan atau menyamakan Prabowo dengan Umar bin Abdul Aziz.
“Saya menceritakan kisah sukses Umar bin Abdul Aziz justeru agar Prabowo bisa terinspirasi dan meniru dalam memberantas korupsi dan kolusi,” ujarnya sembari mengatakan ia mengulang-ulang pemberantasan KKN dalam tulisannya.
Ia mengaku telah membaca buku karangan Prabowo yang berjudul Paradoks Indonesia yang menurutnya memberikan harapan akan pemberantasan korupsi. “Dari situlah saya berharap Pak Prabowo bisa memberantas korupsi secara tegas,” harapnya.
Kontroversi buku ini tidak hanya berhenti pada judul, tetapi juga merembet ke ranah etika. Sejumlah tokoh nasional yang namanya tercantum sebagai penulis membantah pernah menulis atau memberikan izin pencantuman nama mereka di buku itu.
Bantahan keterlibatan disampaikan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi meski namanya tercantum pada halaman 241 sebagai penulis artikel mengenai visi keislaman Prabowo.
"Izin Tuan Guru, Apakah benar Anda menyumbang tulisan di buku Islam ala Prabowo?", tanya warganet melalui akun media sosial resminya.
TGB menyangkal, "Saya tidak pernah mengirim tulisan," tulisnya. Padahal dalam buku "Islam Ala Prabowo", ada artikel berjudul "Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan, dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan" yang disebut ditulis TGB.
Baca Juga: Prabowo Tundukkan Ormas Islam, Dapat Restu Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump
Bantahan juga disampaikan Mantan Ketua PBNU, KH. Dr. Said Aqil Siraj melalui pesan singkat. "Tidak benar, saya tidak tau menau.. Saya pun kaget," ujarnya.
Sebagai informasi, Kiai Said dalam buku itu disebut sebagai penulis naskah berjudul "Berislam Nusantara ala Prabowo Subianto".
Bantahan serupa disampaikan keluarga pendakwah KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar). Sang istri, Ning Jazilah Annahdliyah, menegaskan suaminya tak pernah menulis atau memberikan izin atas pencantuman namanya di buku itu.
Ning Jazilah juga mempertanyakan kemunculan nama Gus Kautsar tanpa adanya konfirmasi.
"Kok bisa ada nama suami saya? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya dalam buku itu?" tulisnya dalam akun instagram pribadinya.
Hingga kini, pihak penerbit Atmosphere Publishing House maupun tim penulis buku belum memberikan pernyataan resmi terkait bantahan dari TGB dan pihak keluarga Gus Kautsar. Isu pencatutan nama ini memicu kritik terkait etika penerbitan buku itu. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance