Oleh Nezar Patria, seorang wartawan, aktivis, dan juga penyair, kini menjadi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, sesekali menulis di akun facebooknya, termasuk obituari ini.

Saya tak mengira mendapat kabar duka itu hari ini: Airlangga Pribadi Kusman, seorang intelektual muda dan pemikir berbakat mendadak pergi dengan cara yang indah bagi siapa saja yang menekuni ilmu.

Dia tiba di Jakarta dari Surabaya dengan menumpang kereta dan turun di Stasiun Gambir. Hari masih terlalu pagi, dan Angga, demikian dia disapa, menuju kedai kopi Atjeh Connection di Jalan Sabang, yang selalu buka sepanjang hari dan malam.

Dia memesan kopi kesukaannya dan sejumlah kudapan untuk sarapan pagi. Kedai masih sepi. Sambil menunggu dijemput sang istri yang harus mengantarkan anaknya sekolah di daerah Pamulang, Angga membuka laptop.

Dia melanjutkan menulis makalah tentang Soekarno, sebuah artikel riset yang ditulisnya bersama Vijay Prashad, seorang sejarawan dan intelektual dari India.

“Laptopnya masih terbuka ketika Angga bangun dari tempat duduknya di kedai itu, dan lalu berdiri sempoyongan, dan akhirnya jatuh”, ujar Didik, sahabatnya di Penerbit GDN, sebuah perusahaan yang menerbitkan buku-buku karya Angga.

Di laptop, artikel yang hampir jadi itu masih tampil di layar, dan Angga baru ditemukan oleh penjaga kedai dalam keadaan tergeletak di lantai.

Baca Juga: Lagu Darah Juang, Konser John Tobing dan Kenangan Nezar Patria

Istrinya, Lia mengontak melalui telepon genggam dan penjaga kedai itu memberitahukan keadaan Angga yang pingsan. Ambulans datang, dan dia dilarikan ke unit gawat darurat Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

“Penjaga kedai menceritakan saat-saat Angga terjatuh melalui rekaman CCTV mereka”, kata Didik.

Di dalam ambulans tekanan darahnya 240, dan terus meningkat hingga di ruang emergensi. Gula darahnya 400.

“Angga dalam keadaan koma sejak dia dibawa ke RS,” kata Didik.

Sekitar pukul 13.35, Angga mengalami henti jantung. Di ruang itu, para dokter berupaya keras agar jantungnya bisa kembali berdetak.

Tapi takdir punya jalannya sendiri. Angga akhirnya meninggal. Dia berusia 49 tahun, dan tercatat sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, kampus yang juga sama dengan nama depannya.

Saya, seperti para kawan dekatnya, terkejut. Saya mengenalnya saat dia mengambil program doktoral di Universitas Murdoch, Australia, sekitar 2010, di bawah asuhan Prof Vedi Hadiz dan Richard Robison.

Saat itu kami mendiskusikan 25 tahun terbitnya buku The Rise of Capital, karya Robison. Kelak, pendekatan ekonomi politik itu menjadi ciri khas kampus Murdoch, atau bolehlah disebut sebagai “Murdoch School”.

Karya Penting Airlangga

Airlangga Pribadi

Angga adalah salah satu intelektual yang mewarisi disiplin ilmu politik itu. Dia menulis satu karya penting The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019.

Sebuah buku hasil riset doktoralnya yang menelisik jejaring kekuasaan yang tumbuh di Jawa Timur setelah reformasi.

Bukunya yang lain, yang mencerminkan kegigihannya adalah Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022). Setelah itu, dia terus menekuni pemikiran Soekarno dan Marhaenisme.

Menulis banyak artikel dan buku antara lain yang terbaru adalah Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang ditulisnya bersama Rocky Gerung, dan rencananya akan dikupas dalam satu diskusi buku di Tangerang Selatan, Kamis besok.

Ketika mendengar kabar duka yang mengagetkan itu, saya bergerak ke RSPAD. Lia dan Didik masih berada di ruang emergensi.

Di depan kami Angga tidur terbujur dengan tenang. Saya berdoa dan mengirimkan Al Fatihah untuknya. Lia tampak sangat tabah, dan dia menceritakan detik-detik terakhir suaminya pergi.

Saya terus membayangkan bagaimana dia menulis di saat-saat terakhirnya, laptop yang masih menyala, dan bangkit dari kursi lalu sesaat kemudian kakinya goyah, limbung sesaat, dan jatuh tergeletak di lantai.

Saya percaya saat itu dia bergulat dengan pemikiran dan juga bertempur dengan kata-kata yang harus dituliskannya untuk menjadi abadi.

Pergi saat berkarya, adalah kepergian yang indah bagi seorang intelektual. Selamat jalan, kawan. Karyamu akan selalu hidup dalam perdebatan dan sanjungan.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.