
Oleh Muhammad Syarkawi Rauf, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) 2015-2018, pernah menjadi Direktur Utama BERDIKARI dan Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI/IX dan kini aktif sebagai Chairman of Asian Competition Institute (ACI).
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) mengguncang tatanan politik global yang selama ini dibangun berdasarkan aturan (rule based) yang disepakati secara internasional.
Penangkapan oleh Delta Force, pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dan Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen AS itu dikhawatirkan meningkatkan risiko terhadap perekonomian global.
Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yaitu 303 miliar barel, lebih besar dari deposit minyak Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (209 miliar), Iraq (145 miliar ), dan Uni Emirat Arab (113 miliar).
Namun, dalam 50 tahun terakhir, sejak tahun 1970-an, kontribusi perekonomian Venezuela menurun dari 1% menjadi hanya 0,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global harga konstan sehingga risiko penangkapan Maduro terhadap perekonomian global menjadi relatif kecil.
Demikian juga dengan produksi minyak Venezuela yang mengalami penurunan dari 3,5 juta barel per hari (bph) pada tahun 1970-an, setara 8% dari total pasokan minyak global pada dekade 1970–1980-an menjadi hanya 1 juta bph di peringkat 18 dunia.
Hingga saat ini, efek penangkapan Maduro terhadap harga komoditas minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) crude oil berujung kenaikan sebesar 1,7% yaitu menjadi US$61,76 per barel untuk minyak Brent dan US$58,32 per barel untuk WTI.
Penangkapan Maduro membuat outlook sektor energi menjadi positif dalam jangka menengah karena ekspektasi investasi pada infrastruktur perminyakan akan meningkat sehingga harga saham perusahaan-perusahaan minyak AS mengalami kenaikan.
Tidak hanya itu, ekspektasi peningkatan pengeluaran di bidang pertahanan akibat serangan AS ke Venezuela mendorong saham-saham perusahaan bidang pertahanan juga mengalami peningkatan.
Potensi Peningkatan Produksi Minyak Dunia
Selain itu, harga saham di Emerging Market Economies (EMEs) mengalami kenaikan karena penguasaan cadangan minyak bumi terbesar dunia oleh AS dan adanya potensi peningkatan produksi minyak dunia.
Hal ini membuat ekspektasi harga minyak dunia mengalami penurunan yang menguntungkan negara-negara importir minyak dunia.
Bahkan beberapa aset yang dianggap sebagai safe haven asset (asset yang dianggap aman karena harganya yang stabil) trennya naik.
Misalnya, mata uang dolar AS yang tercermin pada kenaikan US dollar index (DXY) sebesar 0,2%, harga emas dan perak juga mengalami peningkatan berdasarkan data Trading Economics pada Senin, 5 Januari 2026.
Ekspektasi risiko yang besar terhadap perekonomian global dan EMEs, termasuk Indonesia dapat terjadi dalam jangka menengah, tergantung pada respon pemerintahan baru Venezuela terhadap ultimatum presiden Trump untuk kooperatif atau tetap memilih sikap berseberangan dengan pemerintah AS.
Artinya, jika pemerintah Venezuela yang baru di bawah presiden interim, Delcy Rodriguez bersikap berseberangan dengan kepentingan pemerintah AS maka risiko terbesarnya adalah mengganggu ekspor minyak Venezuela ke sejumlah negara.
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), ekspor minyak Venezuela yang terbesar ke China sekitar 68% dari total ekspor minyak mentahnya, hanya 23% ke AS, 4% ke Spanyol, 4% ke Cuba, dan hanya 1% ke negara lainnya.
Skenario Jika Venezuela Tak Kooperatif
Jika presiden interim Venezuela bersikap tidak koperatif, maka pasokan minyak ke China berpotensi terhambat yang mengganggu pasokan energi China.
Hal ini dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia secara signifikan mengingat China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara ketiga (permintaan naik) pada harga yang lebih tinggi.
Sejalan dengan ekonom, John Bernie dkk. dari Asian Development Bank Institute (ADBI) dalam riset berjudul “When the United State and the People’s Republic of China Sneeze: Monetary Policy Spillovers to Asian Economies”, respon otoritas China terhadap tekanan eksternal sangat berdampak pada perekonomian EMEs di Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai contoh, jika Delcy Rodriguez memilih sikap tidak koperatif terhadap presiden Trump maka serangan militer kedua akan dilancarkan yang akan mengganggu pasokan minyak ke China dan berpotensi mendongrak harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak lanjutan dalam jangka menengah terhadap inflasi di negara-negara EMEs, termasuk China.
Sehingga, respon kebijakan moneter EMEs adalah menaikkan policy rate (suku bunga acuan) yang akan mengurangi likuiditas perekonomian dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Risiko lain yang berpotensi dihadapi oleh perekonomian global, khususnya China jika sikap Delcy Rodriguez yang tidak koperatif adalah penurunan indeks harga saham China yang disebabkan oleh melemahnya faktor fundamental.
Baca Juga: 5 Negara Jadi Target Trump Setelah Venezuela, Indonesia Pilih Jadi 'Anak Baik'
Hasil riset John Bernie dkk. menunjukkan tingginya korelasi harga saham antara China dengan EMEs di Asia, khususnya Indonesia. Di mana, integrasi perekonomian China melalui equity market dengan perekonomian negara-negara Asia sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Akhir kata, mitigasi risiko terhadap perekonomian nasional akibat penangkapan Maduro, yaitu: Pertama, tidak perlu euphoria atas kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengingat fenonena all-time high (ATH) di pasar saham terjadi secara global, yaitu dialami oleh hampir semua pasar saham EMEs.
Kedua, jika skenarionya, presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez tidak koperatif maka harga minyak dunia akan naik, inflasi naik, dan pertumbuhan ekonomi melambat.
Sehingga, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5%-5,2% maka mesin pendorongnya adalah sisi fiskal melalui berbagai paket stimulus, khususnya kepada kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah.
Ketiga, mitigasi risko atas skenario harga minyak mentah dunia naik secara signifikan, mengingat pada saat yang bersamaan Iran sebagai pemilik cadangan minyak nomor tiga terbesar dunia juga menghadapi potensi perang baru dengan AS dan Israel.
Demikian juga dengan Saudi Arabia sebagai produsen minyak terbesar dunia terlibat dalam konflik Yaman, khususnya dengan UAE.
Hal ini membuat inflasi dan suku bunga berpotensi naik, sehingga untuk mempertahankan pertumbuhan investasi secara nasional maka pilihannya adalah insentif pajak dan kemudahan birokasi untuk mengkompensasi kenaikan biaya bunga.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.