
Oleh Moksen Idris Sirfefa, tokoh intelektual dari Papua, yang pernah menjadi bagian Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 1995-1997 & 1997-1999. Aktivis yang akrab disapa Ochen ini kini menjadi anggota Dewan Pakar Majelis Nasional Korps Alumni HMI (KAHMI).
Suatu hari, tepatnya 24 Juni 2019, secara kebetulan, saya dan Velix Wanggai bertemu Bahlil di atas pesawat dalam perjalanan dari Jayapura ke Jakarta. Kami berdiskusi sepanjang perjalanan kurang lebih 5 jam tak terasa kami tiba di Soekarno-Hatta.
Hari itu juga saya posting di laman facebook dengan status: "A Long Discussion on the Glory of the Spice Road: Banda-Ternate-Tidore-Fakfak", tentu pula pembicaraan kami menyangkut percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia.
Selaku ketum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Bahlil sangat pede dan pandé menceramahi saya dan Velix selaku seniornya dari Papua.
Apalagi dia baru sebulan lalu dipuji cerdas oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo sebagai calon menteri pada acara 'bukber' dan silatnas HIPMI, 25 Mei 2019 di tempat bergengsi, Ritz Carlton Jakarta.
Di ujung ceramahnya, saya bilang, "ternyata ade ko pandé juga ee...!" Dia menimpali,"bah abang macam tra percaya saya ka?"
Sejak kecil, remaja dan menjadi aktivis HMI, anak ini angin-anginan. Lincah dan gesit, sehingga perkara "cari uang", ia memang paten punya.
Ia pernah menjadi bendahara umum PB HMI (2001-2003) dan bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I partai Golkar Papua (2009-20014).
Ia satu-satunya menteri dalam sejarah republik yang dilantik 3 kali dalam jabatan setingkat menteri di masa kepresidenan yang sama: kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menteri investasi, dan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM) di periode kedua Jokowi (2019-2024).
Blak-blakan Dipuji Presiden

Lagi-lagi memasuki era kepresidenan Prabowo, pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) partai Golkar ke-61, 6 Desember 2025, sang presiden secara blak-blakan memuji Bahlil sebagai orang yang sangat cerdas.
Mungkin hanya dua presiden di Indonesia, Jokowi dan Prabowo, yang memuji menterinya secara blak-blakan di depan publik.
Saya kira, untuk sementara ini tak ada pejabat negara di Indonesia paling viral selain menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Di antara 4 menko, 30 menteri dan belasan kepala badan setingkat menteri, Bahlil adalah menteri yang setiap saat dikuntit wartawan. Mereka sangat ingin mendengar stetmen-nya.
Tetapi banyak juga buzzer yang ingin menunggu bola muntah, kapan dia salah melangkah. Yang terakhir ini terkadang dia dituduh salah, sehingga pihak lawan punya alasan melakukan perundungan (bullying) lewat berita dan meme di media sosial.
Pengalaman menujukan fenomena hukum rimba politik di Indonesia, kalau muncul tokoh publik yang hebat/tampil beda, sepertinya ia mengganggu kemapanan.
Tokoh seperti ini biasanya tak bertahan lama. Setahun atau dua tahun, langsung senyap dari popularitasnya di panggung politik. Ia pasti dihajar tanpa ampun. Bahlil beda dengan preposisi ini.
Ia berprestasi tapi hampir setiap hari dikecam di media sosial, meski yang mengecamnya belum tentu paham. Para partner ini tak mampu bertahan jika berhadapan secara face to face, beradu argumentasi dengannya.
Digiring ke Perangkap Kontroversi

Ia seringkali digiring untuk masuk ke dalam perangkap kontroversi tetapi ia selalu lolos dalam jebakan itu.
Kasus Rempang (2023) dan Raja Ampat (2025) sengaja menggiring Bahlil ke dalam perangkap kontroversi itu tapi ia mampu mengatasi kisruh kedua kasus itu dan menjelaskan duduk soalnya secara terang-benderang.
Di beberapa momentum publik, baik di pertemuan partai, di gedung parlemen atau di televisi, ia selalu tampil persuasif. Celetukan joke-nya yang khas bisa jadi merupakan teknik bagaimana dia membuat lawan bicaranya tidak merasa kalah.
Suasana yang mulanya serius tegang kembali cair dan mengalir. Sebuah nature yang jarang dimiliki figur pejabat negara. Bahlil mengalami lompatan kapasitas (capacity leap) yang sangat cepat, sehingga manuvernya tak terkejar oleh yang lain.
Padahal, dia sendiri mengaku berasal dari institusi pendidikan yang tidak terlacak di Google. (NOTE: Saat ini STIE Port Numbay Jayapura Papua sudah terlacak di Google.)
Terlepas dari kemampuan retorika dan kepemimpinannya, Bahlil adalah orang yang rendah hati.
Sekelas menteri, ia bisa bersenda-gurau dengan orang-orang kecil, termasuk rekannya sesama sopir angkot di terminal pasar Tumburuni di kampung halamannya di Fakfak.
Bahlil juga suka bercanda atau guyon. Seorang teman di lingkungan Istana Presiden menceritakan, kalau presiden lagi stres memikirkan negara, menteri yang dipanggil adalah Bahlil.
Di istana, bukan masalah pelik yang ditanyakan presiden padanya, tapi presiden ingin mendengar guyonannya. Kata teman tadi, candaan dan guyonan Bahlil bisa membuat sang presiden terpingkal-pingkal. Cuma tidak disebut presiden siapa!
Arti Sebuah Nama

Pujangga Inggris, William Shakespeare, pernah mengatakan, "What's in a Name?" tentu cocok untuk mengulik nama Bahlil. Tapi sebelum sampai kesana, saya justru melihat yang pintar memilih nama Bahlil adalah ayahnya, La Hadalia.
Sepertinya sang ayah memperoleh wangsit, kasyf, kemampuan laduní yang mampu menerawang alam gaib dan mengaca masa depan, bahwa nama itu cocok di era disrupsi sekarang.
Mungkin pula satu-satunya warganegara Indonesia yang bernama Bahlil hanyalah dia seorang. Sebab secara sosiologis, nama Bahlil di Indonesia identik dengan bodoh, dungu dan tolol.
Sama dengan nama Abunawas, yang di Indonesia identik dengan 'Abuleke', istilah yang sering dipakai Bahlil yakni tukang tipu, putar-balik dan segala hal muslihat.
Padahal Abunawas (Abû Nawâs) adalah seorang penyair Arab Persia terkemuka, seorang bijak bestari sekaligus sufi jenaka pada era kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad (756-814 M). Nama lengkapnya Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakamí.
Ia masyhur berkat karya sastra klasik, kecerdikan serta kisah-kisah lucu yang sering membuat ia dekat dan paling sering berinteraksi dengan Khalifah Harûn al-Rasyîd dalam memecahkan masalah-masalah negara.
Jika Bahlil pintar memoles spiritualitasnya, ia bisa selevel Abunawas. Kehadiran Bahlil dari sopir angkot yang sering mengemis minyak untuk angkotnya di Fakfak, kini menjadi penentu kelimpahan minyak di Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, ia mampu mendongkrak lifting minyak Indonesia pada 2025 melampaui target APBN, yakni mencapai 605.300 per hari (bph), pertama kali sejak 2008.
Indonesia Perlu Extraordinary Policy

Indonesia membutuhkan banyak "orang gila" dengan kebijakan gila. Sebab hanya dengan kegilaan, suatu kebijakan yang melampaui kebiasaan (extraordinary policy) dapat diambil kemudian dieksekusi dengan cara gila pula.
Biasanya kegilaan seperti ini mengguncang kemapanan dan mengusik kenyamanan pihak-pihak yang selama ini memonopoli kekayaan sumberdaya alam bangsa dan kekayaan negara secara tidak adil.
Kebijakan yang dilakukan "orang gila" kalau dilihat dari permukaan (syariat) sangat bertentangan dengan kebiasaan dan akal sehat. Namun, jika ditelusuri secara substansi (hakikat), justru disanalah kebenaran hakiki (makrifat) ditemukan.
Inilah makna dari kata Bahâlil atau Bahlûl/Buhlūl yang berarti orang gembira dan banyak tertawa, orang gila, tak waras dan pandir. tetapi juga seorang terhormat yang menghimpun sifat-sifat kebaikan dalam dirinya.
Sebuah pepatah Arab menyatakan : وكن كالباهاليل في حالهم مع الوقت يجرون كالعاقل
"Jadilah kau bak "orang gila", keadaan (hâl) mereka berjalan bersama waktu layaknya orang berakal."
Boleh jadi kata 'pandir' yang berarti 'bodoh' dalam pengucapan orang-orang timur Indonesia menjadi pandé yakni "orang pintar" (orang pandai).
Rasulullah Muhammad S.A.W. juga disebut Nabi yang ummí, yang diartikan tidak pandai membaca (illiterate) tetapi mengapa beliau memiliki kepiawaian di dalam memimpin?
Baca Juga: Mengapa Gagasan Koalisi Permanen ala Golkar, Usulan Bahlil, Bersifat Licik?
Sang pandé akan mengatakan kepada mereka yang nyinyir pada setiap kebijakannya, bahwa "kalian akan sadar sendiri tentang apa yang kalian katakan padaku, melalui bermacam meme dan fitnah. Kalian salah menilaiku."
Sebuah mahfudhzât berbunyi : لميزت بيني وبين الذِيْ يجلي لك الحق كالباطل
"Niscaya bisa kau bedakan diriku dengan mereka yang memperlihatkan kebenaran padamu tampak seperti kesalahan."
Para buzzer sering terkecoh dan bingung dengan "jurus mabok" yang dilakukannya. Target mereka untuk menjatuhkannya selalu terpental tak mempan.
Selaku senior, saya pernah menasihatinya, "pastikan dirimu baik. Dengan modal "baik", kejahatan apapun yang akan mencelakakanmu tak akan mampu menjatuhkanmu."
Dalam keseharian ('âlam al-syahâdah) mereka menetap bersama ruh hewaninya.
Hanya makan, minum dan berlaku berdasarkan insting hewaninya seperti hewan yang secara fitrah mengetahui apa saja yang bermanfaat dan berbahaya bagi jasmani indrawinya, dengan tanpa kontrol, pertimbangan dan kemampuan berpikir.
Mereka berbicara tentang hikmah tanpa memiliki sedikitpun ilmu tentangnya dan tanpa ada maksud memberi manfaat apapun kepada orang lain.
Hal ini sebagai hikmah bagi kita bahwa segala perkara yang kita lakukan bukan karena otoritas kita. Diri kita hanyalah hamba yang digerakkan melalui pengaturan dari Sang Maha Bijaksana (Hakîm). (Bersambung)***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.